World Bank: Tekanan Energi Picu Kenaikan Harga Plastik, UMKM Terdampak

12 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tekanan harga energi global mulai merembet ke berbagai sektor, termasuk bahan baku plastik yang banyak digunakan dalam aktivitas usaha. Kenaikan ini dinilai sebagai dampak berantai akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok dunia.

Dalam paparan Bank Dunia, Kepala Ekonom Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo menyebut lonjakan harga minyak dan gas telah mendorong kenaikan biaya produksi di berbagai sektor.

“Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi, termasuk energi, pupuk, dan pangan,” ujarnya dikutip Kamis (9/4/2026).

Selain itu, hambatan jalur perdagangan dan meningkatnya biaya transportasi turut memperbesar tekanan biaya. Kondisi ini membuat harga barang, termasuk bahan baku turunan energi seperti plastik, ikut terdorong naik.

Bank Dunia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik akan melambat pada 2026 di tengah tekanan global tersebut.

Tekanan biaya ini juga mulai terasa di dalam negeri. Kementerian Keuangan mencatat sektor manufaktur masih bertahan di zona ekspansi pada Maret 2026, meski melambat akibat kenaikan biaya input dan gangguan pasokan global.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, mengatakan, peningkatan biaya tersebut dipengaruhi kenaikan harga energi dan keterlambatan bahan baku yang menahan produksi.

Di sisi hulu, pemerintah mengakui kenaikan harga plastik dipicu ketergantungan pada impor bahan baku. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut salah satu bahan baku plastik, yakni nafta, masih banyak dipasok dari Timur Tengah yang kini terdampak konflik.

“Bahan baku plastik itu salah satunya Naphtha. Kita impor dari Timur Tengah,” ujarnya di Kantor Staf Presiden.

Menurut dia, gangguan pasokan tersebut membuat harga naik dan berdampak ke berbagai sektor. Pemerintah kini berupaya mencari alternatif pasokan dari negara lain, seperti Afrika, India, dan Amerika Serikat.

“Ini butuh waktu, karena tidak bisa langsung pindah dari satu kawasan ke kawasan lain,” katanya.

Ia menambahkan, dampak kenaikan harga plastik tidak hanya dirasakan produsen, tetapi juga merembet ke sektor hilir hingga konsumen. “Ini tidak hanya produsen. Industri hulu dan konsumennya semua terdampak,” ujarnya.

Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan harga bahan baku seperti plastik memang mengikuti dinamika industri petrokimia yang bergantung pada siklus global.

“Kalau bahan baku itu memang berubah harganya. Itu berbasis siklus, terutama untuk petrokimia,” ujar Airlangga.

Ia mengingatkan kenaikan tersebut berpotensi berdampak pada pelaku usaha, khususnya UMKM yang menggunakan plastik sebagai kemasan produk.

“Kalau plastik masuk dalam packaging, nanti efeknya ke UMKM juga,” katanya.

Ekonom Yanuar Rizky menilai tekanan ini tidak hanya berasal dari energi, tetapi juga merembet ke sektor lain yang saling terkait, termasuk pangan.

“Ini bukan hanya soal energi, tapi kembar siam dengan pangan. Dampaknya ke inflasi,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut pada akhirnya menekan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah yang semakin rentan dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, Bank Dunia juga menilai kenaikan harga energi berdampak lebih besar pada kelompok berpenghasilan rendah karena porsi pengeluaran mereka untuk kebutuhan dasar lebih besar.

Jika tekanan berlanjut, dampaknya bisa meluas. Bank Dunia memperkirakan kenaikan harga minyak berpotensi menekan pendapatan tenaga kerja di kawasan hingga sekitar 3 hingga 4 persen.

Dengan tekanan biaya yang bersumber dari energi dan faktor global, kenaikan harga plastik menjadi bagian dari efek berantai yang mulai dirasakan, baik oleh pelaku usaha maupun masyarakat.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |