Farah Farouk Alwyni
Politik | 2025-04-05 18:40:26

Qatar memiliki sejarah panjang mengenai perkembangan politik internalnya. Munculnya media di era revolusi teknologi informasi, digitalisasi, dan perkembangan jaringan telah membentuk model diplomasi baru yang mengandalkan peran media sebagai alat utama dalam membangun pengaruh dan komunikasi global.
Dalam studi tradisional, diplomasi diartikan sebagai negosiasi. Pendiri diplomasi Inggris kontemporer, Harold Nicolson, mendefinisikan diplomasi sebagai “penanganan hubungan internasional melalui negosiasi”. Begitupun dengan Hans J. Morgenthau, pendiri teori realis hubungan internasional, menekankan bahwa diplomasi adalah “seni persuasi, kompromi, dan penggunaan kekuatan”.
Fungsi paling mendasar dari media adalah komunikasi, dan kemajuan teknologi telah meningkatkan efektivitasnya dalam hal kecepatan, jangkauan, dan akurasi. Kehadiran diplomasi media sebagai bentuk diplomasi modern telah mengubah cara kerja diplomasi dari yang sebelumnya bersifat tertutup dan rahasia menjadi lebih terbuka dan transparan. Selain itu, platform diplomasi juga mengalami pergeseran, dari yang dahulu berbasis dokumen dan pertemuan formal menjadi berbasis jaringan dan media digital. Badan utama yang terlibat dalam diplomasi pun kini tidak hanya terbatas pada negara-bangsa, tetapi juga mencakup organisasi internasional, perusahaan transnasional, dan organisasi non-pemerintah (NGO).
Al Jazeera, salah satu media Qatar, telah membangun posisi dominan dalam diplomasi media dengan mempromosikan integrasi media cerdas, kebebasan pers, serta peningkatan identitas ideologis. Sejak tahun 2001, Al Jazeera berkomitmen pada transformasi jaringan dan secara bertahap menyesuaikan strategi komunikasi globalnya. Upaya ini mencakup optimalisasi distribusi jaringan komunikasi, pembangunan kolaboratif lembaga pemikir media, peningkatan kapasitas kolaborasi antar-departemen, serta peningkatan produktivitas berita asli. Langkah-langkah ini menjadi dasar perencanaan platform media terintegrasi Al Jazeera.
Menjelang ulang tahun ke-23 pendiriannya pada November 2019, komunikasi internasional Al Jazeera telah berkembang menjadi lebih profesional, sistematis, komprehensif, dan berstandar internasional. Jaringan komunikasi globalnya pun telah terbentuk secara menyeluruh. Saat ini, Al Jazeera memiliki 6 saluran utama, yaitu Al Jazeera News, Al Jazeera English, Al Jazeera Documentary, Al Jazeera Mubasher, Al Jazeera Balkans, dan AJ+ Arabic. Al Jazeera menjangkau jutaan pemirsa global dengan 70 kantor di seluruh dunia dan sekitar 4.000 karyawan.
Al Jazeera selalu berupaya menjaga keseimbangan antara kebebasan pers dan agenda diplomasi. Al Jazeera telah beroperasi di bawah konstitusi Qatar pada tahun 1996 yang menjamin kebebasan pers sebagai bagian dari upaya mendukung keberlangsungan saluran tersebut. Dalam praktik editorialnya, Al Jazeera mengusung gaya pemberitaan yang menekankan kebebasan berpendapat, fokus pada isu-isu kemanusiaan, serta sikap inklusif yang memungkinkan berbagai sudut pandang ditampilkan di layar. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman publik tetapi juga memperluas basis pemirsa globalnya.
Namun, seperti halnya media lainnya di dunia, Al Jazeera tidak terlepas dari pengaruh dan dinamika politik. Setiap organisasi media pasti memiliki kecenderungan politik, baik secara eksplisit maupun implisit, yang melayani kepentingan tertentu, termasuk kelas sosial, partai politik, pemerintah, atau kelompok kepentingan lainnya. Meskipun Al Jazeera mengklaim berpegang pada prinsip kebebasan pers, faktanya, agenda dan kecenderungan pelaporan berita internasionalnya sering kali selaras dengan kebijakan luar negeri Qatar yang bersifat beragam dan seimbang.
Sebagai contoh, dalam krisis pemutusan hubungan diplomatik tahun 2017, Al Jazeera mengambil posisi yang mendukung Qatar dalam konflik dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir. Media ini secara konsisten mengangkat agenda Krisis Teluk untuk memperoleh dukungan publik global. Meskipun negara-negara pemblokir mencoba untuk menutup Al Jazeera dan membatasi penyebaran informasi yang datang dari Qatar, stasiun berita ini tetap menjadi saluran utama bagi masyarakat internasional untuk mendapatkan informasi mengenai blokade dan situasi di Qatar.
Selain itu, untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri Qatar, Al Jazeera menyesuaikan strategi pemberitaan sesuai dengan dinamika konflik yang terjadi. Dengan cara ini, Al Jazeera mampu memainkan peran strategis dalam menjelaskan posisi Qatar, menyebarluaskan informasi, mengarahkan opini publik, serta membantu koordinasi hubungan diplomatik guna meredakan ketegangan. Melalui liputan yang luas dan objektif, Al Jazeera membantu menjelaskan sudut pandang Qatar tentang krisis yang dihadapinya dan menghadirkan narasi yang berbeda dari yang disampaikan oleh negara-negara pemblokade.
Selain itu, Al Jazeera juga berperan dalam mengungkapkan berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi selama blokade, termasuk pengusiran warga Qatar dari negara-negara pemblokir dan dampak ekonomi dari pemutusan hubungan diplomatik. Keberanian Al Jazeera dalam meliput situasi ini tidak hanya membantu memperkuat posisi Qatar di mata dunia, tetapi juga menunjukkan bagaimana media dapat menjadi alat penting dalam diplomasi internasional, terutama di saat-saat krisis.
Dalam hal ideologi, Al Jazeera secara konsisten menganut garis nasionalisme Pan-Arab dan menunjukkan karakter budayanya dengan menyebarkan pengetahuan tentang bahasa, budaya, dan sejarah Arab melalui program dokumenter, wawancara, dan opini publik. Meskipun sering dikritik oleh pemerintah berbagai negara karena pemberitaannya yang bebas mengenai konflik regional, Al Jazeera tetap berperan dalam memperkuat rasa identitas dan kebersamaan bangsa Arab serta budaya Arab di antara masyarakat kawasan tersebut, termasuk para imigran Arab di Eropa dan Amerika Utara.
Sebagai contoh, selama Intifada Palestina kedua dan Perang Irak, Al Jazeera menjadi sumber utama berita bagi masyarakat Arab di seluruh dunia. Kecenderungan nasionalisme Pan-Arab dalam peliputannya sering kali memicu sentimen anti-Amerika di dunia Arab, yang pada akhirnya meningkatkan reputasi dan pengaruh Al Jazeera baik secara regional maupun global. Hal ini menunjukkan bahwa faktor budaya yang stabil, seperti identitas etnis dan keyakinan agama, memiliki pengaruh laten dalam komunikasi internasional Al Jazeera.
Selain mengubah dinamika media di dunia Arab, Al Jazeera juga memperluas jangkauannya ke dunia Barat melalui Al Jazeera English pada tahun 2006, yang bertujuan untuk menawarkan perspektif dari dunia Arab kepada audiens internasional. Al Jazeera English secara cepat mendapatkan pengikut, terutama di kalangan pemirsa yang menginginkan sudut pandang alternatif terhadap berita-berita internasional yang seringkali dipandang bias oleh media Barat. Dalam banyak hal, Al Jazeera English menawarkan liputan yang lebih mendalam dan beragam tentang isu-isu global seperti perubahan iklim, ketegangan geopolitik, dan masalah kemanusiaan, yang terkadang diabaikan atau tidak mendapat perhatian yang cukup oleh media besar lainnya.
Keberhasilan Al Jazeera dalam memperkenalkan narasi alternatif ini membuatnya menjadi platform media yang diakui secara global, meskipun tidak lepas dari kontroversi. Al Jazeera tidak hanya memberitakan peristiwa-peristiwa besar, tetapi juga menghadirkan cerita-cerita lokal dari berbagai negara yang jarang dijangkau oleh media mainstream.
Lebih dari sekadar saluran berita, Al Jazeera berfungsi sebagai salah satu alat utama dalam kebijakan luar negeri Qatar. Media ini tidak hanya berperan dalam membentuk opini publik global, tetapi juga memainkan peran penting dalam menonjolkan Qatar sebagai negara yang lebih progresif dan terbuka terhadap dunia internasional, meskipun tetap berpegang pada tradisi dan prinsip-prinsip keislaman. Lewat Al Jazeera, Qatar dapat membangun citra positif di luar negeri, sekaligus memberikan platform bagi berbagai suara yang mungkin terabaikan oleh media lainnya.
Melalui pendekatannya yang berani dan tidak takut mengkritik, Al Jazeera telah menunjukkan bahwa media dapat menjadi kekuatan besar dalam membentuk narasi politik global. Di sisi lain, keberadaannya juga memberikan Qatar kesempatan untuk mendominasi ruang perbincangan internasional, meningkatkan pengaruhnya sebagai pemimpin dalam dunia Arab, dan memperluas posisi strategisnya di panggung dunia.
Biodata Penulis:
Farah Farouk Alwyni
Mahasiswa Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam, Sekolah Kajian Stratejik dan Global
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.