Syaikh Ahmad Surkati: Pendidikan Sebagai Jalan Pembebasan Umat

18 hours ago 5

Image Qomaruddin

Sejarah | 2025-04-05 07:22:45

Lukisan wajah masa muda Syaikh Ahmad Surkati Al Anshori (Sumber: Qomaruddin)

Dalam sejarah perjuangan umat Islam di Nusantara, ada banyak tokoh yang berperan dalam membangun kesadaran kebangsaan dan melawan ketidakadilan kolonial. Namun, tidak banyak yang memahami bahwa perjuangan tersebut tidak selalu dilakukan dengan senjata, melainkan juga melalui pendidikan. Salah satu tokoh yang menempuh jalan ini adalah Syaikh Ahmad Surkati, ulama besar dari Sudan yang mendirikan Al Irsyad Al Islamiyyah.

Pendidikan Sebagai Alat Perlawanan

Syaikh Ahmad Surkati datang ke Hindia Belanda bukan sekadar untuk berdakwah, tetapi untuk mencerdaskan umat yang masih terbelakang akibat penjajahan. Ia menyadari bahwa penjajahan bukan hanya terjadi secara fisik, tetapi juga dalam aspek intelektual dan sosial. Oleh karena itu, pendidikan menjadi alat perlawanan yang paling efektif untuk membebaskan umat dari ketertinggalan.

Pada awal abad ke-20, pendidikan di Nusantara masih dikuasai oleh sistem kolonial yang hanya menguntungkan segelintir elite. Pendidikan Islam sendiri terpecah menjadi beberapa kategori, seperti pesantren tradisional yang fokus pada ilmu agama tetapi kurang membekali santri dengan keterampilan modern; sekolah kolonial yang hanya bisa diakses oleh kaum pribumi yang diseleksi oleh Belanda; serta sekolah Arab Hadrami yang lebih eksklusif untuk keturunan Arab.

Melihat kondisi ini, Surkati merasa perlu mendobrak batasan sosial yang mengekang akses ilmu. Ia mendirikan sekolah-sekolah Al Irsyad sebagai tempat belajar yang terbuka bagi siapa saja, tanpa membedakan status sosial atau etnis.

Prinsip Pendidikan Surkati: Mencetak Generasi Pembebas

Sebagai seorang reformis, Surkati menanamkan prinsip bahwa pendidikan harus menghapus diskriminasi. Ia membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi semua kalangan, termasuk pribumi yang sebelumnya sulit mengakses pendidikan modern. Baginya, pendidikan tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir elite atau kelompok tertentu.

Ia juga menekankan bahwa Islam adalah kekuatan pembebasan. Islam tidak boleh dipahami semata sebagai kumpulan ritual, melainkan sebagai kekuatan sosial yang mampu membebaskan umat dari penjajahan, ketertinggalan, dan ketidakadilan. Dalam semangat ini, pendidikan Islam menjadi sarana strategis untuk membangun kemandirian umat.

Lebih dari itu, Surkati menumbuhkan pola pikir kritis di kalangan murid-muridnya. Ia tidak ingin pendidikan hanya melahirkan penghafal, melainkan pemikir. Ia mengajarkan bahwa umat Islam harus mampu bertanya, menganalisis, dan menemukan solusi bagi persoalan zaman.

Yang tak kalah penting, Surkati menolak ketidakadilan sosial. Ia dengan tegas melawan sistem feodal yang membedakan kedudukan manusia berdasarkan keturunan. Dalam pandangannya, semua manusia sama di hadapan Allah dan memiliki hak yang sama untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi.

Dampak dan Warisan Surkati

Sekolah-sekolah Al Irsyad yang didirikannya tidak hanya mencetak santri yang paham agama, tetapi juga individu yang memiliki kesadaran sosial dan nasionalisme. Banyak murid-muridnya yang kemudian terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, baik melalui jalur politik, pendidikan, maupun sosial.

Kini, ketika penjajahan dalam bentuk kolonialisme fisik telah berakhir, kita masih menghadapi bentuk "penjajahan" baru dalam berbagai aspek. Dalam bidang ekonomi, kita menghadapi ketimpangan dan ketergantungan pada kapitalisme global. Dalam bidang budaya, kita menghadapi gempuran nilai-nilai asing yang mengikis identitas umat. Dalam bidang intelektual, dogmatisme dan radikalisme masih menjadi hambatan besar bagi kebebasan berpikir dalam Islam.

Maka, semangat Surkati harus dihidupkan kembali. Pendidikan Islam tidak boleh hanya menjadi tempat hafalan dan ibadah, tetapi harus menjadi pusat pemikiran kritis, inovasi, dan pemberdayaan sosial.

Mewarisi Gagasan Surkati

Seperti di masa kolonial, hari ini umat Islam tidak boleh hanya menjadi objek sejarah, tetapi harus mengambil peran sebagai penggerak perubahan. Surkati telah menunjukkan jalannya, bahwa pendidikan adalah alat perjuangan paling strategis untuk membangun umat yang merdeka dan mandiri.

Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah kita memahami warisan Surkati, tetapi apakah kita siap untuk meneruskannya?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |