REPUBLIKA.CO.ID, BANJARBARU — Gedung baru berlantai dua itu memiliki 44 kamar dengan kapasitas 176 orang. Setiap kamar dirancang menyerupai fasilitas hotel bintang tiga, lengkap dengan tempat tidur, lemari, meja, kursi, serta kamar mandi di dalam ruangan.
Bangunan yang berdiri di kompleks Asrama Haji Kelas I Embarkasi Banjarmasin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, tersebut dibangun melalui skema pembiayaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) 2025. Gedung itu diresmikan Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf pada Jumat, 10 Juli 2026.
Namun, bagi pria yang akrab disapa Gus Irfan itu, tantangan terbesar bukan lagi membangun gedung. Pemerintah harus memastikan setiap bangunan yang telah dibiayai negara tidak menganggur setelah musim haji berakhir.
“Asrama haji seharusnya tidak hanya menjadi pusat pengeluaran anggaran pemerintah, tetapi perlu berkembang menjadi sumber penerimaan negara melalui pengelolaan fasilitas yang optimal,” ujar cucu pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari ini seusai peresmian.
Embarkasi Banjarmasin pada musim haji 2026 melayani 6.804 jamaah asal Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yang terbagi dalam 19 kelompok terbang. Penambahan gedung baru diharapkan meningkatkan daya tampung sekaligus kenyamanan jamaah saat menjalani proses pemberangkatan dan pemulangan.
Akan tetapi, gagasan yang disampaikan Gus Irfan melampaui kebutuhan satu musim haji. Ia ingin lebih dari 30 asrama haji yang tersebar di Indonesia bekerja sepanjang tahun. Asrama haji tidak hanya menjadi tempat transit jamaah, tetapi berkembang sebagai pusat layanan atau service hub bagi jamaah umrah dan masyarakat umum.
Gagasan tersebut dapat ditempatkan dalam kerangka besar Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur. Kedaulatan diwujudkan melalui kemampuan negara mengelola sendiri infrastruktur pelayanan umat. Keadilan tercermin dari pemerataan kualitas layanan jamaah di berbagai wilayah. Sementara itu, kemakmuran dibangun melalui pengelolaan aset yang produktif, transparan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Aset yang Bekerja Sepanjang Tahun
Indonesia memiliki lebih dari 30 asrama haji dengan kondisi dan kapasitas yang berbeda-beda. Dari jumlah tersebut, sekitar 16 asrama berfungsi sebagai embarkasi pemberangkatan jamaah. Sebagian lainnya berstatus embarkasi antara, asrama transit, atau fasilitas pendukung yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Gus Irfan mengakui Kementerian Haji dan Umrah mewarisi aset dalam kondisi yang tidak seragam. Ada asrama yang memiliki fasilitas memadai, tetapi ada pula bangunan yang memerlukan penyempurnaan dan perawatan karena telah berusia cukup lama. “Membangun itu bukan hal yang mudah, tetapi merawat dan memaksimalkan penggunaannya jauh lebih sulit,” kata dia pada Jumat, 10 Juli 2026.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan paradigma dalam pengelolaan asrama haji. Ukuran keberhasilan tidak dapat berhenti pada jumlah gedung yang dibangun atau diresmikan. Pemerintah juga perlu menghitung tingkat pemanfaatan kamar, kualitas pemeliharaan, penerimaan negara yang dihasilkan, serta manfaat yang dirasakan masyarakat di luar musim haji.
Sesungguhnya fondasi modernisasi pelayanan asrama haji telah dibangun sejak pengelolaan haji masih berada di bawah Kementerian Agama. Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri saat itu, Muhammad Zain, memperkenalkan Manajemen Unit Layanan Akomodasi Asrama Haji (Munakosah) sebagai sistem digital untuk mempercepat penempatan kamar jamaah di asrama haji.
sumber : Antara

53 minutes ago
4
















































