Bagian 2: Ruang yang tak Pernah Benar-Benar Hilang

4 hours ago 9

Image Jejevc

Kisah | 2026-07-06 19:57:51

Hubungan Arya dan Zizah berjalan sederhana.

Tak banyak kata-kata manis dan tak banyak janji yang diucapkan. Arya lebih suka membuktikan lewat tindakan, sementara Zizah perlahan belajar membuka hati yang sejak lama dipenuhi keraguan. Mereka sama-sama belajar; Arya belajar mencintai dengan sabar, sedangkan Zizah belajar percaya setelah berkali-kali dikecewakan.

Semuanya terasa baik-baik saja.

Hingga suatu hari, masa lalu datang mengetuk kembali.

Namanya Marsha.

Perempuan yang pernah menjadi cinta pertama Arya. Perempuan yang pernah mengajarkan arti mencintai dengan begitu dalam, sekaligus meninggalkan luka yang paling sulit disembuhkan.

Dulu, Marsha memilih pergi.

Bukan karena mereka berhenti saling menyayangi, melainkan karena Marsha memilih laki-laki lain. Keputusan itu menghancurkan Arya. Bukan hanya kehilangan seseorang yang dicintainya, tetapi juga kehilangan kepercayaan bahwa cinta akan selalu memilih untuk bertahan.

Sejak saat itu, Arya tak pernah lagi membicarakan Marsha.

Ia mengubur semua kenangan itu sedalam mungkin.

Namun, mengubur bukan berarti menghapus.

Suatu sore, saat Zizah menunggu jemputan di warung depan sekolah, ia melihat Arya berbicara dengan seorang perempuan di seberang jalan.

Mereka tidak saling menggenggam tangan. Tidak ada sentuhan yang berlebihan. Namun cara mereka saling menatap membuat Zizah merasa ada cerita yang belum benar-benar selesai.

Perempuan itu adalah Marsha.

Malam harinya, Arya memilih jujur.

"Tadi aku ketemu Marsha."

Zizah terdiam.

"Dia yang dulu... ninggalin kamu?"

Arya mengangguk pelan.

"Iya."

"Masih ada rasa?"

Arya tidak langsung menjawab.

Ia menatap langit dari balik jendela kamarnya.

"Aku nggak mencintainya lagi."

"Lalu kenapa kamu diam?"

Arya mengembuskan napas panjang.

"Karena mau sekeras apa pun aku menyangkal, Marsha tetap punya ruang dalam hidupku."

Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menggores hati Zizah.

Arya melanjutkan,

"Bukan ruang untuk kembali. Tapi ruang sebagai seseorang yang pernah mengubah jalan hidupku. Dia yang mengajarkanku rasanya dicintai, sekaligus rasanya dikhianati. Ruang itu nggak bisa dihapus, sama seperti bekas luka yang tetap ada meski sudah sembuh."

Zizah hanya menunduk.

Ia ingin percaya.

Namun pikirannya dipenuhi pertanyaan.

"Kalau ruang itu masih ada... apa suatu hari bisa terisi lagi?"

Hari-hari berikutnya, nama Marsha semakin sering muncul.

Awalnya hanya sebuah pesan singkat.

Kemudian telepon.

Lalu ajakan bertemu.

Arya selalu menceritakan semuanya kepada Zizah.

Ia tidak pernah menyembunyikan apa pun.

Namun justru kejujuran itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.

Setiap kali nama Marsha muncul di layar ponsel Arya, Zizah merasa ada bagian dari dirinya yang perlahan runtuh.

Ia mencoba bertahan.

Ia mencoba mempercayai Arya.

Bahkan berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa takut itu hanyalah luka masa lalunya yang kembali berbicara.

Namun kenyataannya, Marsha tidak datang hanya untuk meminta maaf.

Ia datang dengan harapan bisa kembali memiliki Arya.

Setelah hubungannya dengan laki-laki yang dulu ia pilih berakhir, Marsha mulai mencari Arya. Ia menghubunginya lebih dulu, mengajak bertemu, bahkan sengaja mengungkit kenangan-kenangan yang pernah mereka lalui bersama.

"Aku baru sadar," ucap Marsha suatu sore. "Nggak ada yang pernah nyayangin aku sebaik kamu."

Arya hanya terdiam.

"Kalau waktu bisa diulang, aku nggak akan ninggalin kamu."

Marsha seolah lupa bahwa dulu dialah yang memilih pergi.

Ia juga seolah lupa bahwa Arya kini telah bersama Zizah.

Namun alih-alih menjaga jarak, ia justru menganggap hubungan itu sebagai sesuatu yang masih bisa ia rebut kembali.

"Aku tahu kamu sama Zizah," ucapnya sambil tersenyum tipis. "Tapi bukannya dulu kamu juga pernah bilang kalau aku rumahmu?"

"Tapi kamu dulu yang pergi."

"Iya," jawab Marsha tenang. "Dan sekarang aku memilih kembali."

Sejak hari itu, Marsha semakin sering menghubungi Arya.

Ia sengaja mengirim foto-foto lama mereka, mengingatkan tempat-tempat yang pernah mereka datangi, bahkan mengirim pesan hingga larut malam.

"Aku kangen Arya yang dulu."

"Kalau waktu bisa diputar, aku nggak bakal ninggalin kamu."

"Aku yakin... hati kamu belum sepenuhnya bisa lupain aku."

Tak berhenti sampai di situ, Marsha bahkan beberapa kali sengaja menemui Arya di depan sekolah ketika tahu Zizah sedang menunggu jemputan di warung seberang.

"Aku tahu dia lihat kita," katanya santai.

Arya menoleh.

"Kamu sengaja?"

Marsha mengangkat bahu.

"Kalau dia benar-benar percaya sama kamu, harusnya dia nggak masalah, kan?"

Senyum tipis itu membuat Arya mulai sadar bahwa Marsha tidak sekadar ingin meminta kesempatan kedua.

Ia sedang menanamkan keraguan di hati Zizah.

Semakin hari, Marsha semakin berani.

"Aku nggak peduli berapa lama kamu sama Zizah."

"Aku cuma tahu... kamu pernah milik aku."

Kalimat itu membuat Arya terdiam.

Bukan karena ia ingin kembali.

Melainkan karena ia sadar, ketidaktegasannya justru memberi Marsha harapan yang seharusnya sudah lama berakhir.

Suatu malam, Zizah akhirnya bertanya.

"Kalau aku minta kamu berhenti menemui Marsha... apa kamu bisa?"

Arya menatapnya cukup lama.

"Aku cuma pengin semuanya selesai baik-baik."

"Atau... sebenarnya kamu belum siap kehilangan dia untuk kedua kalinya?"

Arya tidak menjawab.

Keheningan itu menjadi jawaban yang jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata.

Di tengah kebimbangannya, Kay menjadi orang pertama yang menegur Arya.

Kay adalah sahabat Arya sejak SMA. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Arya hancur ketika Marsha memilih laki-laki lain.

Di tengah kebimbangannya, Kay menjadi orang pertama yang menegur Arya.Kay adalah sahabat Arya sejak SMA. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Arya hancur ketika Marsha memilih laki-laki lain."Lo serius mau buka lagi pintu yang dulu dia tutup sendiri, Ar?"

Arya hanya menunduk.

"Dia bilang dia nyesel."

Kay tertawa pahit.

"Nyesel setelah hubungan dia gagal?"

Arya mengembuskan napas pelan. Dadanya terasa sesak, seolah setiap kalimat Kay memaksanya kembali mengingat luka yang selama ini ia kira telah sembuh.

"Ar, dia ninggalin lo demi orang lain. Sekarang dia balik seolah-olah semuanya bisa dimulai lagi. Terus lo masih kasih dia ruang?"

Arya menggenggam jemarinya erat. Bibirnya sempat terbuka seolah ingin membantah, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar.

"Lo tahu nggak?" lanjut Kay. "Yang paling nyakitin bukan kalau akhirnya lo balik sama Marsha."

"Tapi karena selama proses itu, Zizah dipaksa bertahan di hubungan yang hati pasangannya sendiri belum benar-benar selesai."

Ucapan Kay membuat Arya terpaku.

Tatapannya jatuh ke meja di hadapannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya bukan lagi korban dari masa lalu, melainkan penyebab luka bagi seseorang yang selama ini memilih bertahan di sisinya.

Dan kesadaran itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan yang pernah ditinggalkan Marsha.

"Gue bingung."

"Bingung itu wajar. Tapi jangan bikin Zizah jadi korban dari kebingungan lo."

Kay menatap sahabatnya dengan kecewa.

"Yang bikin gue marah bukan cuma karena Marsha datang."

"Tapi karena lo mulai membiarkan dia masuk lagi ke hidup lo, sementara ada perempuan yang setiap hari berjuang mempertahankan hubungan ini."

Arya kembali terdiam.

Kali ini bukan karena ia tak memiliki jawaban, melainkan karena semua yang dikatakan Kay adalah kenyataan yang selama ini ia hindari.

Di sisi lain, Zizah memilih memendam semuanya.

Ia menangis di pelukan Chiera.

Chiera adalah pacar Kay sekaligus sahabat dekat Zizah.

"Aku capek, Ra..."

Chiera memeluknya erat.

"Kamu nggak salah."

"Aku udah belajar percaya. Aku udah berusaha berhenti overthinking. Aku udah berusaha jadi seseorang yang dia butuhkan."

Suara Zizah bergetar.

"Tapi kenapa aku masih ngerasa kalah sama seseorang yang dulu bahkan memilih ninggalin dia?"

Air mata Chiera ikut jatuh.

Ia tahu, yang sedang dihadapi Zizah bukan hanya Marsha.

Melainkan hati Arya yang belum cukup tegas menutup pintu masa lalunya.

Malam itu Chiera menceritakan semuanya kepada Kay.

"Aku nggak tega lihat Zizah."

Kay menghela napas panjang.

"Yang paling menyakitkan bukan karena Marsha datang."

"Lalu?"

"Tapi karena Arya belum benar-benar menutup pintu untuk masa lalunya."

Hari demi hari, Arya semakin bimbang.

Di satu sisi ada Zizah, perempuan yang tetap memilih bertahan meski berkali-kali dilukai oleh rasa takutnya sendiri.

Di sisi lain ada Marsha, masa lalu yang terus memanggilnya kembali dengan penyesalan yang datang terlambat.

Arya mulai sadar bahwa yang ia hadapi bukan sekadar memilih antara dua perempuan.

Melainkan memilih antara masa lalu yang terus menariknya kembali dan masa depan yang telah berjuang tumbuh bersamanya.

Sementara itu, Zizah akhirnya memahami satu hal.

Terkadang, orang ketiga bukanlah orang yang baru datang.

Melainkan seseorang dari masa lalu yang kembali ketika pintu itu belum benar-benar ditutup.

Namun ia juga menyadari bahwa orang ketiga tidak akan pernah memiliki kesempatan jika seseorang yang kita cintai cukup tegas menjaga batas.

Sejak hari itu, Zizah belajar bahwa cinta bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang keberanian menentukan pilihan dan menjaga hati orang yang telah memilih tinggal.

Karena masa lalu memang tidak bisa dihapus.

Namun kita selalu memiliki pilihan untuk tidak membiarkannya kembali menghancurkan masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |