Belalang: Hama yang Ditakuti Petani, Camilan yang Dicari Banyak Orang

12 hours ago 12

Image Astri Harnov Putri

Kuliner | 2026-07-01 11:11:30

Oleh Astri H Putri, Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Andalas

Coba sebutkan satu serangga yang bisa membuat petani panik sekaligus membuat air liur orang lain menetes karena lapar. Jawabannya mungkin hanya satu: belalang.

Di satu sisi, ia adalah momok yang ditakuti sejak zaman dahulu — kisah-kisah tentang wabah belalang yang menghabiskan seluruh ladang dalam hitungan jam sudah tercatat dalam sejarah berbagai peradaban. Di sisi lain, di banyak daerah di Indonesia, belalang justru digoreng kering, dibumbui, dan disantap sebagai camilan gurih yang dicari-cari.

Bagaimana satu makhluk kecil bisa punya dua wajah yang begitu bertolak belakang?

Mari kita mulai dari sisi yang lebih dikenal: belalang sebagai hama.

Tidak semua belalang berbahaya bagi tanaman — tapi beberapa spesies tertentu, terutama belalang kembara (Locusta migratoria) dan beberapa jenis belalang dalam famili Acrididae, bisa menjadi ancaman serius bagi pertanian. Yang membuat mereka menakutkan bukan sekadar nafsu makannya, tapi kemampuannya berkembang biak dan bergerak dalam jumlah masif.

Dalam kondisi tertentu — biasanya dipicu oleh musim kering yang diikuti hujan, atau ketersediaan vegetasi yang melimpah — populasi belalang bisa meledak drastis dan berubah perilaku menjadi bentuk yang disebut fase gregaria: mereka berkumpul, bergerak bersama dalam kawanan besar, dan menyerbu lahan pertanian secara kolektif.

Satu kawanan belalang dalam skala besar bisa melahap vegetasi dalam jumlah sangat besar setiap harinya, dan mampu berpindah puluhan kilometer mengikuti arah angin. Sejarah mencatat berbagai wabah belalang yang menghancurkan hasil pertanian di berbagai belahan dunia, dari Afrika hingga Timur Tengah, menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar dan bahkan memicu krisis pangan di beberapa wilayah.

Di Indonesia sendiri, serangan belalang kembara pernah beberapa kali dilaporkan di sejumlah daerah, meski skalanya umumnya tidak sebesar wabah di benua Afrika. Tetap saja, bagi petani yang lahannya terdampak, kerugiannya terasa sangat nyata — tanaman yang sudah dirawat berbulan-bulan bisa ludes dalam waktu singkat.

Sekarang mari berpindah ke sisi yang sama sekali berbeda.

Di Gunungkidul, Yogyakarta, belalang bukan musuh — ia justru komoditas kuliner yang dicari wisatawan dan penduduk lokal. Belalang kayu yang ditangkap dari ladang dibersihkan, lalu digoreng kering dengan bumbu khas hingga renyah. Rasanya gurih, teksturnya seperti kerupuk, dan menjadi salah satu kuliner ekstrem yang justru menjadi daya tarik wisata kuliner daerah tersebut.

Fenomena makan serangga ini punya nama ilmiah: entomophagy. Dan ternyata, ini bukan praktik unik Indonesia saja. Di banyak negara, terutama di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin, serangga termasuk belalang sudah menjadi bagian dari pola makan tradisional selama berabad-abad.

Dari sisi gizi, belalang sebenarnya cukup mengesankan. Serangga ini dikenal sebagai sumber protein yang baik, dan beberapa penelitian gizi mencatat kandungan protein pada serangga yang dapat dikonsumsi tergolong tinggi dibanding berat tubuhnya. Inilah salah satu alasan mengapa beberapa lembaga pangan dunia mulai melirik serangga, termasuk belalang, sebagai alternatif sumber protein yang lebih ramah lingkungan dibanding peternakan konvensional — karena membutuhkan lahan, air, dan pakan yang jauh lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah protein yang setara.

Jadi, belalang itu baik atau buruk?

Pertanyaan ini sebenarnya kurang tepat kalau dijawab dengan satu kata. Jawaban yang lebih jujur: tergantung konteksnya.

Belalang menjadi hama yang merugikan ketika populasinya tidak terkendali dan menyerang lahan pertanian dalam skala besar — terutama saat berada dalam fase gregaria yang disebutkan tadi. Dalam situasi ini, dampaknya nyata dan serius bagi mata pencarian petani.

Tapi dalam skala populasi normal — saat belalang hanya hadir dalam jumlah wajar di ekosistem — keberadaannya sebenarnya bagian dari rantai makanan yang sehat. Belalang menjadi makanan bagi burung, katak, dan berbagai predator alami lainnya. Mereka juga berperan dalam siklus nutrisi alami di padang rumput dan area terbuka.

Dan dalam konteks budaya kuliner, belalang justru menjelma menjadi sumber pangan dan bahkan sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat yang mengolahnya menjadi produk makanan.

Kisah belalang ini sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar serangga itu sendiri: di alam, jarang ada yang benar-benar "jahat" atau "baik" secara mutlak. Yang ada adalah keseimbangan — dan masalah biasanya muncul ketika keseimbangan itu terganggu, entah karena perubahan iklim, hilangnya predator alami, atau faktor lingkungan lainnya.

Petani yang menghadapi serangan belalang tentu perlu mengambil tindakan pengendalian untuk melindungi tanamannya. Tapi memahami bahwa belalang bukan sekadar "musuh" yang harus dimusnahkan sepenuhnya — melainkan bagian dari ekosistem yang juga punya peran dan bahkan manfaat dalam konteks lain — membantu kita melihat persoalan pertanian dengan perspektif yang lebih utuh.

Lain kali kalau kamu melihat belalang melompat di rerumputan, mungkin pertanyaan yang muncul bukan lagi "ini hama atau bukan", tapi "dalam konteks apa ia sedang berperan saat ini".

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |