REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,5 persen dinilai belum mengubah prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketidakpastian global, aktivitas ekonomi domestik masih diperkirakan mampu menopang laju pertumbuhan di atas 5 persen.
Chief Economist BTN Myrdal Gunarto mengatakan, keputusan BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin merupakan langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengantisipasi risiko inflasi yang berasal dari gejolak eksternal.
“Dari sisi pertumbuhan ekonomi, kami menilai fundamental perekonomian domestik masih relatif kuat,” ujar Myrdal dalam kajian ekonomi BTN, Selasa (9/6/2026).
Menurut dia, sejumlah sektor yang bertumpu pada permintaan domestik masih memiliki ruang tumbuh yang cukup besar. Sektor-sektor tersebut meliputi pembangunan infrastruktur, perumahan, ketahanan pangan, energi, hilirisasi industri, hingga ekspor berbasis sumber daya alam.
Myrdal menjelaskan, keberlanjutan investasi dan fungsi intermediasi perbankan yang tetap berjalan menjadi faktor penting yang menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, BTN memperkirakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh sekitar 5,2 persen pada tahun ini meskipun biaya pendanaan meningkat.
Ia menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk meredam tekanan terhadap rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir mengalami pelemahan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.
“Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir telah meningkatkan risiko imported inflation, khususnya terhadap sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku, barang modal, maupun komponen impor,” katanya.
Menurut Myrdal, langkah BI tidak hanya dilakukan melalui kenaikan suku bunga acuan. Bank sentral juga memperkuat bauran kebijakan moneter dengan meningkatkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), memberikan insentif swap lindung nilai bagi investor asing, membuka kembali fasilitas repo untuk perbankan, serta memperkuat operasi moneter di pasar keuangan.
Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mengendalikan ekspektasi inflasi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat tensi geopolitik dan fluktuasi pasar keuangan internasional.
Meski demikian, Myrdal mengingatkan, kenaikan suku bunga tetap membawa konsekuensi terhadap sejumlah sektor yang sensitif terhadap biaya kredit dan daya beli masyarakat. Sektor properti, konsumsi rumah tangga, serta usaha yang bergantung pada pembiayaan perbankan berpotensi menghadapi tekanan apabila suku bunga bertahan tinggi dalam jangka waktu lama.
Karena itu, menurut dia, keseimbangan antara menjaga stabilitas makroekonomi dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi harus tetap menjadi perhatian utama dalam perumusan kebijakan moneter.
“Keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi akan tetap menjadi faktor penting dalam arah kebijakan moneter ke depan,” ujarnya.
Myrdal memperkirakan ruang kenaikan suku bunga lanjutan relatif terbatas apabila tekanan eksternal mulai mereda dan stabilitas rupiah kembali terjaga. Namun, BI dinilai tetap perlu menjaga fleksibilitas kebijakan untuk merespons dinamika pasar global yang bergerak cepat dan sulit diprediksi.

9 hours ago
8














































