REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keaktifan Indonesia di BRICS dinilai dapat memperluas pilihan strategis Indonesia di tengah perubahan konstelasi global. Forum tersebut juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan ekonomi tanpa membuat Indonesia berpindah dari satu blok kekuatan ke blok lainnya.
Ketua Umum Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EN LMND) Muh Isnain Mukadar mengatakan, keaktifan Indonesia di BRICS tidak boleh berhenti pada peningkatan peran diplomatik. BRICS perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kedaulatan, posisi tawar, dan kemandirian ekonomi Indonesia.
"Bagi kami, pernyataan Presiden itu (Kami tak suka didikte) bukan sekadar retorika politik. Itu harus menjadi prinsip dalam menjalankan politik luar negeri dan hubungan ekonomi Indonesia,” kata Isnain pada Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, Indonesia tetap perlu terbuka membangun kerja sama dengan semua negara. Namun, arah kebijakan luar negeri dan ekonomi harus ditentukan berdasarkan kepentingan nasional.
“Indonesia harus terbuka bekerja sama dengan semua negara, tetapi tidak boleh didikte oleh kekuatan mana pun. Kita bersahabat dengan semua, tetapi keputusan mengenai masa depan bangsa harus ditentukan berdasarkan kepentingan nasional,” ujar Isnain.
Isnain mengingatkan, keaktifan Indonesia di BRICS tidak seharusnya dimaknai sebagai perpindahan dari satu blok kekuatan ke blok lainnya. Menurut dia, BRICS justru perlu digunakan untuk memperluas pilihan strategis, membuka ruang diplomasi, dan meningkatkan daya tawar Indonesia dalam menghadapi persaingan global.
"Inilah substansi penting dari keaktifan Indonesia di BRICS. Kita tidak sedang mencari siapa yang harus diikuti. Kita sedang memperluas ruang diplomasi dan memperkuat posisi tawar Indonesia agar tidak mudah didikte oleh kepentingan kekuatan mana pun,” ujar Isnain.
Perubahan konstelasi dunia, lanjut Isnain, menjadi momentum bagi Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif secara lebih substantif. Indonesia tidak cukup hanya hadir dalam berbagai forum internasional, tetapi perlu memastikan kerja sama yang dibangun memberikan manfaat terhadap kepentingan ekonomi nasional.
Karena itu, BRICS dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama perdagangan dan ekonomi. Namun, Isnain mengingatkan Indonesia tetap perlu menjaga posisi tawar agar kerja sama tersebut tidak melahirkan ketergantungan baru.
“Kita tidak boleh hanya berpindah dari satu ketergantungan ke ketergantungan yang lain. Indonesia harus menjadi subjek yang menentukan arah kerja sama, bukan sekadar menjadi pasar, pemasok bahan mentah, atau tempat investasi tanpa nilai tambah yang berarti bagi rakyat,” ujar Isnain.
Selain itu, Isnain melihat tiga pesan Prabowo yang perlu menjadi orientasi Indonesia di BRICS yaitu kemandirian dan ketahanan nasional, memperkuat persatuan negara-negara global south, dan memperkuat kerja sama dan kolaborasi.
“Indonesia harus bersahabat dengan semua, bekerja sama dengan semua, tetapi berpijak pada kepentingan rakyat Indonesia. Kita bukan pengikut kekuatan mana pun. Kita adalah bangsa yang berdaulat dan harus berdiri tegak di atas kepentingan nasional sendiri,” ujar Isnain.

2 hours ago
3

















































