Campak Masih Jadi Penyakit yang Sangat Menular

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kasus campak pada anak kembali menjadi perhatian serius di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan kasus hingga munculnya kejadian luar biasa (KLB) di sejumlah daerah sepanjang 2025 hingga awal 2026.

Sepanjang 2025, tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian. Sementara itu, hingga minggu ketujuh 2026, terdapat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, serta empat kematian. Selain itu, dilaporkan 21 KLB suspek campak yang tersebar di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa campak masih menjadi penyakit yang sangat menular dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak. Dokter spesialis anak di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Venty, Sp A, CIMI, menjelaskan bahwa campak disebabkan oleh virus yang menyebar melalui droplet saat penderita batuk atau bersin. Virus juga dapat bertahan di udara atau permukaan benda dalam waktu tertentu, sehingga meningkatkan risiko penularan.

“Jika ada satu anak yang terinfeksi di lingkungan yang belum terlindungi vaksin, penyakit ini dapat dengan cepat menyebar ke anak lainnya,” ujar dr Venty, dikutip dari siaran pers, Rabu (18/3/2026).

Gejala awal campak kerap menyerupai flu, seperti demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah dan berair. Ciri khas campak adalah munculnya bercak putih kecil di dalam mulut (bercak Koplik), yang diikuti ruam kulit yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh.

Menurut dr Venty, campak tidak boleh dianggap sepele. Pada kondisi tertentu, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti infeksi telinga, diare berat, pneumonia, hingga radang otak (ensefalitis), bahkan berujung kematian, terutama pada anak yang belum mendapatkan imunisasi atau memiliki daya tahan tubuh rendah.

Hingga saat ini belum tersedia obat antivirus khusus untuk campak. Penanganan yang diberikan bersifat suportif, seperti memastikan anak cukup istirahat, asupan nutrisi dan cairan terpenuhi, serta pemberian vitamin A sesuai usia untuk mengurangi risiko komplikasi.

Selain itu, pengobatan juga difokuskan pada peredaan gejala, seperti pemberian obat demam, batuk, dan pilek, serta perawatan mata dan kulit. Antibiotik hanya diberikan jika terdapat infeksi bakteri sekunder.

Orang tua juga diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda komplikasi, seperti diare disertai dehidrasi, pneumonia, kejang, atau penurunan kesadaran.

Adapun pencegahan campak dapat dilakukan melalui perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan, menerapkan etika batuk, serta mengisolasi penderita selama masa penularan. Namun, langkah paling efektif adalah vaksinasi.

Vaksin campak diberikan dalam bentuk MR pada usia 9 bulan, dilanjutkan booster pada usia 15–18 bulan, serta booster lanjutan pada usia 5–7 tahun, sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). “Orang tua perlu memastikan imunisasi anak lengkap untuk memutus rantai penularan dan mencegah komplikasi yang berbahaya,” kata dr. Venty.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Margareth Aryani Santoso, MARS, menambahkan bahwa pihaknya menyediakan layanan kesehatan anak dengan dukungan tenaga medis dan fasilitas yang memadai untuk diagnosis dan penanganan penyakit infeksi, termasuk campak.

Ia mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala campak pada anak dan segera melakukan pemeriksaan sejak dini agar penanganan dapat dilakukan secara tepat. Dengan peningkatan kewaspadaan, penerapan pola hidup sehat, serta cakupan imunisasi yang optimal, risiko penularan campak diharapkan dapat ditekan dan kesehatan anak lebih terjaga.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |