REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hollywood telah lama memiliki ketertarikan mendalam terhadap skenario intervensi Pemerintah Amerika Serikat, operasi CIA, hingga penggulingan rezim asing. Film-film bertema ini sering kali membingkai kudeta sebagai sesuatu yang diperlukan, heroik, atau sebuah keniscayaan geopolitik.
Fenomena ini terlihat "relevan" jika dikontekstualisasikan dengan peristiwa dunia nyata, seperti laporan mengenai penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh pemerintahan AS yang baru-baru ini mengguncang panggung diplomasi internasional. Melalui layar lebar, penonton diajak menyaksikan bagaimana narasi pergantian kepemimpinan diatur sedemikian rupa demi "kepentingan nasional" atau stabilitas global.
Berikut adalah ini deretan film Hollywood yang menggambarkan operasi kudeta, perubahan rezim, atau penggulingan kekuasaan yang didalangi oleh elemen-elemen dari Negeri Paman Sam:
1. Angel Has Fallen (2019)
Disutradarai oleh Ric Roman Waugh, film ini merupakan seri ketiga dari waralaba Has Fallen. Meskipun fokus utamanya adalah aksi thriller politik, film ini menyentuh tema yang sangat gelap mengenai pengkhianatan internal yang bertujuan memicu konflik internasional, sebuah bentuk "kudeta mini" di dalam struktur pemerintahan AS sendiri.
Dalam film ini, dikisahkan Agen Secret Service Mike Banning (Gerard Butler) dijebak dalam upaya pembunuhan terhadap Presiden Allan Trumbull (Morgan Freeman). Banning harus melarikan diri dari FBI sambil mengungkap dalang sebenarnya.
Terungkap bahwa Wakil Presiden Martin Kirby bekerja sama dengan perusahaan militer swasta (PMC) Salient Global untuk melakukan kudeta terselubung. Rencananya adalah menggantikan Trumbull dan memicu perang dengan Rusia. Film ini menggambarkan bagaimana sektor swasta dan kepentingan politik dapat bersinergi untuk menggulingkan kepemimpinan demi keuntungan industri perang.
2. Argo (2012)
Film pemenang Oscar karya Ben Affleck ini mengangkat kisah nyata "Canadian Caper" dengan latar belakang krisis sandera Iran tahun 1979-1981. Ini adalah potret klasik bagaimana intelijen AS (CIA) menggunakan tipu muslihat yang sangat kreatif di negara yang sedang bergejolak.
Film bercerita tentang Agen CIA Tony Mendez (Ben Affleck) menyusun rencana nekat untuk menyelamatkan enam diplomat Amerika yang bersembunyi di Teheran pasca-Revolusi Iran. Ia menyamar sebagai produser film fiksi ilmiah berjudul Argo yang sedang mencari lokasi syuting di Iran.
Meskipun fokusnya adalah penyelamatan, Argo menunjukkan kemampuan CIA dalam memanipulasi realitas dan identitas di wilayah asing. Film ini mengontekstualisasikan kebencian rakyat Iran terhadap AS sebagai akibat dari dukungan Washington terhadap Shah Iran, memberikan sedikit ruang bagi penonton untuk memahami akar dari ketegangan geopolitik tersebut melalui kacamata operasi intelijen.
3. Green Zone (2010)
Dibintangi oleh Matt Damon dan disutradarai Paul Greengrass, Green Zone adalah salah satu film Hollywood paling vokal dalam mengkritik dasar invasi AS ke Irak pada tahun 2003. Dalam film, Perwira Roy Miller (Matt Damon) memimpin tim pencari senjata pemusnah massal (WMD) di Irak. Namun, ia menemukan bahwa semua intelijen yang diberikan kepadanya tidak akurat. Miller mulai mencurigai adanya konspirasi untuk menggulingkan rezim Saddam Hussein berdasarkan informasi palsu.
Film ini secara blak-blakan menggambarkan bagaimana pejabat Departemen Pertahanan AS, Clark Poundstone, menciptakan narasi palsu untuk membenarkan invasi dan pergantian rezim. Green Zone menjadi pengingat bahwa terkadang "penyelamatan" sebuah bangsa dimulai dengan fabrikasi intelijen yang disengaja.

1 day ago
16








































