REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah gempuran modernitas yang kian seragam, tersimpan sebuah rahasia besar tentang siapa kita sebenarnya di balik rimbunnya pepohonan dan senyum ramah penduduk desa.
Bukan sekadar titik koordinat di peta, desa-desa di pelosok Nusantara kini tengah bersolek, membuktikan bahwa mereka bukan peninggalan masa lalu yang kusam, melainkan jantung yang memompa identitas dan karakter bangsa agar tetap hidup.
Melalui program Pemajuan Kebudayaan Desa, pemerintah mengajak kita menengok kembali ke akar, di mana kearifan lokal bukan hanya dirawat sebagai pajangan, melainkan kekuatan nyata yang mampu menggerakkan ekonomi dan menyatukan nurani bangsa.
Fondasi Strategis Pembangunan Nasional
Desa secara mendasar adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan serta kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan hak tradisional. Sebagai unit terkecil dalam struktur negara, desa merupakan ruang hidup pertama di mana nilai-nilai komunal, gotong royong, dan demokrasi akar rumput tumbuh secara alami sebelum berskala nasional.
Dalam proses pembangunan nasional, desa memegang posisi yang sangat strategis karena mayoritas sumber daya alam dan kekayaan budaya Indonesia berada di sana. Desa bertindak sebagai penyokong utama ketahanan pangan dan penjaga keseimbangan ekologi. Membangun desa berarti membangun fondasi negara; jika desa berdaya dan mandiri, maka ketahanan nasional secara otomatis akan menguat, menjadikan pembangunan bukan lagi bersifat sentralistik, melainkan tumbuh dari pinggiran.
Mengenal Desa Budaya dan Kekhasannya
Desa Budaya melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan kekayaan warisan budaya yang mereka miliki sebagai napas kehidupan sehari-hari. Kekhasannya terletak pada keberadaan "laboratorium hidup", di mana tradisi lisan, adat istiadat, seni pertunjukan, hingga arsitektur tradisional tidak hanya diam di museum, tetapi dipraktikkan secara kolektif oleh warga. Di desa ini, budaya menjadi motor penggerak kreativitas dan ekonomi, menciptakan tatanan sosial yang harmonis dan berkelanjutan.
Benteng Peradaban di Tengah Globalisasi
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa desa-desa budaya adalah jantung identitas Indonesia. “Di desa-desa inilah tradisi, adat istiadat, seni, dan kearifan lokal hidup dan berkembang.
Budaya bukan sekadar simbol, tetapi merupakan kekuatan hidup yang menyatukan, menginspirasi, dan membangun karakter bangsa,” ujarnya pada Selasa (6/1/2026). Ia menekankan bahwa desa budaya berperan sebagai benteng peradaban sekaligus ruang inovasi berbasis nilai-nilai lokal di tengah arus globalisasi.
Penguatan desa budaya memerlukan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan. Contoh nyatanya adalah sinergi antara Kementerian Kebudayaan yang menyediakan fasilitas pendampingan, masyarakat desa yang secara aktif melakukan aktivasi budaya, serta pihak swasta atau akademisi yang membantu dalam pengemasan produk kreatif desa ke pasar global tanpa menghilangkan esensi tradisinya. Kolaborasi ini memastikan bahwa warisan budaya tidak hanya lestari, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi warga setempat.
Apresiasi untuk Para Penjaga Akar Bangsa
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan & Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menjelaskan bahwa program ini telah menyentuh lebih dari 500 desa sejak 2021. Sebagai puncaknya, Apresiasi Desa Budaya 2025 diberikan kepada desa-desa yang berhasil menunjukkan komitmen luar biasa. Penilaiannya dilakukan secara komprehensif, mencakup kebijakan desa, keterlibatan perempuan, anak, dan disabilitas, hingga dampak sosial ekonomi yang nyata.
Pada tahun 2025 ini, lima desa terpilih sebagai penerima apresiasi, yaitu:
Desa Cibaliung (Pandeglang, Banten)
Desa Duarato (Belu, NTT)
Desa Suak Timah (Aceh Barat, Aceh)
Desa Tanjung Isuy (Kutai Barat, Kalimantan Timur)
Desa Tebat Patah (Muaro Jambi, Jambi)
Bagi masyarakat desa, penghargaan ini adalah pengakuan atas kerja keras mereka. Martinik, perwakilan dari Daya Desa Tebat Patah, Jambi, mengungkapkan harunya.
“Apresiasi ini bukan hanya penghargaan, tetapi pengakuan atas kerja bersama kami. Budaya yang selama ini kami jalani dalam keseharian kini dilihat sebagai kekuatan untuk menghidupi desa, bukan sekadar peninggalan masa lalu,” pungkasnya.
Dengan keberhasilan ini, desa kembali membuktikan jati dirinya sebagai museum hidup dan laboratorium masa depan Indonesia.
sumber : Antara

1 day ago
10







































