Ummu Firly
Lain-Lain | 2026-07-04 10:01:11
Mengabadikan kenangan pasca sarasehan ( foto: BETAHOTS Collection )
Catatan dari Sarasehan Nasional Guru dan Penggerak BETA HOTS di Yogyakarta
" Dia telah mempersatukan hati mereka. Sekiranya engkau menginfakkan semua kekayaan yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka." (QS. Al-Anfal: 63)
Kereta malam berhenti di Stasiun Tugu. Satu per satu kami turun membawa koper dan kerinduan yang selama ini hanya terobati melalui layar-layar pertemuan daring. Malam itu, pelukan hangat, sapaan akrab, dan tawa yang mengalir tanpa sekat menjadi awal dari sebuah perjalanan yang ternyata bukan sekadar menuju Yogyakarta. Allah sedang mempertemukan hati-hati yang selama ini berjalan di tempat berbeda untuk tujuan yang sama: mengabdi kepada Al-Qur'an.
Pagi berikutnya, kebersamaan kami mengalir begitu alami. Sarapan sederhana di Pasar Ngasem, hangatnya sambutan di rumah klasik Temanggung, hingga singgah di Omah Mbah Manten menghadirkan ruang-ruang kecil yang semakin merekatkan persaudaraan. Perjalanan kemudian membawa kami menanjak menuju Ketep Pass. Di hadapan megahnya Merapi dan melalui film dokumenter tentang letusannya, kami diingatkan bahwa hidup begitu singkat, sementara amanah menjaga dan mengajarkan Al-Qur'an adalah titipan yang tak boleh disia-siakan.
Kami datang dengan harapan untuk belajar, tetapi Allah terlebih dahulu mengajarkan kami melalui perjalanan. Di balik keindahan alam, hangatnya persaudaraan, dan setiap langkah yang ditempuh bersama, hati kami dipersiapkan untuk memasuki inti dari seluruh rangkaian ini: sebuah sarasehan yang bukan sekadar forum berbagi ilmu, melainkan ruang untuk meluruskan niat, menyatukan langkah, dan meneguhkan kembali perjuangan di jalan Al-Qur'an.
Ketika Ilmu Menyatukan Hati
Jumat menjadi inti dari seluruh perjalanan kami di Yogyakarta. Mengusung tema “Bersama Al-Qur'an, Menguatkan Perjuangan dan Menyatukan Hati dalam Dakwah Al-Qur'an,” Sarasehan Nasional Guru dan Penggerak BETA HOTS menghadirkan tujuh materi yang saling melengkapi. Dimulai dari meluruskan niat dan menjaga keikhlasan, para peserta diajak menyatukan visi perjuangan, memperkuat sistem pembelajaran tahsin, meningkatkan kualitas pendampingan, menghadirkan kelas yang menyenangkan, menjaga istiqamah dalam membersamai thalibah, hingga menyadari pentingnya pelayanan dan administrasi sebagai penopang dakwah.
Di balik beragam tema tersebut, tersimpan satu pesan yang sama: dakwah Al-Qur'an tidak cukup dibangun oleh semangat semata. Ia membutuhkan hati yang ikhlas, ilmu yang terus diperbarui, sistem yang tertata, kerja sama yang kokoh, serta kesediaan setiap orang untuk menjalankan amanah sesuai perannya. Hari itu kami diingatkan bahwa setiap kontribusi, sekecil apa pun, adalah bagian dari ikhtiar menghadirkan lebih banyak generasi yang dekat dengan Al-Qur'an.
Usai sarasehan, kami meninggalkan ruang belajar menuju Pantai Parangtritis. Debur ombak, semilir angin laut, dan hamparan pasir seolah menjadi jeda yang Allah hadiahkan setelah sehari penuh mengisi akal dengan ilmu. Menjelang malam, langkah kami berlanjut ke Malioboro. Gerimis tipis menyelimuti jalan yang tak pernah kehilangan pesonanya. Di tengah keramaian wisatawan dan cahaya lampu kota, kami menikmati makan malam sambil berbagi tawa dan cerita. Perjalanan hari itu terasa lengkap, ilmu yang menguatkan pikiran, alam yang menyegarkan jiwa, dan kebersamaan yang semakin merekatkan persaudaraan.
Jalan yang Menguatkan Langkah
Pagi terakhir di Yogyakarta kami sambut dengan semangat yang berbeda. Bekal ilmu telah memenuhi catatan, pelukan dan doa masih terasa hangat di hati. Kini saatnya melanjutkan perjalanan menuju Purworejo, sebuah perjalanan yang tak hanya menyuguhkan keindahan alam, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan. Jalan berliku yang menembus perbukitan sesekali menguji adrenalin, sementara tanjakan dan tikungan tajam membuat kami hanya bisa berdoa sepanjang perjalanan. Belum lagi tingkah lucu rombongan yang spontan berlarian saat "disambut" gonggongan guk-guk penjaga peternakan ayam, menghadirkan tawa yang akan selalu dikenang.
Namun semua rasa lelah dan tegang seakan terbayar lunas ketika hamparan pegunungan hijau tersaji di hadapan mata. Udara yang sejuk, bentang alam yang memanjakan pandangan, serta suasana pedesaan yang tenang menghadirkan rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kami kembali belajar bahwa jalan yang paling menantang sering kali menghadiahkan pemandangan yang paling indah. Barangkali begitulah pula jalan perjuangan. Tidak selalu mudah, tetapi selalu menyimpan keindahan bagi mereka yang bersabar menjalaninya.
Menjelang sore, perjalanan itu pun perlahan mencapai ujungnya. Koper kembali dirapikan, barang-barang diperiksa, dan satu per satu kami bersiap menuju Stasiun Lempuyangan. Di ruang tunggu, obrolan yang sejak awal perjalanan tak pernah habis kini mulai diselingi keheningan. Kereta akhirnya datang membawa kami kembali ke kota dan amanah masing-masing. Yogyakarta perlahan tertinggal, tetapi persaudaraan yang tumbuh selama empat hari itu tetap tinggal di dalam hati. Kami pulang bukan hanya membawa foto dan kenangan, melainkan semangat yang diperbarui, langkah yang diteguhkan, serta keyakinan bahwa selama Al-Qur'an menjadi tujuan, sejauh apa pun perjalanan dan seberat apa pun perjuangan, semuanya akan selalu layak untuk ditempuh bersama.
Wallahu a'lamu bish- shawwab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
4





































