Hanya Seekor Anjing, Tapi Hachiko Mengerti Kesetiaan yang Dilupakan Manusia

10 hours ago 6

Image Muliadi Saleh

Alkisah | 2026-05-12 22:04:21

Oleh Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Di sebuah sudut kota Tokyo, tepatnya di kawasan Shibuya, seekor anjing bernama Hachiko pernah mengajarkan bagaimana mencintai dengan setia tanpa syarat.

Kisahnya sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya, ia abadi. Setiap pagi, ia mengantar tuannya, Profesor Hidesaburo Ueno, menuju stasiun. Dan setiap sore, ia menunggu kepulangan lelaki yang dicintainya itu. Rutinitas kecil yang tampak biasa. Namun hidup sering kali menyimpan takdir di balik kebiasaan sederhana.

Suatu hari, Profesor Ueno wafat mendadak ketika mengajar. Kereta tetap datang seperti biasa. Orang-orang turun dengan langkah tergesa. Kota terus bergerak. Tetapi satu makhluk tetap diam menunggu di depan stasiun: Hachiko. Ia tidak memahami kematian seperti manusia memahaminya. Ia hanya tahu satu hal bahwa seseorang yang dicintainya belum pulang.

Dan selama hampir sepuluh tahun, ia terus datang. Menunggu. Dalam hujan, salju, panas, dan kesepian.

Betapa dunia hari ini justru kehilangan kemampuan untuk menunggu. Kita hidup di zaman yang memuliakan kecepatan tetapi melupakan keteguhan. Relasi dibangun serba instan, lalu runtuh hanya karena ego kecil dan kepentingan sesaat. Kesetiaan menjadi barang langka di tengah budaya yang mengajarkan manusia untuk mudah berpindah. Pindah hati, pindah komitmen, pindah prinsip, bahkan pindah nurani.

Di situlah kisah Hachiko menjadi tamparan moral bagi peradaban modern. Bahwa kesetiaan bukan sekadar romantisme, melainkan fondasi peradaban manusia. Tanpa kesetiaan, keluarga runtuh. Persahabatan rapuh. Kepemimpinan kehilangan kepercayaan. Bangsa kehilangan arah.

Para ahli psikologi sosial menjelaskan bahwa loyalitas dan kepercayaan adalah inti dari stabilitas hubungan manusia. Dalam dunia kerja, organisasi yang dibangun atas rasa saling percaya memiliki produktivitas lebih tinggi dan konflik lebih rendah. Dalam keluarga, kesetiaan melahirkan rasa aman emosional yang menjadi fondasi kesehatan mental anak-anak. Sebaliknya, pengkhianatan melahirkan trauma panjang, kecemasan sosial, bahkan depresi kolektif dalam masyarakat.

Karena itu, kesetiaan bukan hanya urusan hati. Ia juga energi sosial yang menjaga dunia tetap waras.

Sang sufi Jalaluddin Rumi menulis, “Kesetiaan adalah bukti cinta yang paling sunyi.” Ia tidak banyak bicara, tetapi bertahan ketika yang lain pergi.

Dalam tradisi Bugis-Makassar, leluhur kita mengenal nilai “taro ada taro gau”, apa yang diucapkan harus sejalan dengan tindakan. Sebuah janji bukan sekadar bunyi lisan, melainkan kehormatan diri. Orang dahulu percaya, kehilangan harta belum tentu hina, tetapi kehilangan kesetiaan adalah keruntuhan martabat.

Kini kita hidup di zaman ketika manusia sering lebih setia kepada layar telepon daripada kepada keluarga. Lebih setia pada pencitraan daripada kebenaran. Lebih setia pada keuntungan daripada persahabatan. Kita mudah berkata “selamanya”, tetapi rapuh menghadapi sedikit ujian.

Hachiko mengajarkan bahwa kesetiaan sejati tidak bergantung pada untung-rugi. Ia tetap menunggu meski tak ada yang menjanjikan balasan. Dan mungkin di situlah letak kemuliaannya. Sebab cinta yang tulus tidak selalu meminta untuk dimengerti. Ia hanya ingin tetap setia.

Kesetiaan sejatinya bukanlah kelemahan, melainkan bentuk tertinggi dari kekuatan batin. Hanya jiwa-jiwa matang yang mampu bertahan tanpa harus terus dipuji. Hanya hati yang dalam yang sanggup menjaga komitmen di tengah perubahan zaman.

Maka merawat kesetiaan sesungguhnya berarti merawat kemanusiaan kita sendiri. Kesetiaan dirawat dengan kejujuran, kehadiran, pengorbanan kecil, dan kemampuan menepati janji. Ia tumbuh dari ketulusan, bukan keterpaksaan. Dan seperti tanaman, ia harus disiram setiap hari oleh perhatian dan integritas.

Sebaliknya, ketika kesetiaan mati, manusia perlahan berubah menjadi makhluk yang kehilangan akar. Ia mudah mengkhianati, mudah meninggalkan, dan akhirnya mudah kesepian. Dunia modern hari ini sesungguhnya tidak kekurangan teknologi; dunia hanya kekurangan manusia-manusia yang mampu setia.

Karena itu, patung Hachiko di Stasiun Shibuya bukan sekadar monumen seekor anjing. Ia adalah pengingat diam bahwa cinta paling agung kadang hadir dari makhluk yang tak pandai bicara, tetapi sangat pandai menjaga hati.

Dan kini, mungkin manusia perlu belajar lagi kepada seekor anjing tua di sudut Shibuya tentang arti menunggu, arti mencintai, dan arti setia sampai akhir.

__________

Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban."

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |