REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bayangkan sebuah ruang kelas yang hanya beberapa pekan lalu terendam air keruh, kini harus kembali menyambut tawa anak-anak. Di Sumatera, khususnya Aceh, pemandangan sekolah pascabencana sungguh memilukan; dinding-dinding kelas masih menyisakan garis batas air, aroma lumpur yang lembap masih menusuk indra penciuman, dan ribuan buku pelajaran kini hanya menjadi onggokan kertas yang membatu.
Fasilitas pendidikan yang selama ini menjadi tempat merajut mimpi, sempat berubah menjadi hamparan puing dan endapan tanah pekat yang seolah hendak mengubur masa depan generasi muda di sana.
Namun, keputusasaan itu perlahan luruh saat matahari pertama di tahun 2026 mulai menyapa. Berkat tangan-tangan yang tak lelah menyapu lumpur, hari ini gerbang-gerbang sekolah kembali dibuka. Meski lapangan masih becek dan cat dinding mulai mengelupas, pemandangan ini menjadi bukti kemenangan semangat gotong royong di atas kepungan bencana. Sekolah tidak lagi sekadar gedung fisik, melainkan simbol ketangguhan sebuah bangsa yang menolak untuk menyerah pada amarah alam.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu'ti, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah berjibaku membersihkan fasilitas pendidikan. Berkat kerja keras kolektif tersebut, hari pertama sekolah tahun 2026 di daerah terdampak bencana dapat berjalan dengan lancar.
"Alhamdulillah, sekolah hari pertama tahun 2026 di daerah terdampak bencana terlaksana seiring keikutsertaan semua pihak dalam membersihkan fasilitas pendidikan, terutama di Aceh Tamiang," ujar Abdul Mu'ti saat berkunjung ke Aceh Tamiang, Senin (5/1/2026).
Suasana belajar di sekolah-sekolah terdampak bencana di Sumatera saat ini menyuguhkan pemandangan yang mengharukan sekaligus penuh perjuangan. Sebagian siswa harus belajar di atas lantai yang belum sepenuhnya kering, duduk di bangku-bangku sisa yang berhasil diselamatkan dari rendaman air.
Meskipun seragam mereka mungkin tak selengkap dulu dan fasilitas penunjang belajar masih serba terbatas, sorot mata para siswa memancarkan kerinduan yang mendalam akan ilmu pengetahuan, membuat suasana kelas terasa begitu hidup di tengah keterbatasan fisik bangunan.
Usai menjadi pembina upacara di SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Mendikdasmen menegaskan bahwa keberhasilan ini tak lepas dari peran Pemerintah Aceh, TNI, Polri, serta para relawan. Semangat gotong royong ini menjadi mesin penggerak utama sehingga kegiatan belajar-mengajar bisa dilakukan tepat waktu.
"Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bersama-sama membersihkan sekolah. Saya bangga kepada seluruh guru di Aceh yang hadir hari ini untuk membersamai siswa-siswi dalam menggapai harapan mereka," ucapnya dengan nada haru.
Ketulusan para guru di tengah bencana ini sungguh menjadi oase yang menyejukkan. Meskipun rumah pribadi mereka sendiri mungkin ikut terendam dan harta benda mereka hilang, para pahlawan tanpa tanda jasa ini tetap memprioritaskan kehadiran di sekolah demi anak didik mereka.
Dengan penuh kasih, mereka menjemput siswa di depan gerbang, membersihkan sisa debu di meja kelas dengan tangan sendiri, dan menyiapkan materi pembelajaran yang mampu membasuh trauma psikologis santri, membuktikan bahwa dedikasi seorang pendidik melampaui batas kewajiban administratif.
"Saya berharap semangat ini dapat terus dijaga sehingga pembelajaran berjalan maksimal. Saya lihat tadi para guru juga sudah mulai berdialog dengan siswa, ini sangat baik untuk pemulihan mental mereka," tambah Abdul Mu'ti.
Plt Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh, Murthalamuddin, melaporkan bahwa tingkat keterlaksanaan proses belajar-mengajar pada hari pertama ini sudah mencapai 90 persen di seluruh wilayah Aceh. Angka yang fantastis ini merupakan buah dari kerja keras semua elemen, termasuk para ASN yang ikut turun ke lapangan menyapu lumpur.
Untuk wilayah Aceh Tamiang yang terdampak cukup parah, pemerintah berjanji akan bekerja lebih maksimal untuk membersihkan sisa-sisa lumpur di fasilitas pendidikan yang masih bermasalah agar kegiatan pembelajaran segera mencapai kapasitas penuh.
Berdasarkan data Kemendikdasmen, bencana banjir dan longsor di Aceh memang memberikan dampak yang sangat masif, merusak setidaknya 2.756 satuan pendidikan di seluruh kabupaten/kota. Namun, hari ini, di bawah langit Aceh yang mulai cerah, sekolah-sekolah tersebut mulai bernapas kembali, membawa pesan bahwa pendidikan adalah hak dasar yang tak boleh padam oleh bencana apa pun.
sumber : Antara

1 day ago
14








































