REPUBLIKA.CO.ID, Konflik dan perang di berbagai belahan dunia mewarnai perjalanan tahun 2025. Perang antara Rusia dan Ukraina yang terus berlanjut, pertempuran pejuang Hamas dan Israel, perang Israel-Iran, konflik antara Kamboja dan Thailand hingga pembantaian di El Fasher.
Pertikaian tersebut memakan jumlah korban yang tidak sedikit. Tengok saja agresi Israel ke Palestina yang menyebabkan lebih dari 70 ribu nyawa melayang.
Semua ini menunjukkan instabilitas dunia pada 2025 yang penuh dengan gonjang-ganjing. Pertempuran bahkan kerap kali mengaitkan proksi-proksi melibatkan banyak negara. Misal, Rusia versus Ukraina yang ikut melibatkan negara-negara Barat.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Kiev merupakan bagian dari proksi negara-negara besar Eropa. Negara berpengaruh Eropa meyakini Rusia merupakan sebuah ancaman bagi Benua Biru tersebut.
Inilah mengapa, Eropa seperti Jerman dan Finlandia memberikan dukungan nyata buat Ukraina, baik dalam pasokan senjata maupun pendanaan. Rusia tak takut dengan ancaman Eropa dan menggertak balik.
Semua rentetan gejolak ini adalah fakta-fakta yang terjadi selama di 2025. Republika sudah merangkum sejumlah perang atau pertempuran yang terjadi selama 2025. Berikut ringkasan perang selama 2025
1. Agresi Israel di Jalur Gaza
Perang antara Israel dan pejuang Hamas masih terus berlanjut pada 2025 setelah pecah pada Oktober 2023. Lebih dari 70 ribu warga Palestina terbunuh, termasuk di antaranya anak-anak tak berdosa.
Agresi Israel juga telah meluluhlantakan bangunan di Jalur Gaza bak dihantam gempa besar. Infrastruktur dasar seperti jaringan listrik dan air bersih benar-benar hancur.
Satu-satunya pembangkit listrik rusak parah dan ditutup karena kekurangan bahan bakar. Menurut laporan Aljazirah, 80 persen jaringan transmisi listrik sudah tak bisa lagi digunakan.
Rumah sakit yang sejatinya dilindungi ikut menjadi sasaran Israel. Mereka tak segan-segan membunuh tenaga medis, baik dokter maupun perawat.
Insecurity Insight mengidentifikasi ada 2965 insiden kekerasan atau penghambatan akses ke layanan kesehatan di wilayah Palestina yang diduduki Israel antara 7 Oktober 2023 dan 28 Oktober 2025.
Lebih dari 95% insiden ini dikaitkan dengan pasukan Israel. Di Gaza, tercatat 2.119 insiden yang menyebabkan kerusakan fasilitas kesehatan sebanyak 418 kali, 728 petugas kesehatan tewas, dan 362 ditangkap.
Di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, dilaporkan 789 serangan terhadap layanan kesehatan, akses ke obat-obatan dihambat 500 kali, 12 petugas kesehatan tewas, dan 162 ditangkap.
Sementara itu, blokade bantuan terus berjalan sehingga membuat rakyat Palestina semakin menderita. Wajar, jika banyak kalangan internasional menilai Israel telah melancarkan perang genosida di Jalur Gaza.
Otoritas Zionis benar-benar melakukan pembunuhan secara sistematis lewat serangan udara, pengerahan pasukan militer, melumpuhkan kebutuhan dasar dan mematikan tenaga medis.
Sepanjang 2025, terdapat momen-momen penting dalam pertempuran di Jalur Gaza. Di antara momen tersebut yakni pertukaran tahanan dan perjanjian gencatan senjata. Termasuk di dalam perjanjian yakni penyerahan jasad sandera warga Israel yang tewas di Gaza selama pertempuran.
Kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Namun selama gencatan tahap pertama berlaku, Israel berulangkali melanggar dengan tetap melancarkan serangan.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, setidaknya 414 warga Palestina terbnuh di tangan militer Israel di Gaza. Demikian menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas. Israel juga masih mengusai lebih dari 50 persen wilayah Gaza.
Baik Hamas maupun otoritas Palestina meminta agar Israel menarik diri. Berdasarkan kesepakatan yang diiniasi oleh Donald Trump, disepakati pengiriman pasukan internasional di Gaza selama masa transisi, meskipun hal itu tidak disetujui oleh Hamas.
Poin penting lain yang juga dituntut oleh Israel yakni meminta Hamas untuk meletakkan semua senjatanya. Bagian krusial ini belum disepakati.

1 week ago
26






































