eneng siti aroffah
Eduaksi | 2026-07-16 09:17:08
Kemajuan teknologi telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat, termasuk cara generasi muda memperoleh informasi. Jika dahulu buku dan perpustakaan menjadi sumber utama pengetahuan, kini sebagian besar informasi dapat diperoleh hanya melalui telepon genggam. Di satu sisi, perkembangan ini memberikan kemudahan akses terhadap berbagai ilmu pengetahuan. Namun, di sisi lain, muncul persoalan baru, yaitu menurunnya minat baca di kalangan generasi muda.
Saat ini, tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang lebih senang menghabiskan waktu untuk menonton video singkat atau berselancar di media sosial daripada membaca buku. Kebiasaan membaca yang membutuhkan konsentrasi dan waktu perlahan mulai tergeser oleh budaya serba instan. Banyak orang ingin mendapatkan informasi dengan cepat tanpa harus membaca secara mendalam.
Padahal, membaca bukan sekadar kegiatan untuk memperoleh informasi. Membaca melatih seseorang untuk berpikir kritis, memperkaya kosakata, meningkatkan kemampuan menulis, dan memperluas wawasan. Seseorang yang memiliki kebiasaan membaca cenderung lebih mampu memahami suatu persoalan dari berbagai sudut pandang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.
Menurunnya minat baca juga dapat berdampak pada kualitas pendidikan. Rendahnya budaya literasi membuat kemampuan memahami materi pelajaran menjadi ikut menurun. Tidak sedikit siswa yang kesulitan menganalisis soal atau menyusun tulisan karena kurang terbiasa membaca. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan dapat terancam.
Tentu, perkembangan teknologi tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Justru teknologi dapat menjadi sarana untuk meningkatkan budaya membaca apabila dimanfaatkan dengan baik. Buku digital, jurnal online, dan berbagai platform pendidikan dapat menjadi alternatif untuk menumbuhkan kembali minat baca generasi muda. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana membangun kesadaran bahwa membaca tetap penting di tengah derasnya arus informasi digital.
Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama antara keluarga, sekolah, dan pemerintah dalam membangun budaya literasi. Orang tua perlu memberikan contoh dengan membiasakan membaca di rumah. Sekolah harus menciptakan lingkungan yang mendorong siswa untuk gemar membaca, sedangkan pemerintah perlu memperluas akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas dan terjangkau.
Pada akhirnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari perkembangan teknologinya, tetapi juga dari tingkat literasi masyarakatnya. Jika generasi muda semakin menjauh dari buku dan budaya membaca terus menurun, maka Indonesia akan kehilangan salah satu modal penting untuk menciptakan sumber daya manusia yang cerdas, kritis, dan berdaya saing. Karena itu, menghidupkan kembali minat baca bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan untuk masa depan bangsa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

7 hours ago
13









































