REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- 'Kudeta' Amerika Serikat atas Venezuela kini memasuki titik penting. Penguasaan pasokan minyak Venezuela, yang terbesar di dunia, membuat Presiden Donald Trump menghentikan seluruh ekspor minyak Venezuela ke para pelanggannya. Hal ini pastinya bakal berimbas pada struktur perdagangan minyak global, dan kemudian ke komoditas lainnya. Apakah Indonesia terpengaruh? Sepertinya bisa, tapi bagaimana?
Sebelum membahas dampak bagi Indonesia, tentu harus dipaparkan dulu peta minyak negeri yang sempat dikenal dengan sebutan negara telenovela itu. Pertama, Venezuela saat ini adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Cadangan terbukti Venezuela melebihi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara lainnya.
Dalam catatan OPEC (organisasi negara-negara pengekspor minyak), perut bumi Venezuela memiliki 303 miliar barel cadangan minyak. Ini setara dengan 17 persen cadangan minyak internasional. Venezuela pernah berjaya karena memompa 3,5 juta barel minyak per hari, di 1970an. Namun setelah itu terus menurun, 2 juta barel per hari pada dekade 2010, dan sekarang tinggal 1,1 juta barel per hari.
Natasha Kaneva, analis energi JPMorgan, menilai, dengan situasi ditangkapnya Presiden Nicolas Maduro, dan pemerintahan Venezuela dalam transisi, sebenarnya negara itu bisa meningkatkan produksi minyak mencapai 1,3-1,4 juta barel per hari. Dua tahun kemudian, kata Natasha seperti dikutip dari Reuters Senin (5/1/2026) bisa melonjak ke 2,5 juta barel per hari.
Siapa pelanggan utama minyak Venezuela? Mengacu data dari Statista, dari total 700 ribu - 800 ribu barel per hari yang diekspor, pelanggan terbesar Venezuela hanyalah Cina dan AS. Kedua negara membeli 351 ribu barel dan 222 ribu barel per hari dari Venezuela.
Dengan demikian, penguasaan atas minyak Venezuela akan amat memengaruhi keamanan energi Cina dan pasokan minyak AS. Presiden Xi Jinping tentu sudah memperhitungkan situasi Venezuela ini, dan menjalankan strategi jangka pendek maupun jangka menengah. Mesin ekonomi Cina yang begitu besar, tidak mungkin dibiarkan berhenti karena tidak ada pasokan minyak. Sementara kita tahu, ekspor Cina atas berbagai macam industri ke seluruh dunia amat besar.
Apakah akan terjadi subsitusi sementara dari minyak ke komoditas lain, misal batubara? Ke mana Cina akan berpaling mengisi pasokannya? Apakah tetap dengan Venezuela, yang berarti bisa ada negosiasi kembali tapi kali ini dengan pemerintah AS terkait rencana pembelian. Atau membeli ke Rusia, yang memang sekutu Cina, tapi dengan risiko pasokan yang terbatas.
Ketiga, apakah Cina akan berpaling ke Timur Tengah? Di kawasan ini, mengacu pada data OPEC, produksi minyak nya terbesar di dunia. Ada Arab Saudi yang memproduksi 10-11 juta barel per hari, lalu Irak dengan 4,5 juta barel per hari, UEA di kisaran 3 juta barel, serta Iran dan Kuwait masing-masing 2,5 juta barel.
Secara bilateral Cina memang terasa makin dekat ke Timur Tengah dengan sejumlah kerjasama ekonominya, terutama dengan Arab Saudi. Namun, Presiden Xi Jinping pastinya mahfum, menyandarkan seluruhnya kebutuhan minyak ke Arab Saudi cs di Timur Tengah amat riskan secara geopolitik. Karena hubungan AS dan negara-negara anggota OPEC di atas, kecuali Iran, amat baik. Bisa dibilang Timteng adalah proksi dari kebijakan politik dan ekonomi AS.
Di sini kemudian sektor batubara Indonesia menjadi sorotan menarik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Cina adalah pembeli terbesar batubara asal Indonesia. Batubara itu digunakan langsung untuk pembangkit listrik maupun untuk stok strategis. Semester 1 2025 total ekspor batubara Indonesia ke Cina sudah mencapai 30,3 juta ton. Sementara proyeksi produksi batubara nasional tahun ini sebesar 500 juta ton.
Sebelum kejadian kudeta Venezuela ini, para pebisnis batubara nasional memang memperkirakan ada penurunan produksi batubara, maupun penurunan permintaan dari Cina sekitar 10-12 persen. Penurunan ini terjadi karena dua hal: Mesin ekonomi Cina melamban, dan Cina menggenjot produksi batubara lokal.
Pertanyaannya kemudian: Apakah kudeta AS di Venezuela akan memicu ekspor batubara Indonesia ke Cina dan negara lainnya, atau bahkan memicu kenaikan harga batubara di pasar internasional?
Cina bisa saja dan memang amat mungkin berpaling pada batubara sebagai subsitusi sementara minyak Venezuela, sampai negara itu mendapat kepastian pasokan dari pihak lain.
Dalam situasi itu, maka bisa terjadi lonjakan permintaan atas batubara nasional. Lonjakan ini yang bakal berdampak pada kebijakan pasokan domestik, yang berimbas juga pada kenaikan biaya produksi listrik di PLTU milik PLN.
Di sisi lain, lonjakan itu bakal berdampak pada penerimaan negara atas ekspor batubara. Dan bila ini terjadi tentu akan ada sentimen 'bullish' atas emiten-emiten batubara di bursa saham.
Dalam jangka pendek atau setahun ke depan, bilamana situasi ini sesuai maka Cina akan mengkalkulasi ulang kontrak-kontrak minyak dengan pemasoknya, termasuk dengan Venezuela-AS. Hal serupa bisa saja terjadi dengan kontrak impor batubara mereka, menambah pasokan impor untuk menjaga stabilitas industri. Ini belum memperhitungkan apakah ada kedaruratan yang diambil Cina dengan menggeser struktur energi untuk industri mereka, dari minyak ke batubara atau nuklir dan lainnya.
Bagi Indonesia, yang pertama akan terlihat adalah lonjakan permintaan batubara, kemudian windfall dari ekspor batubara di saat dolar AS tinggi. Ini berdampak amat positif di atas buku surplus perdagangan.
Namun, di sisi lain efek tersebut bilamana terjadi akan memengaruhi harga batubara lokal, tekanan atas kewajiban pemenuhan pasokan batubara lokal, bahkan hingga ke harga listrik oleh PLN.
Karena itulah menarik mencermati situasi Venezuela ini dari sudut pandang keamanan energi untuk Indonesia, terutama dari sisi batubara. Sejauh ini, pemerintah memang belum berkomentar soal dampak keamanan energi nasional atas situasi Venezuela. Kita tentu menunggu pernyataan itu.

1 day ago
15








































