Mengenal Ikan Bekasem, Sajian Istimewa Keraton Kasepuhan Saat Peringatan Maulid Nabi

9 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Umat Islam di berbagai daerah memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan beragam cara. Salah satunya seperti yang terjadi di Cirebon. Hari lahir Nabi yang kerap disebut muludan itu, biasa diisi dengan kegiatan-kegiatan keislaman maupun tradisi yang sudah rutin dilaksanakan setiap tahun.

Hal itu seperti yang dilakukan Keraton Kasepuhan Cirebon. Sejak sebulan sebelum puncak peringatan muludan, berbagai kesibukan telah dimulai. Salah satunya adalah membuat sajian ikan bekasem, yang biasa dilakukan setiap tanggal 5 Shafar dalam penanggalan Hijriah.

Proses pembuatan ikan bekasem itu memakan waktu selama satu bulan. Karenanya, proses pembuatan ikan bekasem baru akan selesai pada 5 Rabiulawal, yang tahun ini bertepatan dengan 30 Agustus 2025.

Selanjutnya, ikan bekasem akan disajikan pada malam puncak peringatan Muludan atau biasa disebut Panjang Jimat pada 12 Rabiulawal (5 September 2025). “Tadi kita membuka ikan bekasem yang difermentasi dari tanggal 5 Shafar dibuka di 5 Mulud (Rabiulawal) hari ini,” ujar Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Raja Gumelar Suryadiningrat, Sabtu (30/8/2025).

Patih Sepuh menjelaskan, ikan yang digunakan untuk bekasem itu adalah jenis ikan layar dan ikan kakap. Ikan bekasem itu nantinya akan dicampurkan dengan nasi jimat atau nasi kebuli, saat malam puncak di peringatan Maulid Nabi Nabi Muhammad SAW.

Pembuatan ikan bekasem itu telah berlangsung turun temurun di lingkungan keluarga Keraton Kasepuhan. Resep pembuatan ikannya pun sudah ada sejak zaman Syech Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Hingga kini, sajian dan resep tersebut masih terus dipertahankan.

Ikan bekasem terbuat dari bahan utama berupa ikan, yang dipotong-potong dan dicuci bersih. Setelah itu, ikan direndam dengan menggunakan beraneka macam rempah-rempah. Adapun rempah-rempah itu, di antaranya bawang merah, bawang putih, kunyit, merica, ketumbar, kemiri, dan gula merah.

Selain itu, bahan rendaman yang tak boleh dilupakan adalah asem jawa atau asem kawak. Asem itulah yang membuat warna ikan menjadi kemerahan dan bisa awet dalam waktu yang lama.

Untuk itu, tak dibutuhkan pengawet kimia untuk mengawetkan ikan. Penggunaan asem kawak itu juga yang menjadi ciri khas yang membedakan bekasem dengan masakan ikan lainnya.

Selanjutnya, ikan bekasem dibiarkan direndam dalam gentong selama satu bulan. Namun, gentong yang digunakan itu tak sembarang gentong, melainkan guci kuno peninggalan Putri Ong Tin Nio. Putri Ong Tin Nio merupakan putri kaisar China, yang menjadi istri Sunan Gunung Jati.

Untuk memperoleh hasil yang sempurna, gentong tersebut harus ditutup rapat selama proses perendaman berlangsung,. Selain ditutup dengan menggunakan penutup gentong, bagian atas gentong pun ditutup dengan kertas semen yang diikat kuat dengan tali.

Tak cukup sampai disitu, bagian atas kertas semen pun ditempeli dengan menggunakan abu dari bakaran kayu. Abu itu berfungsi untuk menutup lubang agar tidak ada sedikitpun udara yang masuk ke dalam gentong.

Setelah genap satu bulan, sejak 5 Shafar ke 5 Rabiulawal, gentong tersebut dibuka. Ikan-ikan yang ada di dalam gentong kemudian dibersihkan dengan menggunakan air bersih. Namun, cara pembersihannya pun tidak boleh dilakukan oleh sembaran orang.

Setelah dicuci bersih menggunakan air, ikan bekasem kemudian ditiriskan di atas tampah yang sudah diberi tangkai padi. Selanjutnya, sekitar tiga hari kemudian, ikan tersebut baru dimasak dan dijadikan sebagai lauk pauk nasi jimat pada malam puncak peringatan lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |