Outlook Zakat 2026: Meneguhkan Ketahanan Sosial Bangsa

1 day ago 11

Oleh : Nur Efendi, Board of Trustees Rumah Zakat, CEO Rumah Zakat 2011-2022

REPUBLIKA.CO.ID, Memasuki tahun 2026, Indonesia dihadapkan pada realitas sosial yang kian kompleks. Kemiskinan dan tekanan ekonomi rumah tangga, bencana alam yang berulang, kerusakan lingkungan yang semakin nyata, ancaman krisis pangan, serta melebar­nya kesenjangan sosial menjadi ujian bersama. Di saat yang sama, dunia juga menyaksikan berbagai krisis kemanusiaan di sejumlah negara, mulai dari konflik berkepanjangan, gelombang pengungsi, hingga dampak perubahan iklim yang menghantam kelompok paling rentan.

Situasi ini menegaskan bahwa tantangan sosial hari ini sangat kompleks dan lintas batas. Karena itu, dibutuhkan instrumen sosial yang tidak hanya responsif, tetapi juga berkelanjutan dan berakar pada nilai keadilan. Dalam konteks inilah, zakat perlu ditempatkan secara lebih strategis sebagai salah satu pilar ketahanan sosial bangsa.

Zakat, sebagai rukun Islam, sejatinya tidak hanya mengandung dimensi ibadah personal, tetapi juga membawa misi sosial yang kuat. Sejak awal, zakat diturunkan sebagai mekanisme untuk menjaga keseimbangan sosial, melindungi kelompok lemah, dan menumbuhkan solidaritas kemanusiaan. Nilai inilah yang menjadikan zakat cukup relevan untuk menjawab tantangan Indonesia dan dunia hari ini.

Pengalaman menunjukkan bahwa dalam situasi krisis mulai, dari Pandemi Covid-19, bencana alam maupun darurat kemanusiaan masyarakat membutuhkan respons yang cepat, tepat, dan berkelanjutan. Zakat memiliki keunggulan untuk menjawab kebutuhan tersebut karena ia tumbuh dari kesadaran sosial dan dikelola dengan semangat amanah. Namun, potensi besar ini hanya akan bermakna jika zakat dikelola secara profesional, transparan, dan berorientasi pada kemaslahatan jangka panjang.

Amanah dan Kepercayaan Publik

Salah satu tantangan utama pengelolaan zakat hari ini adalah persoalan kepercayaan publik. Banyak masyarakat masih menyalurkan zakat secara langsung karena merasa lebih yakin dan dekat. Pilihan ini patut dihormati, namun juga menjadi pengingat bahwa lembaga zakat harus terus berbenah.

Kepercayaan tidak tumbuh dari klaim, melainkan dari keteladanan. Tata kelola yang amanah, pelaporan yang terbuka, serta kemampuan menunjukkan dampak nyata menjadi kunci untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Donatur tidak lagi cukup diyakinkan bahwa zakat telah disalurkan, tetapi ingin mengetahui bagaimana zakat itu mengubah kehidupan penerima manfaat membantu mereka bangkit, mandiri, dan bermartabat.

Dalam perspektif nilai Islam, amanah adalah fondasi segala urusan. Ketika amanah dijaga, kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya. Inilah pekerjaan rumah besar pengelolaan zakat ke depan.

Zakat dan Tren Digital

Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam praktik berzakat. Kemudahan pembayaran zakat melalui platform digital membuka peluang besar untuk memperluas partisipasi. Namun, kemudahan ini juga diiringi dengan tuntutan transparansi dan akuntabilitas yang lebih tinggi.

Digitalisasi zakat sejatinya adalah ikhtiar untuk memperkuat amanah. Melalui sistem digital yang terintegrasi, lembaga zakat dapat menyampaikan informasi secara lebih terbuka dan akurat. Data dan kisah nyata dari lapangan menjadi sarana edukasi sosial yang meneguhkan kepercayaan publik, terutama bagi generasi muda yang semakin kritis dan sadar dampak.

Digital tidak dapat menggantikan turst, brand, dan services, namun ketiganya tidak dapat terjadi tanpa digital. Teknologi, pada akhirnya, hanyalah alat. Nilai yang menghidupkannya tetaplah kepercayaan, kepedulian, dan komitmen untuk melayani masyarakat.

Dari Kepedulian ke Pemberdayaan

Selama ini, zakat banyak berperan dalam membantu kebutuhan mendesak melalui santunan dan bantuan langsung. Peran ini sangat penting, terutama dalam situasi mendesak, darurat kebencanaan dan krisis kemanusiaan. Namun, tantangan ke depan menuntut zakat melangkah lebih jauh.

Zakat perlu diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat: membantu keluarga miskin membangun kemandirian ekonomi, menjaga keberlanjutan pendidikan, memastikan akses layanan kesehatan dasar, serta mendukung ketahanan pangan dan lingkungan. Dengan pendekatan ini, zakat tidak hanya meringankan beban sesaat, tetapi juga menumbuhkan daya tahan dan harapan masa depan.

Ukuran keberhasilan zakat bukan semata pada besarnya dana yang tersalurkan, melainkan pada sejauh mana zakat mampu meningkatkan kualitas hidup dan martabat manusia.

Meneguhkan Semangat Kolaborasi

Persoalan sosial yang kompleks tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri. Zakat membutuhkan semangat kolaborasi lintas sektor. Sinergi antara lembaga zakat, pemerintah, dunia usaha, akademisi dan komunitas masyarakat menjadi jalan tengah untuk memperluas manfaat dan menjaga keberlanjutan dampak.

Dengan kolaborasi yang terarah, zakat dapat berperan sebagai penguat sistem perlindungan sosial nasional sekaligus berkontribusi pada agenda kemanusiaan global.

Outlook Zakat 2026 mengajak kita untuk kembali meneguhkan ruh zakat sebagai instrumen keadilan sosial. Di tengah persoalan sosial yang kompleks, kemiskinan, kesenjangan dan tekanan ekonomi rumah tangga, bencana alam, kerusakan lingkungan, dan krisis kemanusiaan yang terus berulang, zakat memiliki potensi besar untuk menjadi penopang ketahanan sosial bangsa.

Tanggung jawab kita bersama adalah memastikan zakat dikelola dengan amanah, profesional, berorientasi kemaslahatan serta berdampak dan berkelanjutan, agar benar benar hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat dan kemanusiaan.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |