PBB: Panas Ekstrem Piala Dunia 2026 Ancam Kesehatan Pemain dan Penonton

5 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- PBB memperingatkan Piala Dunia 2026, turnamen sepak bola terbesar dalam sejarah, berlangsung di tengah gelombang panas ekstrem yang kian memburuk akibat perubahan iklim. Kondisi ini mengancam keselamatan pemain, penonton, dan kelangsungan pertandingan itu sendiri. Satu dari empat laga diperkirakan dimainkan dalam kondisi panas berbahaya, sementara sedikitnya lima pertandingan berisiko melampaui ambang batas suhu yang memicu rekomendasi penundaan laga.

"Kita semua menyaksikan pertandingan, tetapi pertandingan itu berhenti — karena terlalu panas, panas bagi para pemain, bagi penonton, bagi semua orang. Cuacanya panas dan semakin panas. Itu bukan kebetulan. Itulah perubahan iklim. Planet ini memanas setelah lebih dari satu abad membakar bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas. Itu memerangkap panas di atmosfer. Dan kini kita merasakannya, di mana-mana," kata Sekretaris Eksekutif Kantor PBB untuk Koordinasi Kerja Perubahan Iklim (UNFCCC), Simon Stiell, dalam pernyataannya, Senin (26/5/2026).

Analisis terbaru dari World Weather Attribution (WWA) menemukan 26 dari 104 pertandingan Piala Dunia 2026 diperkirakan berlangsung dalam kondisi ketika tekanan panas menjadi risiko nyata bagi pemain. Penilaian itu menggunakan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), ukuran tekanan panas yang memperhitungkan kombinasi suhu udara, kelembapan, sinar matahari, angin, dan radiasi langsung, bukan sekadar suhu udara konvensional.

Karena itu, angka WBGT tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan suhu udara biasa dan dapat terasa jauh lebih menyengat daripada yang tersirat oleh angkanya. Para ahli yang memberikan rekomendasi kepada FIFPRO, serikat pemain global, menetapkan WBGT 26 derajat Celsius sebagai ambang batas ketika jeda pendinginan disarankan dan performa pemain mulai terganggu. Sementara itu, WBGT 28 derajat Celsius menjadi garis merah yang memicu rekomendasi penundaan pertandingan.

Studi WWA memperkirakan sekitar lima pertandingan dapat menembus batas 28 derajat Celsius tersebut, termasuk pertandingan final, dua perempat final, dan perebutan tempat ketiga. Sedikitnya dua laga fase grup telah dimainkan dalam kondisi melampaui ambang batas berbahaya itu.

Selain itu, 97 dari 104 pertandingan terjadwal kini menghadapi probabilitas lebih tinggi mengalami kondisi yang merusak performa pemain akibat perubahan iklim dibandingkan jika iklim tetap stabil. Sebanyak 25 laga fase grup berlangsung pada hari-hari ketika perubahan iklim meningkatkan kemungkinan suhu bola basah tinggi yang menggabungkan panas dan kelembapan ekstrem.

Risiko panas tidak terdistribusi merata di antara kota-kota tuan rumah. Kota-kota di selatan dan pedalaman Amerika Serikat serta Meksiko menghadapi paparan lebih besar, sementara venue terbuka seperti Miami, Kansas City, dan Philadelphia menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemungkinan tercapainya ambang batas panas berbahaya. Kondisi ini secara langsung memengaruhi tingkat kesulitan jalur yang harus dilalui tim menuju final, bergantung pada kota tempat mereka bertanding.

Uruguay menjadi contoh paling dramatis dari dampak tersebut. Timnas Uruguay tersingkir pada fase grup setelah menjalani jadwal yang sangat berat akibat kondisi ekstrem. Dua pertandingan pertama mereka dimainkan dalam kondisi panas dan kelembapan paling menekan dalam turnamen ini, keduanya di stadion tanpa pendingin udara, sebelum menghadapi Spanyol dalam laga penentu di ketinggian 1.566 meter.

"Itu adalah jadwal yang luar biasa berat yang diciptakan oleh perubahan iklim dan alam, terlepas dari siapa lawannya," kata Tom Di Liberto, ilmuwan iklim dari Climate Central.

Panas ekstrem juga terbukti mengubah karakter permainan itu sendiri. Studi yang mengkaji 57 pertandingan dan 1.070 observasi pemain dalam Piala Dunia Antarklub 2025 menemukan bahwa rata-rata WBGT melebihi 28 derajat Celsius dalam 31 pertandingan, sehingga mengekspos pemain pada risiko penyakit akibat panas ekstrem. Selama turnamen itu, jurnalis, penonton, bahkan asisten wasit pingsan. Pemain cadangan memilih tetap berada di ruang ganti, sejumlah pemain meminta diganti, dan jadwal kick-off ditunda.

Studi tersebut menemukan bahwa semakin tinggi WBGT, suhu udara, dan kelembapan, semakin sedikit jarak yang ditempuh pemain, termasuk pada berbagai kecepatan lari. Artinya, panas menjadi persoalan taktik sekaligus performa.

Kondisi ini memengaruhi pressing, transisi, tempo permainan, pergantian pemain, pemulihan, konsentrasi, dan keberanian mengambil risiko. Dalam kondisi panas, pemain harus memilih kapan tampil habis-habisan dan kapan menghemat energi. Temuan ini memperkuat studi yang lebih luas yang menunjukkan bahwa 75 persen atlet menyatakan pemanasan global memengaruhi kemampuan mereka berkompetisi.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |