Pemerintah Indonesia Belum Putuskan Evakuasi 329 WNI di Iran

21 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Pemerintah Indonesia belum membuat rencana mengevakuasi warga negaranya dari Iran. Kedutaan Besar Indonesia di Teheran mencatat ada sebanyak 329 warga negara Indonesia (WNI) yang masih bertahan di Iran. Duta Besar Luar Biasa Indonesia di Iran, Roy Soemirat menyampaikan kepada Republika, seluruh WNI yang tercatat resmi di kedutaan dan tinggal sementara di beberapa kota di Iran, terkonfirmasi dalam keadaan baik, dan selamat pascaserangan Zionis Israel-Amerika Serikat (AS) ke Negara Para Mullah itu.

“Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai WNI yang terdampak langsung secara fisik, maupun laporan adanya ancaman keamanan yang menyasar warga kita (WNI) secara spesifik,” begitu kata Roy saat dihubungi dari Jakarta, Senin (2/3/2026) dini hari. Kata dia, dari 329 WNI yang masih bertahan di Iran, didominasi kalangan akademik, maupun mahasiswa. Di antara mereka, kebanyakan berdomisili di Teheran, dan Qom di sisi selatan ibu kota.

“Untuk evakuasi, saat ini belum kita lakukan,” ujar Roy. Dia menerangkan, keputusan evakuasi harus berdasar atas perintah dari Pemerintah Indonesia di Jakarta. Pun kebijakan evakuasi itu, kata Roy dilakukan atas kewenangan penuh pemerintahan di Indonesia.

“Kebijakan mengenai evakuasi, tetap menjadi kewenangan penuh Pemerintah Pusat di Jakarta yang didasarkan pada kajian risiko komprehensif demi menjamin keberhasilan operasi di lapangan, dan detail teknis rencana kontijensi saat ini yang bersifat rahasia,” ujar dia.

Kedutaan Besar Indonesia di Iran, kata Roy tetap pada prinsip apabila evakuasi WNI dilakukan harus gelar dengan prioritas penyelamatan yang akurat. “KBRI memegang teguh prinsip bahwa setiap keputusan mengenai bantuan atau evakuasi harus dilakukan dengan tepat, terukur, dan mengutamakan keselamatan. Dan bukan sekadar mengejar kecepatan namun berisiko bagi warga,” ujar Roy. Sebelumnya, Roy juga menyampaikan tentang otoritasnya di Teheran yang mengimbau agar semua simpul WNI di Iran tetap menjalin komunikasi untuk memastikan keadaan dan keselamatan.

Iran saat ini dalam kondisi bertahan dari perang terbuka yang dilancarkan militer gabungan penjajah Zionis Israel-AS. Pada Sabtu (28/2/2026) Zionis-AS membombardir Iran dengan misil dan rudal yang meluluhlantakkan beberapa wilayah, termasuk di Ibu Kota Teheran. Agresi Zionis-AS itu, sementara ini mencatatkan angka korban jiwa lebih dari 201 warga sipil, dan melukai lebih dari 700 orang. Serangan rudal dan misil Zionis-AS itu pun menyasar sekolah anak-anak dan perempuan yang juga berujung pada munculnya korban jiwa. 

Pada Ahad (1/3/2026) Pemerintahan Iran melaporkan Wali Agung Ayatullah Ali Khamenei syahid setelah 30 rudal dan misil menghantam rumah sekaligus kantor Pemimpin Tertinggi Iran itu. Sejumlah petinggi militer dan para jenderal, pun gugur dalam serangan Zionis-AS itu. Iran yang dalam posisi diserang dan bertahan, mencoba melawan agresi itu dengan membalas serangan ke wilayah pendudukan Israel, dan basis-basis militer AS di negara-negara Teluk Arab. Iran mengirimkan drone penyerbu dan peluru-peluru kendali ke pangkalan-pangkalan militer AS di Arab Saudi, Bahrain, Dubai, Qatar, Kuwait, dan negara-negara Arab lainnya. 

Di negara-negara Teluk itu, pun banyak WNI yang berstatus sebagai pekerja. Namun Pemerintah Indonesia, maupun kedutaan Indonesia di negara-negara yang terkena dampak serangan balasan Iran itu, belum mengumumkan proses evakuasi. Sampai saat ini, serangan terhadap Iran, dan balasan serangan Iran ke wilayah pendudukan Israel, dan basis-basis militer AS di Teluk masih terus terjadi. Sejak Ahad (1/3/2026) Iran, pun menutup lalu lintas Selat Hormuz yang menjadi titik laut paling krusial dalam mobilitas logistik bahan bakar minyak di seluruh dunia.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |