Perilaku 'Santui' Orangutan Sumatera

1 day ago 9

Oleh : Inisiator Hutan Wakaf Aceh, Azhar

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam lanskap hutan hujan tropis Sumatera yang semakin terfragmentasi, Orangutan Sumatera (Pongo abelii) memainkan peran ekologis yang jauh lebih kompleks daripada sekadar ikon konservasi. Mereka bukan hanya penyebar biji, pemanjat pohon yang anggun, atau primata besar yang tampak pendiam. Orangutan adalah penjelajah halus yang membaca tekstur hutan, menafsirkan musim dan merespons dinamika ekologis dengan kecerdasan yang kerap mengejutkan para peneliti.

Salah satu aspek yang paling jarang dibahas namun menyimpan cerita penting adalah kebiasaan mereka mengonsumsi serangga. Perilaku ini, meski hanya menyumbang sejumlah kecil dari total makan harian, mengungkap lapisan-lapisan pengetahuan ekologis dan adaptasi evolusioner yang bernilai bagi pemahaman manusia tentang hutan tropis.

Dalam sejarah panjang penelitian primata, konsumsi serangga sering direduksi menjadi catatan pinggir: sekadar tambahan nutrisi atau bentuk perilaku oportunistik. Namun Orangutan Sumatera menunjukkan bahwa konsumsi serangga tidak dapat dipahami secara sederhana. Teknik-teknik mereka untuk mendapatkan serangga mencerminkan keterampilan motorik halus, pemahaman tentang perilaku mangsa, serta kemampuan mengenali struktur mikrohabitat.

Tidak setiap sarang rayap, bongkahan kayu, atau epifit sama; orangutan mempelajari perbedaan tersebut sejak usia dini melalui observasi dan pengalaman langsung. Ketika seekor orangutan menepuk sarang rayap pada batang pohon dan menunggu rayap berjatuhan langsung ke bibir, terlihatlah proses kognitif yang menautkan antisipasi, ketelitian, dan penilaian terhadap risiko atau hasil.

Teknik yang disebut “bouquet feeding” Dimana orangutan mengambil sekumpulan daun  di bagian bawah masing-masing daun menempel sarang semut, caranya dengan menyerot dedaunan itu secara bersamaan dan sangat cepat, hingga semua daun di ranting itu terambil dalam bentuk "bouquet". Artinya, mereka bisa langsung mendapatkan semut dalam jumlah yang banyak serta meminimalisir gigitan dari semut karena tangan masih terlindungi dari daun-daun.

Proses ini memperlihatkan bahwa orangutan tidak hanya berinteraksi dengan lingkungan, tetapi juga memodifikasinya demi memaksimalkan hasil pencarian makan. Dengan kata lain, perilaku ini mencerminkan bentuk primitif dari teknologi ekologis teknologi yang lahir dari pemahaman mendalam tentang material dan kondisi ekosistem.

Meski buah merupakan sekitar 50% dari total konsumsi mereka, serangga memainkan peran nutrisi yang tidak dapat diabaikan. Kandungan protein serangga, terutama pada rayap dan semut tertentu, memberikan asupan asam amino esensial yang tidak selalu tersedia pada daun muda atau buah hutan.

Betina hamil tercatat lebih sering mengonsumsi serangga dibandingkan betina non-reproduktif. Fenomena ini mengindikasikan adanya mekanisme biologis dan perilaku yang menyeimbangkan kebutuhan energi selama kehamilan dan menyusui. Seperti halnya mamalia lain, betina orangutan memerlukan nutrisi tambahan dalam fase kritis reproduksi. Namun, tidak seperti manusia yang dapat menyesuaikan pola makan melalui akses makanan beragam, orangutan bergantung sepenuhnya pada interpretasi mereka terhadap fluktuasi sumber daya hutan.

Perilaku ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih luas mengenai hubungan orangutan dengan lingkungannya. Jika konsumsi serangga meningkat selama musim paceklik buah atau selama fase reproduksi tertentu, maka pola makan ini dapat menjadi indikator sensitif terhadap kondisi ekosistem. Dalam hal ini, perilaku orangutan dapat dianggap sebagai barometer ekologis.

Perubahan kecil dalam keberadaan serangga, misalnya akibat degradasi habitat mikro, dapat berdampak terhadap pola makan, kesehatan reproduksi, dan pada akhirnya dinamika populasi mereka. Dalam dunia konservasi, memahami “sinyal halus” seperti ini sangat penting untuk merancang strategi pelestarian yang tidak hanya memadai secara teoritis tetapi juga relevan secara ekologis.

Selain urusan makan, Orangutan Sumatera dikenal memiliki repertoar perilaku yang menandakan kecerdasan ekologis. Salah satunya adalah pembuatan sarang harian.  Hanya kera besar (Orangutan, simpanse, bonobo & gorila) yang membangun sarang. Pada Primata seperti orangutan yang secara konsisten membangun sarang baru setiap hari. Aktivitas ini bukan semata rutinitas; ia merupakan bentuk evaluasi terus-menerus terhadap kondisi hutan. Pemilihan cabang yang kokoh, daun yang lebar, serta posisi relatif terhadap angin dan kemungkinan pemangsa mengindikasikan proses pengambilan keputusan yang kompleks. Ketika seekor induk memilih sarang untuk anaknya, ia memperhitungkan banyak variabel ekologis yang telah dipelajari selama bertahun-tahun.

Orangutan membuat sarang (nest) karena ini adalah bagian penting dari strategi hidup mereka di hutan. Pembuatan sarang bukan sekadar kebiasaan, tetapi merupakan kebutuhan biologis, fisiologis, dan ekologis yang sangat penting. Berikut penjelasan ilmiah mengenai penyebab orangutan membuat sarang. Orangutan membuat sarang sebagai bentuk adaptasi untuk memperoleh tempat tidur yang aman, nyaman, dan stabil di kanopi hutan.

Sarang melindungi mereka dari angin, hujan, predator, serta gangguan serangga, sekaligus membantu menghemat energi dan menjaga suhu tubuh. Selain mencegah risiko jatuh, pembuatan sarang juga menjadi bagian penting dari proses belajar anak orangutan yang meniru induknya. Orangutan bahkan membuat sarang siang yang lebih sederhana untuk beristirahat, menghindari panas, atau menyusui, sehingga perilaku membuat sarang menjadi strategi penting dalam kehidupan arboreal mereka.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |