Perubahan Iklim Ganggu Siklus Nitrogen, Ancaman Baru Ketahanan Pangan dan Lingkungan

1 day ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perubahan iklim tidak hanya menaikkan suhu bumi dan mengacaukan pola hujan, tetapi juga mengubah cara nitrogen bergerak di lahan pertanian, hutan, dan padang rumput dunia. Perubahan ini dinilai berpotensi memukul ketahanan pangan sekaligus memperburuk kualitas lingkungan global.

Ilmuwan menyebut gangguan pada siklus nitrogen dapat berdampak luas, mulai dari penurunan hasil panen, pencemaran air, hingga hilangnya keanekaragaman hayati. Dampak tersebut juga berisiko memengaruhi arah kebijakan iklim di berbagai negara.

Nitrogen merupakan unsur utama pembentuk protein dan DNA, serta penopang kesehatan tanah, tanaman, dan mikroba. Ketika alirannya tidak lagi stabil, keseimbangan ekosistem daratan ikut terganggu.

Peneliti dari Zhejiang University, Miao Zheng, mengatakan di tengah bumi yang terus memanas, nitrogen menjadi faktor kunci bagi ketahanan pangan dan kesehatan lingkungan. “Penelitian kami menunjukkan perubahan iklim mengubah pola siklus nitrogen, yang bisa mendukung keberlanjutan atau justru mendorong ekosistem ke batas kritisnya,” kata Zheng, dikutip dari Eurasianews, Selasa (6/1/2026).

Zheng dan tim menganalisis eksperimen lapangan serta simulasi global selama 30 tahun. Kajian tersebut meneliti dampak kenaikan karbon dioksida, peningkatan suhu, dan perubahan pola cuaca terhadap nitrogen di lahan pertanian, hutan, dan padang rumput.

Hasil analisis kemudian dikaitkan dengan target pengentasan kelaparan dan perlindungan air bersih di berbagai kawasan dunia.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nitrogen Cycling itu menggabungkan berbagai studi lokal untuk membentuk gambaran global. Para peneliti melacak bagaimana nitrogen masuk ke tanah, diserap tanaman, dipanen, hilang, serta disimpan dalam jangka panjang, lalu mengukurnya secara kuantitatif.

Hasilnya menunjukkan ketimpangan antarkawasan, sebagian wilayah mengalami lonjakan produksi sementara wilayah lain justru menghadapi gagal panen.

Peningkatan karbon dioksida di atmosfer berperan sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, kadar CO2 yang lebih tinggi meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil panen sekitar 21 persen pada komoditas utama seperti gandum, beras, jagung, dan kedelai.

Namun, pertumbuhan cepat tersebut menurunkan kualitas nutrisi karena kandungan nitrogen dalam tanaman mengalami pengenceran, sehingga kadar protein biji-bijian dan daun menurun.

“Lebih banyak kalori tidak otomatis berarti nutrisi yang lebih baik. Kita mungkin memanen biomassa lebih banyak, tetapi dengan kandungan nitrogen per unit yang lebih rendah, dan ini berdampak pada diet manusia serta pakan ternak,” kata peneliti Baojing Gu.

Dampak kenaikan suhu dinilai lebih mengkhawatirkan, terutama bagi pertanian di wilayah tropis dan kering. Suhu tinggi mempercepat pelepasan senyawa nitrogen reaktif ke udara dan air melalui aktivitas mikroba tanah.

Proses ini meningkatkan emisi amonia dan dinitrogen oksida sebagai gas rumah kaca, sekaligus memicu pencucian nitrat ke air tanah dan sungai, yang memperburuk polusi udara dan kualitas air.

Perubahan pola curah hujan ikut memperparah tekanan terhadap sistem nitrogen. Di wilayah kering, sedikit tambahan hujan dapat memacu pertumbuhan tanaman, tetapi di wilayah basah, kekeringan justru menyebabkan penurunan produktivitas secara tajam.

Laporan tersebut menyimpulkan perubahan iklim memperlebar ketimpangan spasial, dengan wilayah yang sudah rentan pangan dan lingkungan berpotensi menanggung risiko paling besar.

Para peneliti menyerukan pengelolaan nitrogen yang terintegrasi, mencakup praktik pemupukan, tata kelola air, dan kebijakan iklim. Mereka menilai nitrogen perlu dimasukkan lebih serius dalam kerangka kerja iklim internasional, termasuk agenda global pengendalian perubahan iklim.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |