Polemik Berlanjut, Senator Paraguay Kirim Surat Terbuka Tuntut Mbappe Minta Maaf

13 hours ago 12

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polemik antara penyerang tim nasional Prancis Kylian Mbappe dan Senator Paraguay Celeste Amarilla makin menghangat. Setelah sebelumnya dikecam keras oleh Mbappe karena dianggap melontarkan komentar bernada rasis, Amarilla kini merespons melalui sebuah surat terbuka yang ditujukan langsung kepada kapten Les Bleus.

Dalam surat tersebut, Amarilla menegaskan bahwa persoalannya bukan dengan Prancis, melainkan dengan sikap Mbappe yang menurutnya arogan sebelum, selama, hingga setelah pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Paraguay. Ia juga membantah "serangan" Mbappe yang menudingkan sosok yang tidak layak menduduki jabatan publik.

Amarilla mengaku menyesali unggahan bernada kasar yang dibuatnya sesaat setelah pertandingan. Ia mengaku menghapusnya karena merasa telah mengulangi pola kebencian yang selama ini ia rasakan dan ia kecam.

Namun, seperti tak mau disalahkan, Amarilla justru menyalahkan reaksi Mbappe yang dinilai telah menghina dirinya dan rakyat Paraguay. Ia juga menuding Mbappe merendahkan dirinya yang dianggap tak pantas menjabat sebagai senator.

Politikus yang mengeklaim terpilih melalui pemilu itu meminta Mbappe mencabut pernyataannya yang menyebut dirinya "perempuan yang memalukan dan tidak pantas menjabat". Amarilla juga mendesak penyerang Real Madrid tersebut menyampaikan permintaan maaf. Jika tidak, ia mengancam akan menempuh jalur hukum dengan alasan dugaan kekerasan terhadap perempuan.

Berikut isi lengkap surat terbuka Celeste Amarilla kepada Kylian Mbappe yang diunggah melalui media sosialnya pada Selasa (7/7/2026) pagi WIB.

Surat Terbuka untuk Mbappe

Masalah ini adalah antara kamu dan saya. Saya tidak pernah mengatakan apa pun tentang Prancis. Persoalan saya adalah denganmu. Saya bersekolah di sekolah Prancis sejak usia dua tahun hingga 17 tahun, ketika saya menyelesaikan pendidikan menengah.

Saya menjadi seperti sekarang berkat Collège de L'Immaculée Concepción. Saya berada di posisi ini berkat pendidikan yang saya terima di sana. Kami menyanyikan lagu kebangsaan La Marseillaise dan menghormati bendera Prancis bersama bendera kami. Saya berbicara bahasa Prancis dan senang berkunjung ke Prancis. Natal lalu saya habiskan bersama keluarga di Courchevel dan merayakan Tahun Baru di Saint-Tropez.

Jadi, tidak ada masalah dengan Prancis. Masalahnya adalah denganmu.

Saya sangat marah atas sikap arogan dan penghinaanmu bahkan sebelum pertandingan dimulai. Kamu berkata, "Kalau harus masuk ke dalam lumpur, kami akan masuk ke dalam lumpur." Kami bukan orang bodoh. Kami memahami dengan jelas bahwa yang kamu maksud dengan "lumpur" adalah tim Paraguay, dan bagi kami tim Paraguay adalah seluruh rakyat Paraguay.

Kemudian kamu juga mengatakan bahwa kalian akan "melepas tuksedo". Kami juga memahami maksudnya, seolah-olah kalian begitu elegan memakai tuksedo, sementara kami dianggap miskin dan kasar sehingga bahkan tidak tahu apa itu tuksedo.

Meski begitu, seluruh Paraguay memilih diam, termasuk saya. Kami menahannya.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |