Reset Amerika

5 hours ago 5

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jika ramalan Prof Jiang Xueqin benar bahwa Amerika suatu hari akan kalah dalam konflik kronis yang berpuncak pada perang besar yang sedang berlangsung melawan Iran, pertanyaan berikutnya bukan lagi siapa menang atau siapa kalah. Pertanyaan yang jauh lebih menarik adalah: setelah itu, apa yang terjadi?

Jawaban Jiang cukup mengejutkan. Ia tidak berbicara tentang kehancuran Amerika, apalagi runtuhnya negara itu seperti Uni Soviet. Ia justru berbicara tentang sesuatu yang lebih sunyi namun lebih mendalam: reset Amerika. Tapi ini agaknya berbeda dari "Reset Indonesia" gagasan rekan saya Farid Gaban dkk.

Dalam pandangan Jian, kekuatan global tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, berpindah bentuk, dan berpindah pusat. Dunia tidak sedang menuju kekacauan, melainkan sedang mengalami apa yang ia sebut sebagai structural reset — perubahan besar dalam cara kekuasaan global diatur.

Untuk memahami maksudnya, Jiang mengajak kita mundur sejenak ke tahun 1991, ketika Uni Soviet runtuh. Dunia tiba-tiba menjadi unipolar. Amerika Serikat menjadi satu-satunya kekuatan besar tanpa pesaing serius. Dari situ lahirlah apa yang disebut “New World Order”.

Tatanan dunia baru itu dibangun di atas perdagangan global. Namun karena Amerika menguasai dolar sebagai mata uang cadangan dunia, mereka juga secara tidak langsung menguasai sesuatu yang jauh lebih halus: kemampuan menentukan harga.

“Pricing,” kata Jiang, bukan sekadar harga barang di pasar. Ia adalah cara menentukan nilai seluruh aktivitas ekonomi dunia.

Dari sinilah terbentuk sebuah hierarki global yang tidak tertulis tetapi sangat nyata. Di lapisan paling bawah ada sumber daya alam. Di atasnya ada manufaktur. Di atas manufaktur ada pengetahuan dan teknologi. Dan di puncaknya ada keuangan.

Dalam pembagian kerja global itu, Jiang secara acak membagi Rusia, Afrika, dan Amerika Selatan sebagai penyedia sumber daya. China menjadi pabrik dunia. Eropa menjadi pusat pengetahuan dan teknologi. Dan Amerika berada di puncak piramida sebagai pusat keuangan global.

Secara teori, sistem ini tampak indah seperti poster ekonomi liberal. Semua negara bekerja sesuai keunggulannya, perdagangan berkembang, dan dunia tampak semakin makmur. Masalahnya, seperti banyak sistem yang tampak sempurna di papan tulis, ia menyimpan bom waktu di dalamnya.

Ketika sebuah negara terlalu fokus pada sektor finansial, kata Jiang, ekonominya perlahan berubah menjadi ekonomi spekulatif. Uang tidak lagi digunakan untuk menghasilkan barang atau teknologi, tetapi untuk menghasilkan uang yang lebih banyak lagi.

Dengan kata lain, ekonomi berubah sedikit demi sedikit menjadi kasino raksasa. Gejalanya terlihat jelas dalam krisis finansial 2008, ketika sistem keuangan Amerika hampir runtuh. Saat itu dunia berada di tepi jurang ekonomi global.

Menurut Jiang, sistem itu diselamatkan oleh sesuatu yang jarang dibicarakan secara terang-terangan: keputusan China untuk menggelontorkan investasi raksasa dalam pembangunan infrastruktur.

Bandara baru, kota baru, rel kereta cepat, pelabuhan raksasa — semuanya dibangun dalam skala yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya. Investasi besar itu membantu menjaga permintaan global tetap hidup, sehingga ekonomi dunia tidak ikut runtuh.

Tetapi langkah itu juga membuat China menanggung utang besar. Setelah itu, Beijing mulai mengatakan sesuatu yang terdengar sederhana tetapi sebenarnya sangat politis: jika kami membantu menyelamatkan ekonomi dunia, maka kami juga berhak duduk di meja kekuasaan global.

China ingin menjual teknologi mereka, bersaing dalam pasar global, dan menjadi kekuatan setara dengan Amerika. Dan tampaknya itu berhasil, terbukti mulai dari produk-produk otomotif China hingga akal imitasi alias AI.

Jawaban Washington, menurut Jiang, pada dasarnya adalah: tidak. Dari sinilah lahir perang dagang Amerika–China pada era Donald Trump. Persaingan itu kemudian meluas menjadi konflik teknologi, geopolitik, dan ekonomi global.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |