REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beras fortifikasi mulai didorong masuk ke pasar komersial yang lebih luas sebagai upaya mengatasi masalah kekurangan zat gizi mikro atau hidden hunger yang masih banyak terjadi di Indonesia. Tingginya konsumsi beras nasional dinilai menjadikan komoditas tersebut sebagai sarana paling efektif untuk meningkatkan asupan vitamin dan mineral masyarakat.
Anggota Dewan Penasihat Millers for Nutrition Budianto Wijaya mengatakan, Indonesia masih menghadapi persoalan hidden hunger atau kelaparan tersembunyi. Kondisi itu terjadi ketika seseorang tidak mengalami kekurangan pangan, tetapi tidak memperoleh cukup vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Menurut Budianto, masalah tersebut dapat berdampak pada produktivitas, perkembangan kognitif, stunting, hingga kerentanan terhadap penyakit.
"Kita masih menghadapi masalah yang disebut hidden hunger atau kelaparan tersembunyi. Orangnya tidak lapar, tetapi sesungguhnya kekurangan mikronutrien, mineral dan vitamin," ujar Budianto dalam acara Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice for Commercial Market, Rabu (24/6/2026).
Ia mengatakan, persoalan kekurangan gizi mikro tidak hanya dialami kelompok berpenghasilan rendah. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi juga masih berpotensi mengalami kekurangan zat besi dan mikronutrien lainnya akibat pola konsumsi yang kurang beragam.
Budianto mencontohkan sekitar 80 persen ibu hamil masih mengalami kekurangan zat besi. Karena itu, fortifikasi pangan dinilai menjadi salah satu strategi yang efektif untuk membantu mengatasi persoalan tersebut.
Saat ini Indonesia telah mewajibkan fortifikasi pada tiga komoditas pangan, yaitu garam beriodium, tepung terigu, dan minyak goreng yang diperkaya vitamin A. Namun, menurut dia, beras justru menjadi komoditas yang paling potensial karena dikonsumsi hampir seluruh masyarakat Indonesia setiap hari.
"Sesungguhnya yang paling layak atau paling penting untuk difortifikasi itu beras, karena konsumsi beras paling tinggi," kata Budianto.
Direktur Koalisi Fortifikasi Indonesia Nina Sardjunani mengatakan, beras fortifikasi dapat menjadi instrumen penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Teknologi fortifikasi memungkinkan penambahan zat besi, seng, vitamin B kompleks, dan asam folat ke dalam beras tanpa mengubah rasa maupun kebiasaan konsumsi masyarakat.
Menurut Nina, anemia masih menjadi masalah serius di Indonesia. Data yang dipaparkan menunjukkan satu dari tiga ibu hamil mengalami anemia, sementara kasus serupa juga banyak ditemukan pada anak-anak dan remaja.
"Anemia bukan sekadar angka. Ini merampas kecerdasan anak, produktivitas pekerja, dan daya saing bangsa," ujar Nina.
Ia menambahkan kerugian ekonomi akibat anemia diperkirakan mencapai Rp62,2 triliun per tahun. Karena itu, fortifikasi beras dinilai tidak hanya menjadi isu kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan pembangunan ekonomi nasional.
Nina menjelaskan, berbagai negara seperti India, Bangladesh, Filipina, Thailand, dan Brasil telah menerapkan fortifikasi beras untuk menekan anemia dan memperbaiki status gizi masyarakat. Indonesia juga telah melakukan uji coba sejak beberapa tahun lalu.
Dalam uji coba di Karawang, prevalensi anemia pada anak dilaporkan turun hampir 50 persen setelah mengonsumsi beras fortifikasi selama enam bulan.
Sementara itu, Indonesia Program Manager TechnoServe Evelyn Djuwidja menilai tantangan berikutnya adalah memperluas akses masyarakat terhadap beras fortifikasi dengan harga yang terjangkau.
Menurut Evelyn, kelompok berpenghasilan rendah dan menengah harus menjadi prioritas karena mereka merupakan konsumen utama beras sebagai pangan pokok.
"Target utama kita adalah keluarga berpenghasilan rendah dan menengah yang menjadikan beras sebagai makanan pokok harian mereka," kata Evelyn.
Ia berharap kerja sama antara penggilingan padi, ritel modern, pasar tradisional, sekolah, pondok pesantren, hingga sektor perhotelan dapat memperluas distribusi beras fortifikasi sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak masyarakat.

3 hours ago
7
















































