
Oleh: Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar DPN KHTI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tahun 2025 sudah kita lewati. Kini kita tengah melakoni tahun 2026. Selamat datang tahun 2026 dan selamat tinggal tahun 2025. Bagi kita, tahun 2025 merupakan tahun yang banyak mencatat sejarah dalam dunia perberasan nasional.
Selain produksi beras yang cukup melimpah, sehingga cadangan beras pemerintah menjadi kokoh, ternyata mulai tahun 2025, pemerintah berkomitmen untuk menyetop kebijakan impor beras.
Lebih keren lagi, Pemerintahan Presiden Prabowo pun telah mengumumkan kisah sukses Swasembada Beras 2025 di saat Puncak Perayaan Natal 2025.
Sebagai bangsa, tentu kita patut berbangga diri. Swasembada beras adalah prestasi yang cukup terhormat atas jerih payah para petani dalam perjuangannya menggenjot produksi beras menuju swasembada.
Pertanyaan kritisnya, apa seabrek tantangan yang harus dijawab, usai proklamasi swasembada beras dikumandangkan ? Hal ini, sebetulnya merupakan gelitikan yang perlu dipahami dengan serius oleh para penentu kebijakan di sektor perberasan.
Pertanyaan tersebut muncul, boleh jadi karena selama ini, kita tidak pernah sungguh-sungguh merancang kebijakan swasembada beras yang berkelanjutan. Bangsa ini masih terjebak dalam swasembada beras on trend.
Swasembada beras 2025, mestinya berbeda dengan swasembada beras 1984 dan 2023. Swasembada beras 2025 harus mampu melahirkan sejarah baru dalam dunia perberasan di negeri ini. Jangan lagi swasembada beras 2025 bersifat on trend.
Namun, swasembada beras 2025, betul-betul merupakan swasembada beras permanen yang sifat utamanya berlangsung secara berkelanjutan.
Jujur diakui, kata kunci tercapainya swasembada beras, pada dasarnya ditentukan oleh produksi beras yang dihasilkan petani di dalam negeri.
Tanpa produksi yang berlimpah dan mampu mencukupi kebutuhan beras di dalam negeri, dapat dipastikan tidak akan pernah ada yang namanya swasembada beras. Hal inilah yang butuh pemahaman lebih saksama. Itu sebabnya, menjadi sangat masuk akal kalau Pemerintahan Presiden Prabowo memberi perhatian khusus terhadap upaya peningkatan produksi beras.
Akibatnya, produksi beras 2025, berdasarkan prediksi Badan Pusat Statistik (BPS) mampu mencapai 34,77 juta ton. Angka ini jauh di atas kebutuhan konsumsi masyarakat sebesar 30,9 juta ton dan target yang ditetapkan.
Ada beberapa alasan mengapa produksi beras 2025 cukup melonjak dengan angka cukup signifikan. Paling tidak, ada lima faktor yang menjadi penyebab utamanya. Pertama, adanya perbaikan infrastruktur irigasi.
Pemerintah telah melakukan perbaikan infrastruktur irigasi, termasuk pompanisasi, untuk meningkatkan efisiensi pengairan dan memperluas lahan pertanian.
Kedua, terkait ketersediaan pupuk bersubsidi yang memadai telah membantu meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Ketiga, implementasi teknologi pertanian modern. Penggunaan teknologi pertanian modern meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian.
Keempat, perluasan areal tanam telah meningkatkan produksi beras nasional. Dan kelima, mekanisasi pertanian telah membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian.
Menurut BPS, produksi beras nasional pada periode Januari-Maret 2025 mencapai 8,67 juta ton, meningkat 52,32 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Untuk produksi beras 2025 sendiri, Badan Pusat Statistik ( BPS) memprediksi produksi beras nasional akan mencapai 34,77 juta ton pada musim tanam 2025/2026. Bahkan Badan Pangan Dunia (FAO) memproyeksikan dengan angka yang lebih tinggi lagi.
Berbasiskan pada data yang ada, Pemerintahan Presiden Prabowo, secara resmi mengumumkan keberhasilan swasembada beras 2025 ini pada awal tahun 2026.
Sebagai warga bangsa, tentu kita berharap agar swasembada beras 2025 ini berbeda dengan swasembada beras yang diraih selama ini. Kita ingin agar swasembada beras 2025 adalah swasembada beras yang sifatnya berkelanjutan.
Namun begitu, penting disadari, mewujudkan swasembada beras berkelanjutan, bukanlah hal mudah untuk ditempuh. Tidak juga segampang kita membolak-balik telapak tangan. Terlalu banyak tantangan dan hambatan yang harus diselesaikan.
Tantangan utama mewujudkan swasembada beras berkelanjutan di Indonesia antara lain, pertama, perubahan iklim dapat memengaruhi produksi beras, seperti kekeringan, banjir, dan perubahan pola musim.
Kedua, konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian, seperti permukiman dan industri, dapat mengurangi luas lahan pertanian. Ketiga, degradasi lahan dapat mengurangi produktivitas lahan pertanian.
Keempat, keterbatasan sumber daya air dapat mempengaruhi produksi beras. Kelima, ketergantungan pada pupuk kimia dapat merusak lingkungan dan mengurangi kesuburan tanah.
Keenam, kurangnya infrastruktur, seperti irigasi dan jalan, dapat mempengaruhi distribusi hasil pertanian. Ketujuh, peningkatan populasi dapat meningkatkan permintaan beras, sehingga perlu peningkatan produksi.Kedelapan, perubahan pola konsumsi masyarakat dapat mempengaruhi permintaan beras.
Dihadapkan pada seabrek tantangan yang mengadang, tentu dibutuhkan kebijakan dan program yang bersifat terobosan. Bukan langkah yang biasa-biasa saja.
Terobosan cerdas untuk menghadapi tantangan perwujudan swasembada beras berkelanjutan di antaranya penerapan pertanian presisi. Gunakan teknologi seperti drone, sensor, dan AI untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya air dan pupuk.
Selanjutnya, penerapan sistem irigasi pintar. Implementasikan sistem irigasi pintar yang dapat mengatur penggunaan air secara optimal. Kemudian, penggunaan varietas padi unggul. Kembangkan varietas padi unggul yang tahan terhadap perubahan iklim dan memiliki produktivitas tinggi.
Lalu, pengembangan pertanian vertikal. Implementasikan pertanian vertikal untuk meningkatkan produksi beras di lahan yang terbatas. Bisa juga pengembangan teknologi blockchain. Gunakan teknologi blockchain untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi rantai pasok beras.
Penting juga penerapan program edukasi. Lakukan program edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya swasembada beras berkelanjutan.
Selain itu, perlu terus dikembangkan kerja sama pemerintah-swasta. Lakukan kerja sama antara pemerintah dan swasta untuk meningkatkan investasi dan pengembangan teknologi pertanian.
Terakhir, pentingnya pengembangan infrastruktur. Kembangkan infrastruktur pertanian, seperti jalan dan irigasi, untuk meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi distribusi hasil pertanian.

1 day ago
10







































