Sepekan di Darunnajah Mengubah Cara Pandang Santri Malaysia

11 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pukul 03.30 dini hari, Jakarta masih terlelap. Udara dingin menyusup pelan melalui celah jendela asrama. Namun di Pesantren Darunnajah, suasana sudah bergerak. Sebanyak 25 santri asal Malaysia perlahan bangkit dari tempat tidur, berjuang melawan kantuk untuk bersiap menunaikan salat tahajud, sebuah rutinitas yang bagi sebagian dari mereka terasa nyaris mustahil beberapa hari sebelumnya.

Di negeri asalnya, bangun menjelang Subuh sudah dianggap luar biasa. Bangun jauh sebelum itu adalah cerita lain. Beberapa santri mengaku belum pernah merasakan bangun sedini ini sepanjang hidup mereka. Tapi rasa canggung berubah menjadi tekad ketika melihat santri Indonesia telah lebih dulu bergegas ke kamar mandi, bergerak tanpa keluh, seolah dini hari adalah kawan lama.

“Awalnya memang berat. Sangat berat,” ujar salah seorang peserta dari rombongan SABP Maahad Ahmadi Negeri Sembilan. “Tapi lama-lama terbiasa.” Kalimat sederhana itu terucap dengan senyum kecil, seolah ia sendiri tak menyangka bisa melewati hari-hari awal yang melelahkan.

Selama satu pekan di akhir Desember 2025, para santri Malaysia menjalani hidup sebagai santri Darunnajah. Bangun sebelum Subuh, tahajud, salat berjamaah lima waktu, mengaji Al-Qur’an, mengikuti kajian fikih dan tafsir, hingga latihan muhadharah. Semua mengalir rapi, nyaris tanpa aba-aba keras, seolah ritme itu sudah menjadi napas pesantren.

Yang membuat mereka paling takjub justru bukan jadwal yang padat, melainkan siapa yang menggerakkannya. Bukan ustaz, bukan pengurus pondok. Semua dijalankan oleh sesama santri yang tergabung dalam Organisasi Santri Darunnajah (OSDN). Dari membangunkan tidur dini hari, mengatur makan, hingga memimpin apel, semuanya dilakukan oleh santri.

Bagi para peserta dari Malaysia, sistem ini terasa asing sekaligus mengagumkan. Mereka baru menyadari bahwa kepemimpinan bisa dilatih sejak dini, bukan menunggu usia matang. Di Darunnajah, santri bukan sekadar objek pendidikan, melainkan subjek yang dipercaya mengelola kehidupan bersama.

MD Nasir Bin Othman, pimpinan rombongan Malaysia, melihat OSDN sebagai laboratorium kepemimpinan yang hidup. “Santri Indonesia dilatih memimpin sejak muda. Ini pengalaman penting bagi anak-anak kami,” ujarnya. Ia berharap relasi pesantren Indonesia–Malaysia dapat terus terjalin, saling belajar demi masa depan pendidikan Islam.

Pimpinan Pesantren Darunnajah, K.H. Hadiyanto Arief, menyebut sistem itu sebagai bagian dari visi jangka panjang. “Kami ingin santri tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga matang secara kepemimpinan dan budaya,” katanya. Program internasional ini, menurutnya, adalah jembatan peradaban.

Kejutan lain datang dari soal bahasa. Di Darunnajah, bahasa Arab dan Inggris menjadi bahasa percakapan sehari-hari. Siapa pun yang berbicara bahasa Indonesia di luar waktu tertentu akan ditegur, oleh sesama santri. Beberapa peserta Malaysia memilih diam di hari-hari awal, takut salah ucap, takut ditertawakan.

Namun ketakutan itu perlahan luruh. Santri pendamping tak pernah mencemooh. Mereka mengoreksi dengan senyum, membetulkan dengan sabar. Menjelang akhir program, beberapa peserta yang semula pemalu sudah berani tampil berpidato singkat dalam bahasa Arab, meski masih terpatah-patah.

Kesederhanaan hidup pesantren juga meninggalkan kesan mendalam. Tidur beralas tikar di kamar bersama, makan dengan lauk seadanya, berbagi kamar mandi dan fasilitas, semuanya dijalani tanpa protes. Di sinilah para tamu belajar bahwa kenyamanan tidak selalu lahir dari kelimpahan.

Momen paling mengundang tawa justru terjadi ketika para santri Malaysia belajar memakai sarung. Ada yang melilit terlalu longgar hingga melorot saat berjalan. Ada pula yang terlalu kencang sampai langkahnya kaku. Tawa pecah, bantuan datang, dan keakraban pun tumbuh tanpa disadari.

Dari hal-hal kecil itulah ukhuwah terbentuk. Bukan dari ceramah panjang, melainkan dari pengalaman bersama, tertawa, belajar, dan saling menolong. Ketua Yayasan Darunnajah, K.H. Busthomi Ibrahim, Ph.D., menyebut inilah ruh pesantren. “Pesantren Indonesia punya sistem yang sudah teruji ratusan tahun. Kami senang bisa berbagi,” ujarnya.

Menjelang kepulangan, para santri berkumpul dalam sesi refleksi. Beberapa tak kuasa menahan air mata. Perpisahan dengan sahabat baru terasa berat, meski hanya sepekan bersama. Mereka akan merindukan azan Subuh yang menggema di sunyi Jakarta, juga rutinitas yang perlahan mengubah diri.

MD Nasir berharap program ini dapat berlanjut dengan durasi lebih panjang. Sepekan, katanya, memang singkat, tetapi cukup untuk membuka mata. Bahwa pesantren Indonesia menyimpan nilai-nilai yang relevan bagi zaman apa pun.

Pesan itu sejalan dengan nasihat Dr. KH. Sofwan Manaf, Presiden Universitas Darunnajah: lembaga yang kuat tidak bergantung pada satu figur, melainkan pada sistem yang diwariskan lintas generasi. Program Pesantren Kilat Internasional adalah bagian dari ikhtiar itu, memperkenalkan pesantren kepada dunia.

Di tengah zaman yang bergerak cepat, pesantren dengan segala kesederhanaannya ternyata masih mampu memikat hati. Di sanalah, pada dini hari yang sunyi, makna disiplin, kebersamaan, dan ketenangan menemukan rumahnya.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |