Azhril Rasya Putra
Teknologi | 2026-07-08 11:29:57
Oleh: Azhril Rasya Putra
Pernahkah Anda menyadari betapa ironisnya kehidupan kita saat ini? Kita hidup di era hyper-connected, di mana jarak ribuan kilometer bisa dilipat dalam hitungan detik melalui panggilan video. Namun, di tengah segala kemudahan untuk terus online dan terhubung, banyak dari kita yang justru merasa sangat terasing. Kita berada dalam sebuah keramaian virtual yang bising, tetapi di saat yang sama, kita diam-diam mendekap kesepian.
Kehadiran social media pada awalnya menjanjikan jembatan untuk mendekatkan yang jauh. Namun praktiknya, ia sering kali justru menjauhkan yang dekat. Coba perhatikan meja-meja di kafe atau ruang keluarga di rumah. Sangat mudah menemukan sekumpulan orang duduk bersama, namun masing-masing sibuk melakukan scrolling tanpa henti di layar gawainya. Kita lebih peduli pada likes dan followers dari orang asing, ketimbang mendengarkan cerita utuh dari sahabat yang duduk tepat di depan mata.
Fenomena ini diperparah dengan mewabahnya Fear of Missing Out atau yang lebih akrab disingkat FOMO. Algoritma dirancang sedemikian rupa untuk menahan atensi kita selama mungkin. Akibatnya, ada dorongan kompulsif untuk terus-menerus memantau timeline atau feed Instagram. Kita merasa tertinggal jika tidak segera merespons chat, atau jika tidak ikut berkomentar pada isu yang sedang trending topic. Kehidupan kita perlahan berubah menjadi etalase digital yang menuntut update tanpa henti.
Dampak dari gaya hidup ini tidak bisa diremehkan. Kelelahan mental atau burnout menjadi penyakit endemik masyarakat modern. Ketika batas antara dunia maya dan dunia nyata menjadi kabur, otak kita tidak pernah benar-benar beristirahat. Otak terus dibombardir oleh notifikasi push, e-mail pekerjaan di akhir pekan, hingga informasi tak berujung dari berbagai platform. Kita perlahan kehilangan kemampuan untuk sekadar duduk diam dan menikmati momen tanpa harus mendokumentasikannya.
Untuk menemukan kembali sisa-sisa kemanusiaan kita, barangkali kita perlu membiasakan diri melakukan digital detox sebuah puasa gawai secara berkala. Ini bukan berarti kita harus memusuhi teknologi atau menghapus semua gadget dari hidup kita. Sebaliknya, ini adalah upaya sadar untuk mengambil kembali kendali. Kita harus senantiasa menyadari bahwa smartphone adalah alat yang melayani kita, bukan kita yang menjadi budak layar kaca.
Mari sesekali mematikan fitur auto-sync atau meletakkan ponsel di ruangan berbeda saat kita sedang beristirahat. Mari kembali merasakan tekstur kehidupan nyata yang kadang membosankan, tidak sempurna, namun senantiasa hangat. Di belantara digital yang serba cepat ini, menjadi manusia seutuhnya berarti memiliki keberanian untuk secara sadar memilih kapan kita harus offline, agar kita bisa benar-benar 'hadir' untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

8 hours ago
11






































