REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- International Islamic Expo 2026, pameran wisata Muslim internasional di Indonesia, akan kembali digelar di Jakarta International Convention Center (JCC) pada 26—28 Juni 2026. Ajang bertema The 16th Islamic Tourism Exchange tersebut memperkuat posisinya sebagai platform strategis yang memfasilitasi kebutuhan ibadah dan wisata Muslim melalui pameran, seminar, serta jejaring bisnis.
Acara tersebut merupakan kolaborasi antara PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), PT Aliya Kreasindo selaku penyelenggara, dan Kementerian Pariwisata. Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai negara serta menghadirkan beragam produk unggulan untuk wisata Muslim, haji, dan Umroh, mulai dari maskapai penerbangan, hotel, penyedia visa, asuransi perjalanan, transportasi, hingga berbagai destinasi wisata internasional.
“Dalam penyelenggaraan selama tiga hari ada beberapa agenda besar, tidak hanya pameran tetapi juga pertemuan bisnis business to business (B2B). Kami menghadirkan dua area, yaitu international area dan domestic area. Di international area, kami menghadirkan kurang lebih 40 peserta pameran dari mancanegara, baik dari Arab Saudi maupun negara-negara Muslim lainnya,” ujar Direktur Utama PT Aliya Kreasindo Mutia Andriastuti dalam konferensi pers International Islamic Expo 2026 di BSI Tower, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Mutia mengatakan sekitar 119 peserta pameran akan hadir dalam ajang tersebut. Sekitar 45 persen di antaranya merupakan peserta dari luar negeri. Adapun target pengunjung diperkirakan mencapai 25 ribu orang.
“Pada tahun ini kami menargetkan kunjungan sebanyak 25 ribu orang, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang mencapai 22 ribu pengunjung dan pembeli, baik dari dalam maupun luar negeri,” ujarnya.
Ia menambahkan, seiring target jumlah pengunjung yang meningkat, nilai transaksi juga ditargetkan mengalami kenaikan.
“Tahun ini kami menargetkan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp 103 miliar menjadi sekitar Rp 115 miliar,” ungkapnya.
Ekosistem Industri Halal Terus Tumbuh
Senior Vice President Islamic Ecosystem Group PT BSI Rima Dwi Permatasari menuturkan BSI sebagai official banking partner dalam International Islamic Expo 2026 optimistis ajang tersebut mampu menarik banyak pengunjung dan mencatatkan nilai transaksi yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian.
“Saya rasa kita harus tetap optimistis terhadap perekonomian. Berbagai indikator menunjukkan pertumbuhan di tengah kondisi geopolitik yang memanas, yang oleh banyak pihak dinilai berpotensi memengaruhi konsumsi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Rima.
Menurut dia, sejumlah indikator dalam ekosistem industri halal masih menunjukkan pertumbuhan yang resilien. Pada Ramadhan tahun lalu, penghimpunan zakat meningkat 25 persen atau lebih dari Rp 1 triliun. Sementara itu, nilai transaksi Qurban meningkat 34 persen atau sekitar Rp 600 miliar.
“Jadi saya rasa optimisme itu juga akan terjadi pada ekosistem haji dan Umroh,” katanya.
Rima mengatakan ekosistem syariah BSI terus tumbuh, terutama pada sektor zakat, infak, dan sedekah yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem haji dan Umroh.
Ia mengungkapkan BSI mencatat pertumbuhan aset yang positif. Pada 2025, aset BSI mencapai sekitar Rp 456 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp 460 triliun pada Maret 2026.
“Pertumbuhan ini didukung oleh berbagai lini bisnis yang menjadi bagian dari ekosistem syariah. Dari ekosistem haji, BSI kini memiliki sekitar 7,26 juta rekening tabungan haji atau tumbuh 24,3 persen. Sebanyak 83 persen atau 169 ribu Jamaah haji Indonesia berangkat melalui BSI. Dari sisi Umroh, data menunjukkan dari 1,6 juta Jamaah Umroh Indonesia, sekitar 84 persen menggunakan layanan BSI,” ungkapnya.

9 hours ago
10
















































