Buya Hamka dalam Pandangan Masyarakat Malaysia: Jejak Pemikiran dan Warisan Budaya Serumpun

17 hours ago 15

Image Yusriman

Humaniora | 2026-06-05 01:57:55

Penulis: Fadlillah dan Yusriman

(Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Mahasiswa S2 Kajian Budaya Pascasarjana Universitas Andalas)

Presepsi terhadap Buya Hamka di kalangan masyarakat Malaysia menunjukkan adanya pengakuan yang kuat terhadap posisi Hamka sebagai ulama, intelektual, dan tokoh budaya Melayu-Nusantara yang memiliki pengaruh lintas negara. Temuan awal ini terlihat dari jawaban responden, Dr. Mohammad Alinor bin Abdul Kadir, seorang akademisi Malaysia berusia 56 tahun yang berpendidikan doktor (PhD).

Responden menyatakan telah mengenal Buya Hamka melalui pendidikan formal dan mengidentifikasi Hamka terutama sebagai seorang ulama. Pengakuan ini menunjukkan bahwa citra Hamka di Malaysia masih sangat erat dengan otoritas keilmuan Islam yang dimilikinya. Selain itu, responden juga mengetahui kiprah Hamka sebagai sastrawan, politisi, dan budayawan, yang menandakan bahwa pemahaman terhadap sosok Hamka tidak terbatas pada satu dimensi keulamaan semata, melainkan mencakup berbagai peran sosial dan intelektual yang pernah dijalankannya.

Karya yang pernah dibaca oleh responden adalah Ayahku, sebuah karya autobiografis yang memuat refleksi Hamka mengenai sosok ayahnya, Haji Rasul. Pilihan karya ini menarik karena menunjukkan bahwa akses masyarakat Malaysia terhadap Hamka tidak hanya melalui karya-karya keagamaan seperti Tafsir Al-Azhar, tetapi juga melalui karya yang mengandung nilai sejarah, budaya, dan pembentukan identitas Melayu-Muslim. Hal ini memperlihatkan bahwa karya Hamka berfungsi sebagai medium transmisi nilai budaya yang melampaui batas negara bangsa.

Dalam konteks relevansi pemikiran, responden menilai bahwa karya dan gagasan Hamka masih sangat relevan bagi masyarakat Malaysia masa kini. Penilaian tersebut mengindikasikan bahwa persoalan-persoalan yang dibahas Hamka, seperti pendidikan Islam, moralitas, pembangunan karakter, dan hubungan agama dengan kehidupan sosial, masih dianggap sesuai dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Dengan demikian, Hamka tidak hanya dipandang sebagai tokoh historis, tetapi juga sebagai sumber pemikiran yang tetap aktual.

Dari perspektif budaya, nilai yang paling kuat tercermin dalam karya-karya Hamka menurut responden adalah religiusitas atau keislaman. Temuan ini memperlihatkan bahwa penerimaan terhadap Hamka di Malaysia banyak bertumpu pada identitas bersama sebagai masyarakat Melayu-Muslim. Religiusitas dalam karya-karya Hamka dipandang bukan sekadar ekspresi keagamaan, melainkan juga fondasi kebudayaan yang membentuk cara pandang masyarakat Melayu terhadap kehidupan. Oleh sebab itu, Hamka dapat dipahami sebagai representasi dari tradisi intelektual Islam-Melayu yang berkembang di kawasan Nusantara.

Lebih jauh lagi, responden menilai bahwa Hamka memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan pemikiran Islam di Malaysia. Penilaian ini memperkuat asumsi bahwa jaringan intelektual Islam di Asia Tenggara tidak dapat dipisahkan oleh batas-batas nasional. Gagasan-gagasan Hamka diterima dan menjadi rujukan oleh sebagian masyarakat Malaysia karena memiliki kedekatan bahasa, budaya, serta tradisi keagamaan yang sama. Bahkan, responden menilai karya-karya Hamka masih layak dijadikan sumber rujukan bagi generasi muda Malaysia.

Aspek menarik lainnya adalah pengakuan responden terhadap peran Hamka dalam mempererat hubungan budaya Indonesia dan Malaysia. Hamka dipandang sebagai tokoh yang berkontribusi dalam membangun kesadaran mengenai kesamaan akar budaya Melayu di kedua negara. Pandangan ini semakin diperkuat oleh pernyataan responden yang melihat Hamka sebagai bagian dari warisan budaya Melayu Nusantara yang juga dimiliki oleh Malaysia. Dengan kata lain, resepsi terhadap Hamka tidak hanya bersifat keagamaan atau intelektual, tetapi juga berkaitan dengan konstruksi identitas budaya serumpun.

Meskipun demikian, responden menilai bahwa pengenalan masyarakat Malaysia terhadap Hamka saat ini masih bersifat terbatas. Tantangan utama yang dihadapi dalam memperkenalkan kembali sosok Hamka adalah perubahan zaman, khususnya kecenderungan generasi muda yang semakin kurang membaca karya-karya klasik. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pentingnya posisi Hamka dalam khazanah intelektual Melayu-Islam dengan tingkat keterpaparan generasi muda terhadap pemikirannya.

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa resepsi Buya Hamka di kalangan sebagian masyarakat Malaysia bersifat sangat positif. Hamka dipandang sebagai ulama berpengaruh, intelektual Islam, sastrawan, sekaligus simbol warisan budaya Melayu-Nusantara. Karya dan pemikirannya masih dianggap relevan serta memiliki kontribusi penting dalam memperkuat hubungan budaya Indonesia–Malaysia. Namun demikian, tantangan regenerasi pembaca dan perubahan pola konsumsi pengetahuan menjadi faktor yang perlu diperhatikan agar warisan intelektual Hamka tetap dikenal oleh masyarakat Malaysia pada masa mendatang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |