REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) siap mendukung langkah pemerintah dalam mendorong diversifikasi energi nasional dan optimalisasi pemanfaatan energi domestik, termasuk upaya memperluas penggunaan compressed natural gas (CNG). Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan PGN memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan gas bumi, baik melalui jaringan pipa maupun moda nonpipa seperti CNG dan LNG.
"Dari sisi kesiapan, PGN saat ini telah memiliki infrastruktur CNG berupa 14 SPBG/mother station dan empat mobile refueling unit (MRU)," ujar Fajriyah saat dihubungi Republika di Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Fajriyah menyampaikan subholding gas Pertamina tersebut juga memiliki kapabilitas teknis dan operasional dalam distribusi gas nonpipa. Selain itu, infrastruktur dan fasilitas CNG PGN mampu menjangkau pelanggan di sektor transportasi, komersial, dan industri di berbagai wilayah.
"PGN siap mendukung kajian pemerintah dalam merumuskan model implementasi CNG yang tepat sasaran, ekonomis, dan berkelanjutan, termasuk sinkronisasi dengan kebijakan harga, infrastruktur, dan tata niaga," kata Fajriyah.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan uji coba tabung compressed natural gas (CNG) berkapasitas 3 kilogram dapat selesai pada kisaran Juli–Agustus 2026.
“Sekarang lagi diuji coba tahap ketiga. Insya Allah, doakan, Juli ini atau Agustus sudah bisa kami selesaikan,” ujar Bahlil setelah meresmikan Mini LNG Plant PT Sumber Aneka Gas di Tuban, Jawa Timur, Kamis (25/6/2026).
CNG bukan teknologi baru karena telah digunakan di sektor perhotelan, restoran, kafe (horeka), hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, pemanfaatannya selama ini masih terbatas pada tabung berkapasitas besar, yakni di atas 10 hingga 20 kilogram.
Saat ini, Indonesia melakukan uji coba tabung CNG berkapasitas 3 kilogram di China dan Indonesia.
Uji coba tersebut dilakukan untuk mengembangkan tabung CNG berukuran kecil yang setara dengan tabung LPG 3 kilogram.
Menurut Bahlil, tantangan utama dalam uji coba tersebut adalah aspek teknis karena tekanan gas CNG mencapai sekitar 200–250 bar, jauh lebih tinggi dibandingkan LPG yang berada pada kisaran 5–10 bar.
“Kalau itu (uji coba tabung) selesai, baru kami bisa dorong secara massal untuk beberapa tempat yang bisa kami lakukan,” kata Bahlil.
Ia mengatakan pemerintah terus mengkaji penggunaan CNG sebagai alternatif pengganti LPG tabung 3 kilogram guna mengurangi ketergantungan impor energi. Oleh karena itu, uji coba terus dilakukan.
Bahlil mengatakan rata-rata konsumsi LPG Indonesia mencapai lebih dari 8,5 juta metrik ton (metric ton/MT) per tahun. Namun, produksi LPG nasional baru sekitar 1,91 juta MT sehingga sekitar 7,47 juta MT masih harus dipenuhi melalui impor.
CNG memiliki keunggulan karena seluruh bahan bakunya tersedia di dalam negeri, termasuk sumber gas alam yang melimpah. Pemerintah juga menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang berpotensi dialokasikan untuk kebutuhan domestik. Oleh karena itu, Bahlil berupaya mempercepat adopsi CNG sebagai alternatif LPG untuk mewujudkan kemandirian dan kedaulatan energi.

10 hours ago
12
















































