REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yayan Sopyan, Guru Besar dan Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta
Setiap 17 Ramadhan, umat Islam memperingati Nuzulul Qur’an—peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw. di Gua Hira. Wahyu itu adalah Surah al-‘Alaq ayat 1–5, yang dalam tradisi Indonesia diperingati bukan hanya sebagai momentum keagamaan, tetapi juga sebagai peristiwa nasional.
Ayat pertama yang turun diawali dengan satu kata kunci: Iqra’—bacalah. Perintah ini bukan sekadar ajakan membaca teks, melainkan fondasi gerakan kenabian dan peradaban Islam. Secara bahasa, iqra’ berarti membaca. Namun maknanya jauh lebih luas: merenung, meneliti, memahami. Membaca bukan hanya huruf, tetapi juga realitas. Bukan hanya teks, tetapi juga konteks.
Al-Qur’an mengajak manusia membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, membaca perjalanan sejarah, dan membaca kondisi kemanusiaan. Karena itu, perintah tersebut disertai kalimat, “dengan nama Tuhanmu”, yang menegaskan bahwa aktivitas intelektual harus berakar pada kesadaran tauhid. Ilmu tanpa orientasi moral dan spiritual berisiko kehilangan arah. Ia dapat berubah menjadi alat dominasi, bukan sarana pembebasan.
Kata iqra’ bahkan diulang dua kali. Pada ayat ketiga ditegaskan kembali: “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar manusia dengan pena.” Pengulangan ini menekankan pentingnya pengetahuan dan proses belajar yang terus-menerus. Peradaban dibangun oleh pena—oleh tradisi ilmu dan kesadaran kritis. Pertanyaannya, sudahkah kita sungguh-sungguh membaca zaman kita hari ini?
Di tengah semarak Ramadhan dan pencarian Lailatul Qadar, kita justru menyaksikan ironi: kepedulian sosial yang melemah. Kita fasih membaca ayat-ayat suci, tetapi sering kali gagap membaca luka sosial. Kita khusyuk dalam ritual, namun mudah lalai terhadap tangisan korban bencana dan konflik.
Lemahnya kepedulian ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dalam kultur materialistik yang mengukur keberhasilan dengan kekayaan, jabatan, dan gaya hidup. Nafsu di sini bukan sekadar dorongan biologis, melainkan hasrat tak terkendali untuk memiliki dan menguasai. Ketika ambisi menjadi pusat orientasi, empati perlahan tersisih. Nilai kemanusiaan kalah oleh kalkulasi keuntungan.
Padahal penderitaan masih nyata di sekitar kita. Musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan berbagai daerah lain menyisakan luka panjang. Korban longsor dan banjir lumpur masih bergulat dengan kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan anggota keluarga. Penanganan yang belum optimal serta belum jelasnya pertanggungjawaban atas kerusakan lingkungan menambah rasa ketidakadilan. Perhatian publik sering cepat bergeser, sementara derita di lapangan belum benar-benar pulih.
Di tingkat global, tragedi kemanusiaan di Palestina terus berlangsung. Korban sipil berjatuhan, infrastruktur hancur, dan masa depan generasi muda terancam. Dunia menyaksikan, mengecam, lalu perlahan terbiasa. Empati internasional kerap bersifat musiman—menguat saat gambar memilukan memenuhi layar, lalu meredup ketika sorotan media beralih.
Kepedulian yang temporer adalah bentuk lain dari ketidakadilan. Ia hadir saat emosi memuncak, tetapi absen ketika komitmen jangka panjang dibutuhkan. Padahal membaca realitas, sebagaimana makna iqra’, menuntut konsistensi: keberanian untuk terus melihat, memahami, dan bertindak, bahkan ketika sorotan telah padam.
Lailatul Qadar sering dimaknai sebagai malam kemuliaan dan pengampunan. Namun kemuliaan tidak hanya dicari dalam sunyi doa, melainkan juga diwujudkan dalam keberpihakan pada kemanusiaan. Ramadhan dan Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momentum kebangkitan kesadaran—bahwa membaca wahyu harus berujung pada pembelaan terhadap yang lemah, bahwa tauhid harus melahirkan keadilan sosial.
Jika iqra’ benar-benar kita hayati, maka kita tidak boleh berhenti pada membaca teks. Kita harus membaca penderitaan, membaca ketimpangan, dan membaca kerakusan yang merusak lingkungan serta kehidupan. Dari pembacaan itulah lahir tindakan: solidaritas yang berkelanjutan, kontrol sosial terhadap kekuasaan, dan keberanian menuntut tanggung jawab.
Mungkin inilah makna terdalam Lailatul Qadar di zaman ini: bukan sekadar malam yang lebih baik dari seribu bulan, tetapi momentum untuk melahirkan kesadaran yang lebih baik dari seribu wacana. Sebab Al-Qur’an pertama kali turun bukan untuk dipajang, melainkan untuk mengubah manusia—dari yang abai menjadi peduli, dari yang serakah menjadi berkeadilan, dan dari yang pasif menjadi pembela kemanusiaan.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

18 hours ago
8





































