Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bangsa Indonesia belakangan ini sedang akrab dengan satu jenis tontonan nasional: skandal yang diputar seperti sinetron stripping tanpa episode tamat.
Belum hilang dari ingatan, publik ribut soal pagar laut, tambang nikel, mafia minyak goreng, korupsi BTS, sampai pejabat yang hartanya tumbuh lebih cepat dari padi musim hujan.
Belum selesai satu drama, datang episode baru seperti gerbong kereta bocor yang terus menumpahkan lumpur.
Kita marah tiga hari, bikin meme dua hari, lalu lupa di hari keenam. Negeri ini akhirnya mirip warung kopi politik: semua orang mengeluh sambil mengepulkan asap, tetapi tetap memesan racikan yang sama dari dapur yang sama.
Nah, di titik itulah tulisan teranyar Belén Fernández di Al Jazeera terasa seperti tamparan yang dicelup sambal setan. Pedasnya bukan di pipi, tapi di kesadaran.
Ia menyebut dunia hari ini sedang masuk fase “Everythinggate”: keadaan ketika semua hal sudah menjadi skandal, sehingga skandal itu sendiri kehilangan daya kejutnya.
Bayangkan alarm kebakaran yang berbunyi setiap menit. Pada akhirnya orang bukan lari menyelamatkan diri, tetapi malah tidur sambil menumpuk bantal di telinga.
Belén Fernández bukan penulis sembarangan. Ia kolumnis Al Jazeera yang lama menulis soal imperialisme Amerika Latin, Timur Tengah, dan kebusukan geopolitik global.
Ia bukan tipe wartawan yang puas berdiri memotret asap dari kejauhan. Ia masuk ke dapur tempat kompor meledak, lalu bertanya siapa yang sengaja menuang bensin.
Tulisan Fernández berjudul The US, Israel and the normalisation of scandal itu dibuka dengan kasus “Hondurasgate”, bocoran audio yang mengungkap dugaan operasi Amerika Serikat dan Israel di Amerika Latin.
Salah satunya tentang mantan Presiden Honduras Juan Orlando Hernández, narapidana kasus narkoba yang disebut-sebut dibebaskan demi proyek geopolitik baru Washington dan Tel Aviv.
Dulu, skandal seperti ini bisa mengguncang dunia seperti gempa politik. Sekarang? Dunia hanya menguap sambil scrolling TikTok, sesekali berhenti untuk memberi tanda hati pada video joget kucing.
Di sinilah tragedinya. Kita hidup di zaman ketika kejahatan politik tidak lagi datang diam-diam seperti pencuri ayam yang takut kentongan ronda. Ia datang memakai karpet merah, konferensi pers, lampu sorot televisi, bahkan kadang diiringi marching band nasionalisme.
Donald Trump misalnya, dalam tulisan itu digambarkan seperti perpaduan presiden, bintang reality show, sales obat kuat tengah malam, dan admin akun meme yang kehilangan rem.
Trump disebut pernah menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro dengan tuduhan “narco-terrorism”. Netanyahu lalu memuji operasi itu seperti komentator sepak bola yang baru melihat gol salto.
Dunia? Sibuk membahas outfit Met Gala.
Sesudah itu muncul lagi perang Iran, ancaman mengkiamatkan negeri mullah itu. Lalu, pemboman kapal, embargo Kuba, sampai Gaza yang berubah menjadi laboratorium kematian modern dengan 73 ribu korban.
Awal tahu ini, investigasi Al Jazeera Arabic mengungkap sesuatu yang terdengar seperti adegan film kiamat murahan, tetapi sayangnya nyata: ribuan warga Palestina di Gaza disebut “menguap” akibat bom termal dan termobarik buatan Amerika yang dipakai Israel.
Tubuh manusia lenyap seperti titik air jatuh ke tungku baja. Daging berubah asap. Kota berubah debu. Kematian bahkan tidak lagi menyisakan jasad untuk ditangisi.
Kota-kota runtuh seperti biskuit diinjak sepatu lars. Tubuh manusia menguap di bawah hujan bom, sementara dunia internasional sibuk rapat seperti panitia seminar kehilangan proyektor.
Dan ironi global terus berjalan seperti badut mabuk yang memaksa dunia tertawa. Ketika Lebanon katanya sedang “gencatan senjata”, Israel tetap menggiling wilayah selatan negeri itu seperti mesin penghancur batu.
Sementara di Amerika, televangelis Paula White-Cain — penasihat spiritual Trump — meminta para pengikutnya menyumbang 10 persen penghasilan mereka demi membantu “Israel yang menjadi korban”.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

4 hours ago
8














































