Ketika Kepemimpinan Harus Belajar Melihat

1 hour ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, Resensi buku "The Art of Heroic Leadership" karya Zulfikar M. Rachman dan Ahmad Mukhlis Yusuf. Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah buku tentang kepemimpinan justru tidak dimulai dengan pertanyaan bagaimana menjadi pemimpin yang hebat. The Art of Heroic Leadership karya Zulfikar M. Rachman dan Ahmad Mukhlis Yusuf memilih jalan yang berbeda. Buku setebal lebih dari tiga ratus halaman ini justru memulai perjalanannya dari sesuatu yang sering tidak ingin dilihat oleh seorang pemimpin yaitu kebutaan terhadap dirinya sendiri dan terhadap sistem tempat ia berada. Judul lengkapnya, The Art of Heroic Leadership, From Systemic Blindness to Trustworthy Shared Action, sejak awal telah menunjukkan arah pemikiran kedua penulis. Kepemimpinan tidak pertama-tama dipahami sebagai kemampuan memerintah, mengambil keputusan, atau menghasilkan kinerja, tetapi sebagai perjalanan dari ketidakmampuan melihat menuju tindakan bersama yang dapat dipercaya.

Gagasan tersebut menjadi penting karena dunia organisasi memang sedang menghadapi persoalan yang tidak lagi dapat dipisahkan secara sederhana. Keputusan ekonomi dapat memengaruhi kepercayaan sosial. Perubahan teknologi dapat mengubah pekerjaan sekaligus identitas manusia. Konflik politik dapat bergerak menjadi persoalan ekonomi dan kemanusiaan. Di dalam organisasi, sebuah keputusan yang terlihat berhasil pada satu bagian dapat menciptakan persoalan pada bagian yang lain. Buku ini melihat keadaan tersebut bukan hanya sebagai persoalan kompleksitas, tetapi sebagai persoalan kepemimpinan. Masalahnya bukan semata-mata apakah seorang pemimpin mampu bertindak, melainkan apakah ia cukup mampu melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi dan memahami akibat dari tindakan yang dilakukannya.

Di sinilah konsep systemic blindness menjadi pintu masuk yang penting. Seorang pemimpin bekerja di dalam sistem yang sudah memiliki sejarah, struktur kekuasaan, insentif, kebiasaan, ekspektasi, dan hubungan antaraktor. Karena berada di dalam sistem itu, sesuatu yang sebenarnya bersifat struktural sering kali terlihat sebagai persoalan individual. Pemimpin kemudian cenderung memperbaiki bagian yang tampak, sementara pola yang menghasilkan persoalan tetap berjalan. Buku ini bahkan menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan dengan niat baik dapat tetap menghasilkan akibat yang tidak diinginkan ketika persepsi terhadap sistem masih bersifat parsial.

Pandangan semacam ini sekaligus menjadi kritik terhadap budaya manajemen yang terlalu percaya pada eksekusi. Selama beberapa dekade, organisasi telah membangun kemampuan eksekusi yang semakin canggih. Strategi semakin terukur, sistem insentif semakin terstruktur, data semakin tersedia, dan kinerja semakin mudah dimonitor. Namun kemampuan mengeksekusi dengan baik tidak dengan sendirinya membuat organisasi menjadi lebih sehat. Bahkan, menurut buku ini, eksekusi yang sangat disiplin dapat memperbesar kesalahan ketika kerangka berpikir yang mendasarinya keliru. Eksekusi tidak memperbaiki persepsi. Dalam keadaan tertentu, eksekusi justru mempercepat dan memperluas keterbatasan persepsi tersebut.

Di titik ini buku mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar yaitu apa yang harus menjadi kepemimpinan sebelum tindakannya dapat dipercaya. Pertanyaan tersebut menggeser kepemimpinan dari wilayah kompetensi menuju wilayah tanggung jawab. Seorang pemimpin bukan hanya bertanggung jawab atas apa yang dimaksudkannya, tetapi juga atas apa yang ditimbulkan oleh tindakannya. Dengan demikian, niat baik tidak lagi cukup menjadi ukuran moral kepemimpinan. Yang juga harus diperhatikan adalah konsekuensi yang bergerak setelah keputusan dibuat. Kepemimpinan menjadi sebuah bentuk pertanggungjawaban terhadap kehidupan yang disentuh oleh keputusan tersebut.

Perjalanan buku kemudian dibangun melalui tiga gerakan besar yaitu Descent, Re-Formation, dan Widening. Descent membawa pemimpin turun dari rasa percaya diri yang mungkin terlalu cepat menuju kesediaan melihat sistem dan dirinya sendiri. Re-Formation merupakan proses membangun kembali dasar dari mana seseorang bertindak. Sementara Widening membawa perubahan tersebut keluar dari diri menuju ruang bersama. Dengan demikian, transformasi kepemimpinan tidak berhenti pada perubahan pribadi. Kesadaran individual harus menemukan bentuk sosial sehingga dapat menjadi tindakan yang dapat dijalankan bersama.

Di sinilah konsep self blindspot menjadi pasangan dari system blindspot. Manusia tidak pernah melihat sistem dari luar sistem. Ia melihatnya melalui dirinya sendiri. Karena itu, keterbatasan sistem dan keterbatasan diri saling memperkuat. Seorang pemimpin yang tidak mampu melihat keadaan batinnya dapat salah membaca sistem. Sebaliknya, sistem yang tidak terlihat dapat memperkuat reaksi dan keterbatasan yang ada dalam dirinya. Buku ini mengingatkan bahwa kepemimpinan pada akhirnya tetap dijalankan oleh manusia, bukan oleh jabatan, kerangka strategi, atau perangkat manajemen.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |