REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Fenomena penghinaan terhadap ajaran agama, simbol-simbol keagamaan, maupun tokoh agama bukanlah hal baru dalam sejarah umat manusia. Dalam perspektif Islam, perilaku semacam ini tidak hanya mencerminkan rendahnya adab dan akhlak, tetapi juga menunjukkan kebodohan spiritual yang dapat menjerumuskan seseorang pada sikap meremehkan perkara-perkara suci yang dimuliakan Allah SWT.
Rasulullah SAW bahkan menyebut mencela agama sebagai salah satu ciri orang yang bodoh. Hal tersebut termaktub dalam wasiat beliau kepada sahabat Ali bin Abi Thalib RA.
يَا عَلِيُّ، وَلِلْأَحْمَاقِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ اَلتَّهَاوُنُ فِيْ فَرَائِضِ اللهِ وَكَثْرَةُ الْكَلَامِ فِيْ غَيْرِ ذِكْرِ اللهِ وَالطَّعْنُ فِي الدِّيْنِ
Yaa 'Aliyyu, walil-ahmaaqi tsalaatsu 'alaamaatin, at-tahaawunu fii faraaidhillaah, wa katsratul kalaami fii ghairi dzikrillaah, wath-tha'nu fid-diin.
"Wahai Ali, bagi orang bodoh itu ada tiga tanda, yaitu meremehkan perkara-perkara yang diwajibkan Allah, banyak berbicara selain mengingat Allah, dan mencela agama."
Keterangan tersebut tercantum dalam kitab Wasiyatul Musthafa karya Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani. Dalam pandangan Islam, mencela agama bukan sekadar tindakan yang melukai perasaan pemeluknya, melainkan sikap yang menunjukkan hilangnya penghormatan terhadap syariat dan nilai-nilai yang berasal dari Allah SWT.
Orang yang mencela ajaran agama dan simbol-simbol agama sejatinya menempuh jalan yang pernah dilakukan kaum musyrik Quraisy ketika Rasulullah SAW menyampaikan risalah Islam. Mereka tidak hanya menolak dakwah Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadikan wahyu Allah sebagai bahan ejekan dan olok-olok.
Allah SWT mengabadikan perilaku tersebut dalam Alquran:
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ
Wa la'in sa'altahum layaquulunna innamaa kunnaa nakhuudhu wa nal'ab. Qul abillaahi wa aayaatihii wa rasuulihii kuntum tastahzi'uun.
"Jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.' Katakanlah, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?'" (QS At-Taubah [9]: 65).
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang yang meremehkan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam sebuah perjalanan. Ketika perbuatan mereka diketahui, mereka berdalih bahwa ucapan tersebut hanyalah candaan dan gurauan. Namun Allah SWT menolak alasan itu dan menegaskan bahwa memperolok Allah, ayat-ayat-Nya, maupun Rasul-Nya bukanlah perkara ringan yang dapat dibenarkan dengan dalih bercanda.
Para ulama tafsir menerangkan bahwa ayat ini menjadi peringatan keras agar kaum Muslimin menjaga lisan dan sikap mereka terhadap agama. Sebab, sesuatu yang dianggap candaan oleh manusia bisa menjadi perkara besar di sisi Allah SWT apabila menyangkut penghinaan terhadap agama, syariat, simbol-simbol keislaman, maupun para nabi dan rasul.

6 hours ago
9















































