Orang Tanpa Daging di Wajah: 3 Tanda Orang Terhina Menurut Rasulullah

9 hours ago 12

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tidak semua kemiskinan membuat seseorang hina. Sebaliknya, banyak orang hidup dalam keterbatasan tetapi tetap mulia karena menjaga kehormatan dirinya. Yang diperingatkan Islam bukanlah miskinnya seseorang, melainkan kebiasaan menggantungkan hidup kepada manusia dan menjadikan meminta-minta sebagai jalan hidup padahal masih mampu berusaha.

Karena itu, Rasulullah SAW menempatkan kebiasaan meminta-minta sebagai salah satu tanda kehinaan. Dalam wasiatnya kepada sahabat Ali bin Abi Thalib RA, Nabi SAW menjelaskan ciri-ciri orang yang kehilangan kemuliaan di hadapan manusia maupun di sisi Allah SWT.

يَا عَلِيُّ، وَلِلْمَخْذُوْلِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ كَثْرَةُ الْكَذِبِ وَكَثْرَةُ الْأَيْمَانِ الْفَاجِرَةِ وَكَثْرَةُ الْحَوَائِجِ إِلَى النَّاسِ

Yaa 'Aliyyu, walil-makhdzuuli tsalaatsu 'alaamaatin, katsratul kadzibi, wa katsratul aimaanil faajirah, wa katsratul hawaa'iji ilan-naas.

"Wahai Ali, bagi orang yang terhina ada tiga tanda, yaitu banyak berbohong, banyak sumpah palsu, dan banyak hajat kepada manusia (suka meminta-minta kepada manusia)."

Keterangan tersebut termaktub dalam kitab Wasiyatul Musthafa karya Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani. Hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi sikap mandiri dan menjaga harga diri selama seseorang masih memiliki kemampuan untuk berikhtiar.

Rasulullah SAW justru mengajarkan umatnya untuk menjadi pihak yang memberi, bukan yang meminta. Kemuliaan seorang Muslim tidak diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi dari kemampuannya menjaga kehormatan diri dan tidak bergantung kepada manusia.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:

اليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ

Al-yadul 'ulyaa khairun minal yadis suflaa, wabda' biman ta'uul, wa khairush-shadaqati 'an zhahri ghinaa, wa man yasta'fif yu'iffahullaah, wa man yastaghni yughnihillaah.

"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mulailah (membelanjakan harta) kepada orang yang menjadi tanggung jawabmu. Sedekah yang paling baik adalah yang dikeluarkan dari kelebihan kebutuhan. Barangsiapa berusaha menjaga diri, Allah akan menjaganya. Barangsiapa berusaha mencukupkan diri, Allah akan memberinya kecukupan." (HR Bukhari).

Hadis ini menegaskan bahwa Islam membangun mentalitas kemandirian. Seorang Muslim diperintahkan bekerja, berusaha, dan menjaga kehormatannya, bukan menjadikan uluran tangan orang lain sebagai sandaran hidup.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |