Perban Berbahan Kombucha Antar Siswa SMA di Jakarta Tampil di Konferensi Internasional

2 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pelajar asal Indonesia, Kayla, menjadi salah seorang ilmuwan muda yang berhasil tampil di The NorthCap University, India, beberapa waktu lalu, untuk mempresentasikan risetnya tentang perban berbahan dasar SCOBY, lapisan selulosa dari fermentasi kombucha. Bahan perban tersebut dinilai sebagai alternatif bahan pembalut luka yang berkelanjutan.

Makalahnya, “Chitosan-Guar Gum Coated SCOBY Bacterial Cellulose As A Potential Material For Sustainable Wound Dressing”, dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Sciences. Riset yang sama tersebut membawanya meraih Global Youth Action Fund Grant senilai 2.500 dolar AS, sebuah hibah kompetitif yang biasanya diperuntukkan bagi anak-anak muda dengan gagasan yang benar-benar layak diwujudkan.

Kayla bukan hanya seorang peneliti. Di koridor yang sama tempat ia tumbuh selama satu setengah dekade, ia juga pernah menjadi Presiden OSIS, Deputy Secretary-General Model United Nations, dan Director di Summit of Talented Young Leaders.

Di luar sekolah, namanya muncul di papan hasil berbagai kompetisi internasional: medali emas dan perak dari World Scholar’s Cup di tingkat global dan regional, medali dari World Mathematics Invitational, Singapore and Asian Schools Math Olympiad, American Math Olympiad, hingga penghargaan esai dari Oxbright di kategori Biologi.

Ia juga tercatat sebagai Top Scorer Indonesia dalam ICAS English, dan meraih Distinction di ICAS Science, masuk dalam sembilan persen teratas peserta se-Indonesia. “Saya lebih banyak fokus pada kompetisi akademis, tetapi di sini (Binus School Simprug) saya juga dapat mengeksplor lebih banyak bidang disiplin lain di luar akademis, seperti Singing Club atau tarian tradisional. Selama 15 tahun dari TK, SD, SMP, hingga SMA, saya didorong untuk berkembang secara holistik,” ungkap Kayla lewat keterangan tertulis, Ahad(7/6/2026).

Yang menarik dari perjalanan Kayla yakni dia konsisten mendalami apa yang ia minati. Peran guru-gurunya juga secara aktif mendukung siswa-siswinya untuk tumbuh dan berkembang. Ekosistem yang dibangun menghasilkan pendekatan yang memberi ruang bagi setiap siswa untuk mengeksplorasi dan membangun identitas akademis maupun non akademik secara personal.

Kayla adalah salah satu dari mereka. Kepala Sekolah Binus School Simprug, Jakarta, Isaac Koh, menjelaskan, ada 90 persen lulusan dari angkatan 2026 diterima di perguruan tinggi luar negeri, tersebar ke universitas-universitas di Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Belanda, Singapura, dan berbagai negara lainnya. 

Binus School Simprug menerapkan kurikulum International Baccalaureate (IB) secara penuh, dari Early Years hingga IB Diploma Programme (IBDP) di jenjang akhir. IBDP diakui oleh lebih dari 2.000 universitas di seluruh dunia, dan dikenal bukan hanya karena standar akademisnya, tetapi karena ia menuntut siswa menulis riset independen, berpikir lintas disiplin, dan memahami etika keilmuan.

Isaac Koh, menyampaikan, pencapaian ini adalah cerminan kerja keras seluruh ekosistem pendidikan, para siswa yang berdedikasi, orang tua yang mendukung penuh, dan para pendidik yang tidak pernah berhenti berinovasi. “Kami percaya bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa yang perlu dipupuk dengan lingkungan belajar yang tepat. Dengan kurikulum IB yang kami jalankan secara konsisten dari Early Years hingga IBDP, ditambah Journeys Programme yang memungkinkan siswa mengeksplorasi passion mereka secara mendalam, kami tidak hanya mempersiapkan mereka untuk diterima di universitas terbaik, kami mempersiapkan mereka untuk berkembang di sana,” ungkap Isaac.

Beberapa universitas terbaik di luar negeri yang berhasil ditembus yakni University of College London (UCL), The University of Hong Kong, University of Melbourne, UNSW Sydney, King's College London, University of Toronto, McGill University, University of Sydney, dan University of Warwick.

Sejumlah lulusan  juga diketahui berhasil memperoleh beasiswa dari universitas tujuan mereka, baik berbasis prestasi akademis, kepemimpinan, maupun kontribusi sosial.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |