REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai wakil menteri luar negeri yang membidangi Dunia Islam, Anis Matta tak punya banyak waktu sela. Eskalasi di wilayah Teluk dan sekitarnya serta agresi Israel yang kian menjadi-jadi membuatnya jarang beristirahat. Ada saja pertemuan yang harus digelar dengan perwakilan negara-negara mayoritas Muslim.
Di tengah kesibukan itu, Anis Matta menyempatkan menemui tim Republika di kantornya di Gedung Konstitusi, Kompleks Kementerian Luar Negeri pada Senin (8/6/2026). Politisi kawakan yang kini juga memimpin Partai Gelora itu luwes bicara soal kondisi regional dan bagaimana dampak luasnya. Berikut petikan wawancaranya dengan Republika.
Pertama-tamanya, Pak. Terima kasih sudah ikut mengawal kawan-kawan kami yang kemarin ikut bergabung dengan Global Sumud Flotilla 2.0. Boleh cerita kesibukan di dunia diplomatik soal pelayaran tersebut?
Bismillahirrahmanirrahim. Sebenarnya, ini kan yang kedua ya, Global Sumud Flotilla ini yang kedua. Sejak tahun lalu, saya mengikuti dari awal proses teman-teman yang, para aktivis yang ingin terlibat di Global Sumud Flotilla ini. Dan sejak tahun lalu pula kita membuat satu protokol di Kemlu ini, dibawa Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia.
Jadi, protokolnya adalah bahwa ini adalah keputusan individu dari para aktivis untuk terlibat terlebih dahulu. Ini penting untuk kita garis bawahi.
Tugas negara di sini adalah melindungi warga negaranya. Dan dalam hal ini tugas kami di Kemlu, di manapun mereka berada di luar negeri.
Dalam kasus Global Summit Flotilla ini, kita punya satu kendala teknis. Karena kita tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel. Karena itu kan prinsip negara kan. Karena kita tidak punya hubungan diplomatik, jadi proses perlindungan warga negara itu kita lakukan di lingkaran luar Israel itu semuanya.
Lingkaran luar ini maksudnya adalah di semua rute yang dilewati oleh para aktivis ini, Global Sumud Flotilla ini, semua KBRI yang ada di situ langsung on.
Itu sejak sebelum berangkat itu, Pak?
Sebelum berangkat. Sebenarnya ini protokol yang kita buat sejak tahun lalu. Kalau tahun lalu misalnya yang terakhir kan mereka ngumpulnya karena ngumpulnya dari Tunis kan ya, Jadi sekitar 80, menurut laporan KBRI Pak Zuhairi Miswari, sekitar 80 WNI yang ikut di acara Global Sumud Flotilla itu berkumpul di KBRI di Tunis.
Kalau yang sekarang ini kan dia rutenya walaupun akan melewati karena itu kan Laut Mediterania semua yang dilewati semuanya. Tapi prinsipnya semua KBRI kita on di situ semuanya.
Hanya saja kami melihat bahwa ada perkembangan yang signifikan sekarang ini dari sisi kepesertaan, terutama dari media dan khususnya dari Indonesia ya. Terutama juga Republika ini ya. Berani betul Republika kirim orangnya nih (tertawa).
Jadi ini satu perkembangan yang sangat bagus yang memungkinkan peliputannya itu sangat real time. Dan juga kemampuan menceritakan situasi secara lebih akurat itu pasti akan lebih bagus kalau dilakukan oleh jurnalis dibanding dengan sekedar aktivis ya.
Nah, saya sudah mengikuti perkembangan ini bahkan sebelum di-intercept karena seluruh KBRI kita pada dasarnya sudah on. Nah tapi begitu kejadian kita juga berkoordinasi langsung dengan semua negara yang berhubungan dengan isu ini. Walaupun memang secara lebih sangat spesifik ini dengan pemerintah di Turki, kemudian di Mesir, kemudian di Jordan. Ini yang paling, artinya lingkar koordinasi yang paling intensif.
Kalau di Siprus karena Siprus ini KBRI kita dari Roma yang mengontrol di Siprus ini. Belum ada KBRI yang sendiri di situ. Jadi itu di bawah KBRI kita yang ada di Roma.
Jadi semua kawasan ini on KBRI kita di situ dan kita mengikuti perkembangannya secara real time. Saya sendiri mendapatkan laporan jam per jam dari teman-teman di Direktorat PWNI.
Nah, perkembangannya ini menurut saya yang perlu kita pantau. Karena saya melihat bahwa Global Sumud Flotilla ini adalah pertanda. Saya mau garis bawahi kalimat pertanda ini ya.
Ini sebenarnya pertanyaan kami yang kedua ini, Pak. Karena banyak orang kemudian menganggap bahwa perjalanan ini kesia-siaan. Nah, menurut Pak Anis bagaimana?
Global Sumud Flotilla ini adalah pertanda bahwa narasi perjuangan Palestina itu sudah keluar dari Palestina. Dia sudah menjadi milik umat manusia. Dia sudah menjadi milik warga bumi. Isu kemerdekaan Palestina ini adalah isu yang diperjuangkan oleh orang yang punya hati nurani dari seluruh belahan dunia.
Dan ini menandai bahwa narasi perjuangan Palestina itu seperti yang saya ikuti lebih dari 30 tahun. Isu ini saya ikut memperjuangkannya secara pribadi juga.
Dari intifada pertama berarti, Pak?
Iya dari intifada pertama. Saya mengerti betul bagaimana narasi ini berkembang.
Jadi kalau kita melihat narasi perjuangan Palestina itu sudah melewati tiga tahap. Sekarang ini ada di tahapan yang ketiga ini.
Tahap yang pertama adalah narasi konflik Arab-Israel. Jadi setelah Israel berdiri tahun 1948, jadi tahun 1948 dan seterusnya, ada usaha melokalisasi isu Palestina ini ke dalam isu Arab-Israel.
Di tahun-tahun itu memang semua negara sibuk dengan PR-nya sendiri-sendiri. Karena itu kan tahun-tahun di mana negara di dunia Islam maupun di Global South itu kan baru merdeka semua kan ya. Kita merdeka tahun 1945, tapi saudara kita di Palestina mulai dijajah itu tahun 1948. Jadi persis tiga tahun setelah kita merdeka kan.
Jadi waktu kita euforia, angkat tangan begini, “takbir!”, kita kibarkan Bendera Merah Putih, saudara kita di sana mengalami Nakbah. Justru mereka baru mulai dijajah.
Jadi tahun 50-an, tahun 60-an, tahun 70-an sampai tahun 80-an kira-kira, narasi perjuangan Palestina itu adalah secara singkat adalah narasi “Ini adalah konflik orang Arab sama orang Israel.”
Nakbah Dulu, Nakbah Sekarang
Jadi ya kita tak usah ikut. Cuma kita memperjuangkannya dalam konteks negara-negara yang belum merdeka. Termasuk terutama setelah konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.
Jadi dia ada dalam agenda perjuangan bangsa Indonesia sebagai amanat konstitusi, sebagai kewajiban agama, juga kewajiban kemanusiaan, tapi narasinya itu adalah narasi konflik Arab-Israel. Sehingga bukan hanya kita di Indonesia, di dunia Islam secara umum tidak ada keterlibatan kepada isu itu.
Nah, di akhir tahun 80-an, faksi-faksi perjuangan Palestina yang tadinya cuma satu, yang PLO ini, itu kan kemudian berkembang. Karena mulai ada semacam distrust. Distrust dalam pengertian bahwa orang mulai berpikir bahwa perlu ada cara baru untuk memperjuangkan Palestina. Perlu ada gerakan baru untuk memperjuangkan Palestina. Iya kan?
Dan sejak saat itu muncullah berbagai macam gerakan-gerakan baru di luar konteks Fatah atau PLO di sana ini. Termasuk di antaranya berdirinya Hamas dan gerakan-gerakan lain semua. Ini kan di akhir 80-an semuanya berdirinya kan.
Nah, tahun kalau nggak salah tahun 1993 itu kan ada perjanjian Oslo ya. Yang berujung dengan pembunuhan Yitzhak Rabin sendiri di dalam Israel.
Oleh kelompok yang memerintah Israel sekarang?
Hahaha... Jadi, perjanjian Oslo ini sebenarnya sudah lebih mengarah ke two-state solution pada dasarnya. Tapi, ini justru menjadi mengakhiri era pertama dari narasi konflik Arab-Israel ini.
Nah, sejak tahun 90-an muncullah satu narasi baru, yaitu konflik Islam lawan Zionis.
Yang mulai naik gerakan-gerakan Islam?

4 hours ago
8
















































