Warna dan Mitos Tiongkok yang Merajut Batik Pesisir Nusantara

17 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hubungan historis antara Nusantara dan Tiongkok yang telah terjalin selama berabad‑abad meninggalkan jejak nyata dalam berbagai sisi kehidupan, terutama dalam bidang budaya, seni, dan tradisi. Salah satu wujud akulturasi budaya ini dapat dilihat dalam kain batik, wastra yang memadukan motif, simbol, dan estetika Tiongkok dengan kearifan lokal Nusantara.

Jejak interaksi dua budaya yang melintasi lautan dan daratan itu kini dapat disaksikan melalui pameran "Batik Silang Budaya di Atas Kain: Kisah Batik dan Pengaruh Budaya Tiongkok" di Museum Tekstil, Jakarta.

Pameran ini diselenggarakan sebagai bagian dari peringatan Hari Raya Imlek dan memamerkan 81 koleksi batik serta sulaman batik milik Museum Tekstil, rencananya berlangsung hingga Mei 2026. Seperti dijelaskan oleh Sri Kusumawati, Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, pameran ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana budaya Tiongkok meresapi seni tekstil Nusantara.

Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah Tok Wie — kain penutup altar yang digunakan dalam upacara di Tiongkok. Aslinya dibuat dari sutera dengan sulaman mewah menggunakan benang berwarna, Tok Wie dipenuhi figur‑figur mitologi Tiongkok:

1. Burung hong (melambangkan permaisuri, keindahan, dan perdamaian);

2. naga (simbol kaisar, kewibawaan, dan ketegasan);

3. kilin (perpaduan rusa/kuda, sisik naga, kepala singa, dan tanduk rusa; meski berparas seram, ia membawa kebaikan);

4. burung bangau (dipercaya membawa makna panjang umur, karena mampu hidup lebih dari 100 tahun);

5. delapan dewa (menggambarkan delapan kehidupan di dunia: muda‑tua, kaya‑miskin, rakyat jelata‑kaum ningrat, pria‑wanita).

Warna merah yang mendominasi Tok Wie dipercaya membawa keberuntungan, karena berkaitan dengan kehidupan dan matahari. Menurut Niverga, seorang pemandu magang di Museum Tekstil, Tok Wie paling banyak menarik perhatian pengunjung dari kalangan pelajar sekolah dasar dan menengah pertama, terutama karena keheranan mereka terhadap figur kilin yang kerap disangka sebagai barongsai.

Ketika Tok Wie dibawa ke Nusantara, terutama ke pesisir Jawa seperti Lasem (Jawa Tengah), motifnya diadaptasi menjadi batik dengan bahan katun. Batik Lasem dikenal dengan warna cerah, khususnya merah, namun bukan merah biasa, melainkan "merah darah ayam", yang muncul karena faktor air dan tanah di daerah tersebut. Warna cerah juga menjadi ciri khas batik pesisiran di Pekalongan dan Cirebon, sebagai dampak interaksi dagang dengan Tiongkok, India, Arab, dan Eropa.

Deviana (27), seorang pengunjung Museum Tekstil yang gemar batik, mengaku terpesona dengan batik Lasem. Selain karena warnanya yang eye‑catching, unsur Tiongkok dalam motifnya juga menjadi daya tarik khusus. Deviana, yang bergaya kasual, sering menggunakan batik Lasem sebagai wrap skirt, kain yang dililitkan mengelilingi pinggang, saat menghadiri acara kantor atau bertema budaya.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |