REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebuah kapal permukaan nirawak (Unmanned Surface Vehicle/USV) berukuran kecil milik perusahaan teknologi maritim asal California, Seasats, berhasil mendekati kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut China (PLAN) di perairan strategis dekat Filipina.
Peristiwa itu menjadi sinyal terbaru bahwa kendaraan laut tanpa awak kini mulai mengubah lanskap persaingan militer di Indo-Pasifik sekaligus memunculkan tantangan baru bagi keamanan maritim global.
Insiden tersebut terjadi di Selat Luzon, sekitar 73 mil laut di timur laut Pulau Luzon, Filipina. Wilayah itu merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menghubungkan Samudra Pasifik dengan Laut China Selatan serta berada di antara Taiwan dan Filipina. Kawasan ini selama bertahun-tahun dipandang sebagai salah satu titik paling rawan apabila konflik bersenjata di Selat Taiwan benar-benar pecah.
Menurut keterangan CEO Seasats Mike Flanigan, USV bernama Lightfish mendeteksi kapal perang China menggunakan radar dari jarak sekitar 10 mil laut, kemudian mendekat hingga hanya beberapa ratus meter sambil merekam video kapal perusak rudal berpemandu Tipe 052D tersebut. Kapal perang China diketahui menyadari kehadiran USV itu dan melakukan manuver untuk mengubah haluan sebelum kedua pihak berpisah tanpa insiden lebih lanjut.
Peristiwa yang terjadi pada 15 Juni tersebut pertama kali dilaporkan Reuters dan kemudian diungkap lebih rinci oleh Seasats. Meski tidak terjadi konfrontasi, insiden itu memperlihatkan bagaimana kapal nirawak sipil kini mampu beroperasi sangat dekat dengan salah satu kapal kombatan paling modern milik China.
Kejadian tersebut sekaligus memperlihatkan dilema baru yang dihadapi angkatan laut berbagai negara. Berbeda dengan kapal berawak, USV tidak membawa awak manusia sehingga sulit diketahui secara langsung tujuan, kepemilikan, maupun tingkat ancaman yang dibawanya. Dalam situasi krisis, keputusan untuk menembak atau membiarkan kapal nirawak mendekat dapat menjadi persoalan strategis yang berpotensi memicu eskalasi konflik.
Lightfish sendiri bukan dirancang sebagai kapal serang. USV sepanjang sekitar 3,6 meter dengan bobot sekitar 138 kilogram itu mengutamakan daya jelajah sangat jauh melalui kombinasi panel surya dan sistem propulsi hibrida. Menurut Seasats, kapal tersebut mampu beroperasi hingga enam bulan di laut dengan jangkauan lebih dari 8.000 mil laut tanpa perlu kembali ke pangkalan.
Namun, kemampuan Lightfish mendekati kapal perang mengingatkan banyak pihak pada keberhasilan Ukraina memanfaatkan USV bersenjata dalam perang Laut Hitam. Sejak 2023, kapal-kapal drone Ukraina berulang kali menyerang Armada Laut Hitam Rusia sehingga memaksa Moskow memindahkan sebagian besar armada utamanya dari Krimea ke pangkalan yang dinilai lebih aman. Perkembangan tersebut mengubah cara banyak negara memandang efektivitas kapal nirawak dalam peperangan modern, sebagaimana diberitakan The War Zone beberapa waktu lalu.
Sebelum Ukraina, kelompok Houthi di Yaman juga telah menggunakan USV bermuatan bahan peledak untuk menyerang kapal di Laut Merah. Teknologi serupa kemudian terus berkembang dan kini menjadi perhatian hampir seluruh angkatan laut besar dunia, termasuk Amerika Serikat yang mulai mengintegrasikan kapal drone bersenjata dalam berbagai operasi dan latihan tempur.

18 hours ago
12
















































