REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sorotan terhadap peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001 di New York sempat tersedot pada cuplikan video Wali Kota Zohran Mamdani dan anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez (AOC). Keduanya dituding tertawa ketika nama-nama korban 9/11 sedang dibacakan di Ground Zero.
Namun, di balik polemik sebuah video berdurasi hanya empat detik itu, muncul fakta yang jauh lebih besar mengenai tragedi 9/11. Pemerintahan Mamdani membuka lebih dari 170 ribu halaman arsip pemerintah New York yang selama bertahun-tahun tidak tersedia bagi publik, termasuk dokumen mengenai udara beracun yang dihirup petugas penyelamat, pekerja, penduduk, hingga pelajar setelah Menara Kembar runtuh.
Dokumen tersebut membuka kembali pertanyaan yang selama seperempat abad menghantui para penyintas: seberapa banyak pemerintah mengetahui bahaya udara di sekitar Ground Zero ketika masyarakat justru diberi kesan bahwa kawasan itu aman?
Polemik Mamdani dan AOC sendiri mencuat dalam peringatan di Ground Zero pada Jumat (11/9/2026). Tayangan langsung memperlihatkan keduanya tersenyum ketika saling menyapa sementara nama korban serangan sedang dibacakan.
Fox News dalam laporan pada Jumat, 11 September 2026, menggambarkan keduanya mendapat kecaman karena dinilai menunjukkan sikap terlalu santai dalam momen yang seharusnya khidmat. Anggota DPR AS dari Texas Wesley Hunt termasuk yang mengkritik keras keduanya.
"Ada waktu dan tempat untuk politik. Ini bukan waktunya. Ground Zero adalah tempat yang sakral," kata Hunt sebagaimana diberitakan Fox News pada Jumat, 11 September 2026.
Meghan McCain dan Senator Ted Cruz juga termasuk tokoh konservatif yang mengecam cuplikan tersebut. Mereka mempertanyakan bagaimana Mamdani dan AOC dapat terlihat tersenyum ketika keluarga korban sedang mendengarkan nama orang-orang yang tewas dibacakan satu per satu.
Namun, persoalannya tidak sesederhana potongan gambar tersebut. CNN dalam laporan pada Jumat, 11 September 2026, menyebut interaksi Mamdani dan AOC yang terekam dalam tayangan langsung hanya berlangsung sekitar empat detik. Tidak ada suara percakapan keduanya dalam video tersebut sehingga tidak diketahui apa yang mereka bicarakan.
CNN juga mengutip mantan anggota Majelis Negara Bagian New York Yuh-Line Niou yang berada di acara tersebut. Menurut Niou, interaksi yang menjadi kontroversi itu "hanya terjadi ketika dia menghampirinya dan mengatakan halo."
Niou mengatakan Mamdani bertahan sepanjang pembacaan nama korban dan bahkan tetap berada di lokasi sekitar 45 menit setelahnya untuk berbicara dengan keluarga korban. AOC juga disebut tetap mengikuti upacara hingga selesai.
Kesaksian yang lebih tegas datang dari Michael Ragusa, mantan petugas medis darurat FDNY dan seorang Republikan yang pernah maju dalam pemilihan Dewan Kota New York.
Newsweek dalam laporan pada Jumat, 11 September 2026, mewawancarai Ragusa mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Dia mengatakan AOC saat itu hanya mendatangi Mamdani untuk menyapa.
"AOC berada di belakang barisan. Dia menunggu waktu yang tepat untuk datang menyapa wali kota," kata Ragusa sebagaimana diberitakan Newsweek pada Jumat, 11 September 2026.
Ragusa mengatakan video tersebut hanya merekam momen AOC menyapa Mamdani. Dia bahkan menegaskan Mamdani dan AOC bersikap sangat menghormati jalannya upacara, sementara terdapat politikus dari Partai Demokrat maupun Republik yang berbicara, tertawa, atau menggunakan telepon selama pembacaan nama korban.

18 hours ago
14
















































