Saudi Lirik KAAN Turki, F-35 Belum Juga Pasti

10 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Arab Saudi membuka lebih dari satu pintu untuk membangun kekuatan udaranya di masa depan. Ketika proses menuju akuisisi jet siluman F-35 buatan Amerika Serikat belum sepenuhnya selesai, Riyadh kini berada dalam pembicaraan lanjutan dengan Turki mengenai kemungkinan masuk lebih dalam ke program pesawat tempur generasi kelima KAAN.

Laporan terbaru menyebut pembicaraan tersebut bukan lagi sekadar penjajakan pembelian pesawat. Opsi yang dibahas mencakup pembelian langsung, produksi bersama, hingga kemungkinan keterlibatan Saudi dalam pengembangan program yang dipimpin Turkish Aerospace Industries atau TUSAŞ. Belum ada kesepakatan final yang diumumkan kedua pemerintah.

Bagi Riyadh, perbedaan itu sangat penting. Membeli sebuah pesawat akan menambah kekuatan armada. Namun masuk ke dalam proses produksi dapat memberikan sesuatu yang lebih besar: teknologi, tenaga ahli, rantai pasok, kemampuan pemeliharaan dan sebagian kemandirian dalam mengembangkan kekuatan udara.

Manajer Umum TUSAŞ Mehmet Demiroğlu pada World Defense Show di Riyadh, Februari 2026, mengatakan pembicaraan dengan Saudi telah mencapai tahap pengambilan keputusan akhir. Menurut dia, salah satu skenario adalah pembelian sekitar 20 KAAN. Namun apabila Riyadh menghendaki lini perakitan akhir di Saudi, studi kelayakan TUSAŞ memperkirakan dibutuhkan setidaknya sekitar 50 pesawat.

Demiroğlu secara terpisah mengatakan perundingan telah dibawa ke “tingkat tertinggi”. Ankara berharap suatu terobosan dapat diumumkan pada 2026, sebagaimana diberitakan Africa Business Insider.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan bahkan sudah memberikan sinyal politik yang lebih kuat beberapa hari sebelumnya. “Kami menerima banyak tanggapan positif mengenai KAAN. Ada investasi bersama dengan Arab Saudi di bidang ini dan kami dapat merealisasikan kemitraan tersebut kapan saja,” ujar Erdoğan seusai berkunjung ke Riyadh dan Kairo pada Februari.

Tujuh bulan kemudian, kesepakatan memang belum diumumkan. Namun fakta bahwa pembicaraan masih dilaporkan berada pada tahap lanjutan menunjukkan KAAN belum keluar dari perhitungan Riyadh.

Saudi Tak Hanya Membeli Pesawat

Kepentingan Arab Saudi terhadap KAAN tidak bisa dilepaskan dari Visi 2030. General Authority for Military Industries (GAMI) menargetkan lebih dari 50 persen pengeluaran Saudi untuk peralatan dan jasa pertahanan dapat dilokalisasi pada 2030. Tingkat lokalisasi terakhir yang dipublikasikan untuk 2024 mencapai 24,89 persen, naik tajam dari posisi awal reformasi industri pertahanan Saudi.

Karena itu, penawaran TUSAŞ berbeda secara fundamental dari pola klasik ekspor senjata. Saudi dapat mengatakan kepada Turki bahwa Riyadh tidak hanya ingin membeli KAAN, tetapi juga ingin sebagian nilai ekonominya tinggal di kerajaan: komponen dibuat di Saudi, teknisi Saudi dilatih, pusat pemeliharaan dibangun dan, jika kesepakatannya cukup besar, sebagian proses produksi dapat dilakukan di dalam negeri.

Di sisi lain, Turki membutuhkan pasar, skala produksi dan mitra internasional untuk sebuah proyek pesawat tempur yang sangat mahal. Ankara sudah memperoleh mitra ekspor penting. Indonesia pada 2025 menandatangani kontrak implementasi untuk pengadaan 48 KAAN, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kapasitas industri pertahanan Indonesia. Dengan demikian, apabila Saudi akhirnya masuk, Riyadh bukan pelanggan asing pertama KAAN, tetapi dapat menjadi salah satu mitra finansial dan industrial terpentingnya.

Inilah yang membuat KAAN lebih dari sekadar produk ekspor. Bagi Turki, semakin banyak negara terikat pada program tersebut, semakin besar basis produksi, pembiayaan, rantai pasok dan pengaruh geopolitik yang dibangun di sekeliling pesawat.

KAAN Masih Pesawat yang Sedang Dibangun

Namun satu fakta harus ditempatkan dengan jelas: KAAN belum berada pada tingkat kematangan F-35. KAAN melakukan penerbangan perdananya pada 21 Februari 2024. Prototype pertama terbang selama sekitar 13 menit. Penerbangan kedua dilakukan pada Mei 2024.

Pada 31 Juli 2026, prototipe baru KAAN mulai menjalani taxi test menjelang penerbangan. Pengembangan berikutnya berlangsung melalui prototipe P1 dan P2 yang membawa arsitektur sistem lebih maju dibanding prototipe awal.

TUSAŞ mendesain KAAN sebagai pesawat tempur multirole generasi kelima dengan karakteristik low observability, ruang senjata internal, sensor fusion, sistem radio-frequency terintegrasi, elektro-optik, kemampuan serangan presisi, serta kecepatan maksimum yang ditargetkan Mach 1,8. Pesawat itu menggunakan dua mesin dan memiliki maximum take-off weight sekitar 34,75 ton.

Namun seluruh kemampuan tersebut harus dibedakan antara kemampuan yang menjadi desain dan target program dengan kemampuan yang telah terbukti dalam pengoperasian tempur.

KAAN belum menjalani kehidupan operasional sebagaimana F-35. Istilah “jet siluman” pada KAAN karena itu merujuk pada desain low-observable yang dikembangkan Turki. Tingkat kemampuan silumannya dalam kondisi perang nyata belum dapat dibandingkan secara terbuka dengan F-35 karena sebagian parameter seperti radar cross section bersifat rahasia dan KAAN belum memasuki layanan tempur.

Ada pula pekerjaan besar pada mesin. Prototype KAAN saat ini menggunakan mesin General Electric F110 buatan Amerika Serikat. Turki sedang mengembangkan mesin nasional TF35000 untuk generasi berikutnya, dan program mesin tersebut pada Agustus 2026 direstrukturisasi di bawah TEI Teknoloji untuk mempercepat pengembangan.

Ini menghadirkan sebuah paradoks. KAAN dijual sebagai salah satu jalan menuju kemandirian strategis dari ketergantungan terhadap negara pemasok. Namun dalam tahap pembangunan sekarang, salah satu komponen paling kritisnya, mesin, masih berasal dari Amerika Serikat.

Kemandirian penuh KAAN baru akan jauh lebih kuat apabila Turki berhasil mengoperasionalkan mesin domestiknya.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |