Terungkap, Miliarder Anggota BoP Bohir Kandidat Pro-Israel

11 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Tanda-tanda bahwa Board of Peace (BoP) alias Dewan Perdamaian condong mendukung Israel kembali terkuak. Seorang miliarder yang ditempatkan Presiden AS Donald Trump di dewan itu terungkap secara aktif mendanai upaya menjegal kandidat pengkritik Israel di pemilu.

Menurut dokumen Komisi Pemilihan Umum Federal yang ditinjau oleh The Intercept, miliarder sekaligus tokoh keuangan Marc Rowan—yang juga merupakan anggota Dewan Perdamaian untuk Gaza bentukan Presiden AS Donald Trump—telah menyumbangkan dana sebesar 1,5 juta dolar AS tahun ini kepada United Democracy Project. Ini sebuah super PAC yang berafiliasi dengan American Israel Public Affairs Committee (AIPAC). 

Rowan, CEO Apollo Global Management yang memiliki kekayaan lebih dari 8 miliar dolar AS, memberikan sumbangan sebesar 1 juta dolar AS kepada kelompok tersebut pada awal Maret dan menyusulnya dengan donasi tambahan sebesar 500.000 dolar AS pada 23 Juli. Donasi pertamanya dilakukan saat United Democracy Project mulai menggelontorkan dana besar untuk melawan anggota DPR dari Partai Republik, Thomas Massie (asal Kentucky)—seorang pengkritik vokal dukungan militer AS terhadap Israel yang pada akhirnya gagal dalam upaya pemilihan kembali.

Sumbangan kedua itu masuk pada hari yang sama ketika kelompok yang didukung AIPAC menghabiskan hampir 50.000 dolar AS untuk materi kampanye via pos di Michigan yang menyerang Abdul El-Sayed, seorang kandidat Demokrat progresif pro-Palestina yang mencalonkan diri untuk Senat AS. Super PAC tersebut juga menghabiskan 100.000 dolar AS lagi pada hari itu untuk operasi kampanye telepon guna melawan mantan anggota DPR dari Partai Demokrat, Cori Bush, di Missouri; di sana, ia menantang pejawat yang didukung AIPAC, Wesley Bell. 

The Intercept menyatakan bahwa tidak mungkin untuk menentukan pengeluaran spesifik mana yang didanai secara langsung oleh sumbangan Rowan. Baik Rowan maupun United Democracy Project tidak menanggapi permintaan komentar dari media tersebut. 

Pengeluaran politik Rowan mendapat sorotan khusus karena perannya dalam Dewan Perdamaian bentukan Trump, sebuah badan yang ditugaskan untuk melaksanakan rencana presiden yang sempat terhenti terkait Gaza. "Kini dia duduk di dewan yang akan menentukan masa depan Gaza," ujar Raed Jarrar, direktur advokasi di Democracy for the Arab World Now, kepada The Intercept.

"Warga Palestina tidak memilihnya, begitu pula pemilih Amerika. Baik warga Amerika maupun Palestina berhak mengetahui kepentingan siapa yang sebenarnya sedang diperjuangkan," tambahnya. 

Trump menunjuk Rowan masuk ke dalam dewan tersebut pada bulan Januari. Dalam pertemuan Dewan Perdamaian pada bulan Februari, Rowan memaparkan potensi ekonomi dari pembangunan kembali Gaza, yang sebagian besar wilayahnya telah hancur akibat perang yang dilancarkan Israel. 

"Potensinya sangat besar," kata Rowan. "Ini bukan masalah uang atau jaminan. Ini adalah masalah perdamaian." Dalam presentasi tersebut, Rowan mengutip perkiraan nilai garis pantai Gaza sebesar 50 miliar dolar AS, perumahan yang dibangun kembali senilai 30 miliar dolar AS, dan proyek infrastruktur senilai 30 miliar dolar AS lainnya.

Ia berpendapat bahwa menempatkan aset-aset tersebut di bawah pengelolaan Dewan Perdamaian dapat memungkinkan "pengelolaan sumber daya yang bebas konflik demi kepentingan penduduk Gaza." "Nilai sebesar 115 miliar," kata Rowan. "Hanya perlu dibuka potensinya dan didanai.”

Rowan telah lama menjadi penyumbang dana politik utama dan pendukung Israel. Ia awalnya menyumbangkan 250.000 dolar AS kepada United Democracy Project pada tahun 2022—tahun berdirinya super PAC milik AIPAC—dan meningkatkan kontribusinya secara signifikan menjelang tahun 2024.

Dalam beberapa tahun terakhir, Rowan juga menjadi sosok yang vokal mengkritik mahasiswa universitas di AS yang melakukan protes terhadap perang Israel di Gaza. Ia memainkan peran penting dalam pergolakan kepemimpinan di almamaternya, University of Pennsylvania, di tengah perselisihan mengenai cara universitas tersebut menangani protes pro-Palestina; selain itu, pada tahun 2025, ia memberikan masukan kepada Gedung Putih di tengah kampanye pemerintah tersebut yang menargetkan institusi pendidikan tinggi. 

Margaret DeReus, direktur eksekutif Peace, Accountability, and Leadership PAC—sebuah kelompok politik pro-Palestina yang dibentuk sebagai penyeimbang AIPAC—menuduh Rowan menggunakan pengaruhnya untuk menghambat upaya advokasi bagi Palestina. "Marc Rowan telah menggunakan posisinya untuk mencoba membungkam warga Palestina dan mencoreng nama baik mahasiswa yang memprotes genosida yang dilakukan Israel," ujar DeReus kepada The Intercept. 

Ia mengatakan bahwa Rowan "menggelontorkan jutaan dolar untuk mendanai gagasan—yang kini dianggap sebagai pandangan pinggiran—bahwa miliaran dolar uang pajak kita seharusnya membiayai militer Israel, serta menargetkan kandidat-kandidat yang menyerukan penghentian pengiriman uang pajak AS untuk mendukung genosida Israel." DeReus menyebut keanggotaan Rowan dalam "dewan korup Trump" sebagai hal yang menyingkap tujuan sebenarnya dari badan tersebut: "kelanjutan genosida dan pembersihan etnis terhadap warga Palestina yang tinggal di Gaza.”

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |