REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Konflik Amerika Serikat dan Iran kini tidak lagi hanya berlangsung di sekitar Selat Hormuz dan pangkalan-pangkalan militer di Timur Tengah. Pertempuran juga mulai bergerak ke ruang siber, dengan jaringan air, telekomunikasi, energi, dan berbagai infrastruktur penting di dalam wilayah Amerika Serikat menjadi sasaran percobaan serangan.
NBC News pada Rabu, 2 September 2026, melaporkan para peretas yang dikaitkan dengan Iran telah mencoba menembus sejumlah sistem infrastruktur Amerika dalam beberapa pekan terakhir. Laporan tersebut mengutip empat orang yang memiliki akses terhadap informasi pemerintah dan industri mengenai ancaman siber yang sedang dipantau.
Sejauh ini, upaya-upaya tersebut dilaporkan belum berhasil menyebabkan gangguan besar terhadap layanan publik. Namun keberadaan percobaan serangan itu menunjukkan bahwa Teheran memiliki opsi untuk memperluas pembalasan terhadap Washington jauh melampaui sasaran-sasaran militer Amerika di Timur Tengah.
Ancaman itu menjadi lebih serius karena sasaran para peretas bukan semata situs web pemerintah atau komputer kantor. Mereka dilaporkan mencoba menjangkau sistem yang mengatur proses fisik seperti distribusi air, jaringan energi, telekomunikasi, serta perangkat otomatis yang menopang aktivitas masyarakat sehari-hari.
Perkembangan tersebut muncul ketika konflik AS-Iran kembali memasuki fase eskalasi. Presiden Donald Trump pada Selasa, 1 September 2026, mengumumkan Amerika telah melancarkan serangan yang disebutnya “besar dan kuat” terhadap sejumlah sasaran Iran di sekitar Selat Hormuz.
Trump mengatakan serangan tersebut merupakan pembalasan atas upaya Iran menempatkan ranjau laut di jalur perairan strategis itu serta serangan rudal terhadap sebuah pangkalan AS di Yordania. Ia juga memperingatkan Iran akan kembali “dihantam pada tingkat yang jauh lebih keras dan lebih tinggi” jika Teheran melakukan pembalasan.
Dalam situasi seperti itu, serangan siber menawarkan bentuk konflik yang sangat berbeda dari rudal dan drone. Serangan dapat dilancarkan dari jarak ribuan kilometer, sulit terlihat oleh masyarakat, dan dalam beberapa kasus lebih rumit untuk segera diatribusikan kepada sebuah negara.
Air, Energi, dan Telekomunikasi
Laporan terbaru menyebut sistem air, telekomunikasi, jaringan energi, dan infrastruktur lainnya termasuk di antara sasaran yang dicoba ditembus. Para penyerang disebut mencari perangkat otomatis yang terhubung ke internet dan memiliki akses terhadap proses operasional suatu fasilitas.
Perangkat semacam itu biasa disebut sebagai bagian dari operational technology atau OT. Salah satu komponen yang paling penting adalah programmable logic controller atau PLC, komputer industri yang dapat mengendalikan pompa, katup, mesin produksi, alarm keselamatan, hingga berbagai proses otomatis lainnya.
Teknologi tersebut pada dasarnya dirancang untuk memudahkan pengoperasian fasilitas industri. Namun ketika sebuah PLC dapat diakses langsung melalui internet tanpa sistem keamanan yang memadai, perangkat itu juga dapat berubah menjadi pintu masuk bagi penyerang.
Pemerintah Amerika sebenarnya telah memperingatkan risiko tersebut jauh sebelum gelombang terbaru muncul. CISA bersama FBI, NSA, Departemen Energi, Environmental Protection Agency, dan US Cyber Command pada April 2026 mengingatkan adanya aktivitas aktor siber yang berafiliasi dengan Iran terhadap perangkat kontrol industri yang terhubung ke internet.
Peringatan itu menyebut sektor air, fasilitas publik, dan energi sebagai beberapa sasaran yang perlu meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah AS kemudian kembali memperbarui imbauannya pada Juli setelah aktivitas terhadap perangkat-perangkat tersebut dinilai terus berkembang.
Artinya, ancaman yang sekarang muncul bukan sepenuhnya fenomena baru akibat serangan militer Amerika pada September. Perangkat infrastruktur AS telah menjadi sasaran pengintaian dan percobaan penetrasi selama berbulan-bulan sebelum eskalasi terbaru pecah.
Lebih dari 100 Sistem Air Dibidik
Salah satu sektor yang paling banyak mendapatkan perhatian adalah sistem air dan pengolahan limbah. CISA pada akhir Agustus mengungkap lebih dari 100 sistem yang terhubung ke internet di sektor tersebut menjadi sasaran aktivitas siber berbahaya sepanjang Juli.
Banyak perangkat yang disasar merupakan PLC yang tersambung melalui modem seluler atau koneksi internet langsung. Kondisi tersebut membuat operator dapat mengelola sistem dari jarak jauh, tetapi sekaligus memperbesar permukaan serangan bagi peretas.
Gelombang serangan tersebut dilaporkan menyasar fasilitas di berbagai negara bagian Amerika. Minnesota menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian setelah puluhan sistem air lokal dilaporkan menjadi target dalam periode yang berdekatan.
Pemerintah AS belum secara terbuka menyatakan bahwa seluruh serangan terhadap sektor air tersebut diperintahkan langsung oleh pemerintah Iran. Namun sejumlah laporan media Amerika menyebut badan intelijen AS mencurigai aktor Iran berada di balik sebagian aktivitas itu.

5 hours ago
2

















































