REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polemik menjelang peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001 di New York semakin memanas. Wali Kota New York City Zohran Mamdani memastikan tetap akan menghadiri upacara utama di Ground Zero pada Jumat (11/9/2026), meski muncul desakan dari sebagian keluarga korban dan sejumlah tokoh politik agar dirinya tidak hadir.
Tekanan terbaru datang dari mantan Wali Kota New York Rudy Giuliani, tokoh yang memimpin kota tersebut ketika dua pesawat menabrak World Trade Center pada 11 September 2001. Giuliani secara terbuka meminta Mamdani melewatkan upacara peringatan tahun ini. Mantan Gubernur New York George Pataki juga sebelumnya menyuarakan penolakan terhadap kehadiran Mamdani.
Namun Mamdani tidak bergeming. Ia menegaskan akan berada bersama keluarga korban, penyintas, dan petugas pertolongan pertama ketika New York memperingati seperempat abad tragedi tersebut. Mamdani juga menekankan kecintaannya kepada New York dan Amerika Serikat serta meminta agar pusat perhatian tetap diberikan kepada mereka yang kehilangan anggota keluarga dan orang-orang yang mempertaruhkan hidup untuk menyelamatkan warga pada 2001.
Perdebatan mengenai kehadiran Mamdani sebenarnya telah berlangsung selama beberapa pekan. Sebuah petisi yang diprakarsai sejumlah keluarga korban 9/11 meminta penyelenggara mempertimbangkan kembali keterlibatannya dalam upacara. Menjelang awal September, jumlah tanda tangan petisi tersebut telah melampaui 98 ribu dari masyarakat umum.
Kini, hanya beberapa hari menjelang upacara utama, kontroversi tersebut memperoleh bahan bakar baru. Persoalannya datang dari sebuah benda yang secara fisik kecil, tetapi memiliki muatan simbolik besar: pena yang digunakan Mamdani untuk menandatangani perintah eksekutif terkait 9/11.
Pena yang Memicu Polemik
Pada Jumat (4/9/2026), Mamdani mengumpulkan sejumlah pejabat tinggi New York di City Hall. Di antara mereka terdapat Komisaris Kepolisian New York Jessica Tisch, pejabat Pemadam Kebakaran New York (FDNY), pejabat manajemen kedaruratan, serta Chief Counsel atau penasihat hukum utama wali kota Ramzi Kassem.
Mamdani kemudian menandatangani dua perintah eksekutif menjelang peringatan 25 tahun 9/11. Perintah pertama menetapkan 11 September setiap tahun sebagai Citywide Day of Remembrance and Service atau Hari Peringatan dan Pengabdian di seluruh New York City. Perintah itu mengarahkan pemerintah kota untuk mengadakan saat mengheningkan cipta, kegiatan peringatan, program pendidikan serta kegiatan pelayanan masyarakat.
Perintah kedua memperbarui perencanaan keberlangsungan operasi pemerintah New York untuk pertama kalinya sejak 2007. Kebijakan tersebut juga membentuk tim lintas lembaga untuk memastikan layanan penting pemerintah tetap berjalan ketika kota menghadapi serangan, bencana atau kondisi darurat lainnya.
Polemik pecah setelah prosesi penandatanganan selesai. Menurut laporan Fox News dan New York Post, Mamdani memberikan pena yang digunakannya kepada Komisaris NYPD Jessica Tisch dan meminta Tisch meneruskannya kepada Kassem. Foto dari NYC Office of the Mayor memperlihatkan Tisch kemudian menyerahkan pena tersebut kepada penasihat hukum utama wali kota itu.
Bagi pemerintah kota, Kassem bukan orang asing dalam penyusunan kebijakan tersebut. Sebagai chief counsel, dia dan tim hukumnya ikut terlibat dalam proses penyusunan dua perintah eksekutif yang baru saja ditandatangani.
Namun bagi para pengkritik Mamdani, riwayat profesional Kassem membuat pemberian pena itu memiliki simbolisme yang problematik. Kassem pernah menjadi pengacara Ahmed al-Darbi, seorang warga Arab Saudi yang ditahan di Guantanamo Bay dan kemudian mengaku bersalah atas sejumlah dakwaan kejahatan perang berkaitan dengan rencana serangan Al-Qaeda terhadap kapal komersial.
Sejumlah politikus Partai Republik kemudian mengecam keputusan tersebut sebagai tidak sensitif terhadap keluarga korban 9/11. Kritik itu dengan cepat menyebar di media sosial dan media konservatif Amerika. Tetapi hubungan antara Kassem, al-Darbi dan serangan 9/11 membutuhkan penjelasan lebih jauh.
Siapa Ramzi Kassem?
Kassem bukan orang yang pernah didakwa atau dinyatakan terlibat dalam serangan 11 September. Ia adalah seorang pengacara dan akademisi hukum yang dalam kapasitas profesionalnya pernah mewakili sejumlah tahanan Guantanamo.
Profil City University of New York (CUNY) menyebut Kassem sebagai profesor hukum dan pendiri CLEAR Clinic. Bidang pekerjaannya mencakup hak konstitusional, keamanan nasional, imigrasi, penahanan masa perang dan perkara kejahatan perang. Ia juga pernah bekerja sebagai Senior Policy Advisor di Gedung Putih pada 2022 hingga 2024.
Kassem pernah beracara di Mahkamah Agung AS, pengadilan federal, pengadilan imigrasi, hingga Military Commission di Guantanamo Bay.

6 hours ago
6

















































