Duel Kizilelma Turki vs MQ-28A Ghost Bat Australia: Mana yang Lebih Mematikan?

9 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perang udara sedang memasuki babak baru. Jet tempur berawak seperti F-35, Rafale, F-16, Su-35, dan J-20 belum akan segera hilang dari langit. Namun, masa depan pertempuran udara tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh pilot di kokpit. Dua proyek drone tempur kini memperlihatkan arah baru itu: Bayraktar Kizilelma dari Turki dan MQ-28A Ghost Bat dari Australia.

Keduanya sama-sama bermesin jet, sama-sama dirancang untuk terbang bersama pesawat berawak, dan sama-sama menjadi simbol ambisi industri pertahanan nasional. Namun, keduanya lahir dari logika strategis yang berbeda. Kizilelma adalah lompatan Turki menuju pesawat tempur nirawak yang dapat menyerang sasaran udara dan darat. Ghost Bat adalah upaya Australia membangun collaborative combat aircraft, yakni drone pendamping jet tempur berawak untuk memperbesar daya gentar tanpa menambah risiko bagi pilot manusia.

Perbandingan keduanya menarik karena tidak sekadar membandingkan spesifikasi. Ini adalah duel dua gagasan. Turki ingin menunjukkan bahwa negara non-Barat arus utama bisa membangun pesawat tempur nirawak dengan radar, rudal, dan kemampuan tempur udara sendiri. Australia, bersama Boeing, ingin membangun jaringan tempur udara cerdas yang menggabungkan manusia, sensor, kecerdasan buatan, dan pesawat nirawak dalam satu sistem.

Kizilelma: Ambisi Turki Menjadi “Pembuat Permainan”

Bayraktar Kizilelma dikembangkan oleh Baykar, perusahaan pertahanan swasta Turki yang namanya melejit setelah keberhasilan Bayraktar TB2 di berbagai medan konflik, termasuk Ukraina, Azerbaijan, Libya, dan Afrika Utara. Jika TB2 adalah drone propeller yang dikenal sebagai platform serang murah dan efektif, Kizilelma adalah kelas yang jauh lebih ambisius: pesawat tempur nirawak bermesin turbofan.

Baykar menggambarkan Kizilelma sebagai unmanned fighter aircraft. Ia memiliki desain berjejak radar rendah, kemampuan manuver tinggi, serta dirancang membawa rudal udara-ke-udara, munisi berpemandu, rudal jelajah, dan berbagai sensor modern seperti AESA radar, electro-optical targeting system, dan infrared search and track. Data Baykar menyebut Kizilelma memiliki radius tempur 500 nautical miles, payload 1,5 ton, maximum take-off weight 8,5 ton, kecepatan jelajah Mach 0,6, kecepatan maksimum Mach 0,9, endurance lebih dari tiga jam, dan plafon layanan 45 ribu kaki.

Kronologi pengembangannya sangat cepat. Baykar menyebut proyek Kizilelma dimulai pada 2021 dengan modal sendiri. Prototipe pertama keluar dari lini produksi pada 14 November 2022. Hanya sebulan kemudian, pada Rabu, 14 Desember 2022, Kizilelma melakukan penerbangan perdana dari pusat uji terbang Akıncı di Çorlu, Tekirdağ.

Reuters, dalam laporannya menyebut Kizilelma sebagai drone tempur jet sepanjang sekitar 15 meter yang dirancang untuk bergerak dari drone serang lambat menuju platform otonom cepat dan lincah yang bekerja bersama jet tempur. Dalam laporan itu, Selçuk Bayraktar, Chairman dan Chief Technology Officer Baykar, mengatakan Kizilelma “designed to be a highly autonomous” air-to-air combat vehicle, dengan tetap berada di bawah pengawasan manusia. Ia juga menyebut Kizilelma sebagai “a whole new future for combat aviation.”

Kalimat itu penting karena menunjukkan cara Baykar memandang Kizilelma. Ini bukan sekadar drone tambahan. Bagi Turki, Kizilelma adalah simbol bahwa negara itu tidak lagi ingin hanya menjadi pembeli sistem tempur asing. Bayraktar bahkan menyebut produk itu sebagai tempat Turki “tell the world” bahwa negaranya bukan hanya pemain, melainkan juga pembuat permainan.

Ghost Bat: Cara Australia Memperbesar Kekuatan Tanpa Menambah Pilot

Jika Kizilelma lahir dari ambisi Turki membangun pesawat tempur nirawak nasional, MQ-28A Ghost Bat lahir dari kebutuhan Australia menghadapi kawasan Indo-Pasifik yang semakin keras. Australia memiliki wilayah udara dan maritim sangat luas, tetapi jumlah pesawat tempur dan pilotnya terbatas. Maka, solusinya bukan semata membeli lebih banyak jet berawak, melainkan membangun drone pendamping yang bisa memperluas jangkauan sensor, menambah massa tempur, dan mengurangi risiko bagi pilot.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |