Forgotten Gaza dan Teater Epik Israel-Iran

8 hours ago 10

Oleh: Ahmad Dumyathi Bashori, Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta, Penggiat Forum for Strategic and Future Studies (FSFS)-Depok

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dunia hari ini sedang menyaksikan sebuah ironi kemanusiaan paling kelam di abad ke-21. Ketika perhatian para pemimpin global dan media arus utama terhipnotis oleh teater epik konfrontasi rudal dan drone antara Israel dan Iran, sebuah tragedi kemanusiaan yang jauh lebih mengerikan sengaja dibiarkan berlangsung dalam senyap.

Gaza, sebidang tanah sempit di pesisir Mediterania, perlahan-lahan sedang dihapus dari peta kehidupan oleh mesin perang zionis Israel. Eskalasi regional dengan Iran nyatanya telah menjadi "berkah politik" bagi Tel Aviv untuk mengalihkan sorotan internasional, sekaligus melanjutkan pembersihan etnis dan penghancuran sistemik di Gaza tanpa intervensi berarti dari komunitas global. Dunia seolah impoten, berdiri diam menyaksikan kejahatan kemanusiaan terbesar di era modern.

Mengangkat fakta dari reruntuhan Gaza bukan lagi sekadar perkara bernarasi, melainkan kewajiban moral untuk mengungkap kekejaman riil di lapangan. Berdasarkan data pemantauan satelit UNOSAT dan laporan badan kemanusiaan PBB, skala kehancuran fisik di Gaza telah mencapai tahap dystopia nyata. Antara 70% hingga 80% seluruh bangunan rumah tinggal, rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur jalan di Gaza telah hancur total atau rusak berat.

Gaza kini praktis berubah menjadi bentang alam puing-puing (rubble-scape). Lebih dari 85% fasilitas pendidikan tidak lagi dapat digunakan, dan kurang dari 10 dari 36 rumah sakit yang tersisa itu pun hanya beroperasi sebagian kecil tanpa pasokan listrik dan obat-obatan yang memadai.

Tragedi kemanusiaan ini semakin memilukan jika kita menakar angka kematian dan dampak sosial-demografinya. Korban jiwa warga sipil Gaza telah melampaui 42.000 hingga 45.000 jiwa, di mana lebih dari 60% di antaranya adalah anak-anak dan kaum perempuan.

Struktur sosial masyarakat Gaza dihancurkan dari akarnya: kini diperkirakan ada lebih dari 25.000 anak yang kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya, melahirkan istilah medis baru di PBB, yaitu WCNSF (Wounded Child No Surviving Family)—anak terluka tanpa ada anggota keluarga yang tersisa untuk merawatnya. Selain itu, lebih dari 1,9 juta warga (90% populasi Gaza) dipaksa menjadi pengungsi internal (internally displaced persons), hidup berjejal di tenda-tenda plastik tanpa akses air bersih dan sanitasi.

Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan ekstrem dari negara-negara tetangga di sekitar kawasan. Mesir, Yordania, dan beberapa negara Arab di sekelilingnya berada dalam jepitan dilema geopolitik dan tekanan ekonomi yang hebat. Di satu sisi, faksi perlawanan dari Lebanon (Hizbullah) dan Yaman (Houthi) turut meluncurkan roket untuk mengganggu konsentrasi militer Israel, namun aksi militer regional ini justru sering kali memicu serangan balasan yang meluas tanpa mampu menghentikan genosida di dalam Gaza sendiri.

Sementara itu, negara tetangga pemilik perbatasan darat seperti Mesir menghadapi dilema keamanan dan stabilitas domestik akut; mereka menolak membuka perbatasan untuk pengungsian massal demi mencegah skenario Nakba kedua—yakni pengusiran permanen warga Palestina dari tanah air mereka oleh Israel. Akibatnya, jutaan nyawa di Gaza terperangkap di dalam sebuah "penjara terbuka" raksasa, tanpa memiliki jalur penyelamatan diri ke luar.

Ketidakberdayaan regional ini berujung pada pemandangan paling biadab di pintu gerbang perbatasan, khususnya di pos Rafah dan Kerem Shalom. Data dari UNRWA dan Bulan Sabit Merah menunjukkan adanya ribuan truk bantuan kemanusiaan internasional—yang membawa makanan, susu bayi, obat-obatan darurat, hingga pemurni air—terlantar membentuk antrean panjang hingga berkilo-kilometer di wilayah Sinai, Mesir. Otoritas Israel secara sengaja menerapkan birokrasi pemeriksaan yang sangat ketat, sewenang-wenang, dan berlapis-lapis.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |