KAI Transformasi Bisnis, Targetkan 1,4 Miliar Pelanggan per Tahun pada 2045

9 hours ago 14

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mendorong transformasi bisnis untuk memperluas sumber pertumbuhan perusahaan hingga 2045. Transformasi tersebut diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan kinerja bisnis transportasi, tetapi juga mengoptimalkan aset, teknologi, serta kapabilitas perusahaan.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, pertumbuhan KAI ke depan perlu dibangun dengan memperluas sumber nilai perusahaan. Menurut dia, skala bisnis KAI yang semakin besar membuka peluang untuk mengembangkan berbagai sumber pertumbuhan baru.

Hal tersebut disampaikan Bobby dalam SBM ITB Industrial Summit 2026 di Hotel AYANA Midplaza Jakarta, Rabu (19/8/2026). Dalam forum yang diselenggarakan School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) bekerja sama dengan Adam Smith Business School, University of Glasgow tersebut, Bobby menjadi pembicara dalam Parallel Session – Transportation Sector.

Dalam paparannya bertajuk “Growth Beyond the Limits: Transforming Railways for Indonesia’s Economic Future”, Bobby menyampaikan KAI Group mencatat volume 503,5 juta pelanggan sepanjang 2025. Jumlah tersebut meningkat 8,52 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 464 juta pelanggan.

Selain volume pelanggan yang besar, KAI juga mencatat sekitar 2,8 juta interaksi pelanggan setiap hari. Menurut Bobby, skala tersebut menjadi modal penting bagi perusahaan untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru.

“Skala KAI sudah sangat besar. Tantangan sekaligus peluang berikutnya adalah meningkatkan kontribusi aset, teknologi, keahlian, dan basis pelanggan sebagai sumber pertumbuhan baru yang memberi nilai lebih besar bagi perusahaan dan perekonomian,” ujar Bobby.

Bobby menjelaskan, saat ini sekitar 94 persen pendapatan KAI masih berasal dari bisnis transportasi. Sementara itu, kontribusi bisnis non-farebox baru berada di kisaran 6 persen.

Kondisi tersebut menjadi ruang bagi KAI untuk memperluas sumber pendapatan melalui empat mesin pertumbuhan, yakni aset operasional, aset berwujud, aset berbasis kapabilitas, dan aset teknologi.

KAI memiliki sekitar 327,8 juta meter persegi aset lahan perkeretaapian yang dapat dikembangkan lebih optimal. Selain itu, basis pelanggan yang besar juga memberikan peluang untuk mengembangkan berbagai layanan dan bisnis turunan.

Pengembangan tersebut antara lain dilakukan melalui optimalisasi kawasan dan properti, Transit-Oriented Development (TOD), layanan digital, maintenance, repair and overhaul (MRO), manufaktur, serta pengembangan keahlian di bidang perkeretaapian.

“Pertumbuhan ke depan harus lebih produktif. KAI perlu semakin kuat dalam operasi, semakin optimal dalam mengelola aset, dan semakin cepat memanfaatkan teknologi,” kata Bobby.

Transformasi bisnis KAI tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Menurut Bobby, penguatan peran perkeretaapian juga penting untuk meningkatkan efisiensi transportasi dan logistik nasional.

Peningkatan penggunaan kereta api untuk mobilitas orang dan barang dinilai dapat membantu memperkuat daya saing industri Indonesia. Transportasi yang semakin efisien akan mendukung pergerakan manusia, barang, serta aktivitas ekonomi antardaerah.

Di sisi lain, KAI mulai mendorong pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas operasi. Teknologi juga diarahkan untuk membantu perusahaan mengoptimalkan kapasitas jaringan perkeretaapian yang tersedia.

Dalam peta jalan menuju 2045, KAI menargetkan volume pelanggan mencapai sekitar 1,4 miliar pelanggan per tahun. Pada periode yang sama, perusahaan juga menargetkan kontribusi bisnis non-farebox meningkat menjadi sekitar 20–25 persen.

Target tersebut mencerminkan upaya KAI untuk mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari bisnis transportasi sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru melalui diversifikasi bisnis.

“Kita perlu bergerak dari menunggu permintaan menjadi menciptakan peluang. Industri yang maju membangun kesempatan, lalu pertumbuhan mengikuti,” ujar Bobby.

Bobby menegaskan, transformasi menuju 2045 membutuhkan kemampuan perusahaan dalam membaca perubahan dan mengembangkan sumber pertumbuhan secara berkelanjutan. Upaya tersebut juga membutuhkan kolaborasi antara KAI dengan pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat.

Menurut dia, kolaborasi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem perkeretaapian yang mampu menjawab kebutuhan mobilitas dan perkembangan ekonomi Indonesia.

“Menuju 2045, KAI menargetkan posisi sebagai world-class railway operator. Untuk mencapainya, kami harus memperkuat produktivitas, memperluas sumber pertumbuhan, dan memastikan perkeretaapian memberi kontribusi yang semakin besar terhadap konektivitas serta daya saing Indonesia,” tutup Bobby.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |