REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengingatkan orang tua agar tidak membiarkan handphone mengambil alih peran keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Menurutnya, minimnya komunikasi antara orang tua dan anak berpotensi membuat gawai menjadi 'orang tua baru' yang membentuk pola pikir dan perilaku generasi muda saat ini.
Wihaji menyoroti fenomena meningkatnya gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja yang salah satunya dipengaruhi berkurangnya interaksi langsung dengan orang tua.
"Hari ini ada keluarga baru kita yang 8 sampai 10 jam mendampingi anak-anak kita. Sementara kita sebagai orang tua, bapak-bapak ini ngobrol sama anak maksimal hanya 5 sampai 10 menit per hari. Hanya tanya sudah makan belum, sudah shalat belum, PR-nya ada tidak," ujar Wihaji saat menghadiri diskusi bersama komunitas ayah di Kompleks Balai Kota Yogyakarta dalam rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, kehadiran gawai yang hampir tidak pernah lepas dari keseharian anak membuat pengaruh media sosial dan algoritma digital semakin besar dalam membentuk karakter mereka. Ia bahkan menyebut, kondisi tersebut terjadi hampir di semua lapisan masyarakat, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Wihaji tak menepis, kebiasaan berkumpul dan bercengkerama dalam keluarga perlahan tergeser. Perubahan pola interaksi dalam keluarga ini terlihat sangat jelas.
Jika dulu anggota keluarga bisa menghabiskan waktu bersama untuk berbincang, kini banyak keluarga yang secara fisik berkumpul tetapi tidak benar-benar berinteraksi karena masing-masing dengan handphonenya.
Sekarang makan bersama, tetapi bapak, ibu, dan anak pegang handphone sendiri-sendiri. Padahal, kata dia, dulu orang bisa ngobrol lama saat berkumpul bersama keluarga.
Kalau tidak hati-hati handphone menjadi bapak-bapaknya anak kita. Tidak hanya bapak, bapak ibunya anak kita. Dan otaknya, algoritmanya sekarang dipengaruhi oleh 'orang tua baru', 'keluarga baru' yang namanya handphone.
‘’Apakah media sosial maupun lain-lain yang ada di gadget. Orang desa, orang kota, saiki kabeh nyekel handphone, semuanya. Dan itu kita watawa saubil haq, watawa saubil sabr bahasanya," ucapnya.
Karena itu, Wihaji mengajak para ayah meluangkan waktu setiap hari berbicara dengan anak-anak mereka. Ia menegaskan dirinya tidak anti terhadap perkembangan teknologi, namun penggunaan gawai harus tetap diimbangi dengan kehadiran orang tua. "Ayo sempatkan ngobrol sama anak," ajaknya.
25 Persen Anak Alami Fatherless
Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Harganas 2026 tersebut juga menjadi momentum mengingatkan pentingnya peran ayah dalam keluarga.
Wihaji mengungkapkan sekitar 25 persen anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless atau kehilangan figur ayah dalam kehidupan sehari-hari meski ayahnya masih ada secara fisik.
"Anak kita 25 persen mengalami fatherless atau kehilangan sosok ayah. Karena itu kami terus mengingatkan melalui berbagai program, termasuk Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR), agar ayah tidak hanya hadir secara ekonomi, tetapi juga memahami kondisi psikologis anak," katanya.
Menurut Wihaji, Yogyakarta dipilih menjadi salah satu lokasi kampanye karena dinilai sebagai miniatur Indonesia yang sangat plural dan memiliki tantangan sosial yang beragam. Ia berharap dari Kota Gudeg tersebut, dapat lahir gerakan bersama untuk memperkuat ketahanan keluarga dan kesehatan mental generasi muda.
"Saya sampaikan di awal tadi Jogja ini plural sekali Kemudian seperti Indonesia mini Karena memang semua daerah ada di sini seperti kota pelajar, semua agama ada di sini. Dan tentu ini pembelajaran yang luar biasa bagaimana kita memberikan contoh yang baik, termasuk penanganan mental. Harus diakui bahwa problem ini sangat serius," ucap Wihaji.
Karena itu, ia mengajak hal itu terus dikampanyekan dan Yogyakarta ia nilai titik 0 untuk kembali mengampanyekan tentang bagaimana kesehatan mental itu sangat penting.’’ Tentu kita tidak kapok, tidak lelah untuk terus mengedukasi bahwa anak-anak kita ayo diajak ngobrol, ayo diajak diskusi," ucapnya menambahkan.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo memastikan pihaknya siap menindaklanjuti arahan pemerintah pusat, dalam memperkuat ketahanan keluarga, termasuk memperkuat sistem deteksi dini gangguan kesehatan mental generasi muda.
Ia menilai tantangan yang dihadapi Yogyakarta cukup kompleks karena tingginya keberagaman masyarakat yang tinggal dan belajar di kota tersebut.
Hasto mengatakan, salah satu langkah yang akan terus diperkuat adalah sistem deteksi dini gangguan kesehatan mental melalui sekolah, puskesmas hingga rumah sakit.
"Arahan dari Pak Menteri, saya kira kami akan tindak lanjuti termasuk misalkan Yogja ya sedikit banyak bisa menjadi contoh sistem screening untuk mental disorder dari sekolah, yang kemudian rujukan berjenjang Ke puskesmas kemudian ke rumah sakit," kata Hasto.
Hasto juga menyampaikan pesan kepada para orang tua untuk mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman agar dapat membangun kedekatan dengan anak-anak mereka. Menurutnya, komunikasi yang baik menjadi kunci dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di lingkungan keluarga maupun sekolah.
"Memang mendidik anak menurut nasihat ulama, didiklah anakmu sesuai zamannya karena dia tidak dilahirkan di zamanmu. Sehingga kita sebagai orang tua harus mendowngrade diri, saya bisa tidur di kamar anak saya, saya bisa gojek-gojek (bercanda) dengan anak saya. Kalau anak main gitar, bisa membersamai. Harus mendowngrade diri," ujarnya.

5 hours ago
13











































